Rabu, 24 Maret 2010

Konsep Muslim tentang Tuhan

Kemahakuasaan Tuhan disebutkan dibanyak ayat Quran; Kehendak manusia total ditempatkan dibawah kehendak Tuhan yang berkembang menjadi pemikiran bahwa manusia tidak punya kehendak sendiri. Bahkan mereka yang tidak percaya Tuhanpun menjadi begitu karena Tuhanlah yang ingin membuat mereka tidak percaya. Ini berujung pada doktrin takdir dari Muslim yang mengalahkan doktrin ‘free will’-nya manusia, dalam konsep Kristen. Dalam Quran juga ditemukan, seperti Macdonald[36] nyatakan:

“Pernyataan-pernyataan kontradiksi dari Quran mengenai ‘free-will’ (Kehendak Bebas) dan Takdir menunjukkan bahwa Muhammad adalah seorang pengkhotbah dan politisi oportunis, bukannya seorang teolog yang sistematis.” “Takdir, atau kehendak mutlak akan baik dan jahat adalah pilar ke-6 dari dalilnya Muhammad, dan kaum ortodoks percaya apapun itu, apapun yang terjadi didunia ini, baik atau buruk, berlangsung sepenuhnya atas kehendak Yang Maha Kuasa, itu telah pasti, tidak bisa diubah-ubah lagi, dan tercatat dalam ‘buku’ surga yang ditulis memakai tinta nasib.”

Beberapa kutipan dari Quran menggambarkan doktrin ini:
[54.49] Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
[3.145] Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Auwloh, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.
[87.2] yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), [87.3] dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
[8.17] Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Auwloh-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Auwloh-lah yang melempar.

[9.51] Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Auwloh bagi kami.
[13.31] Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Auwloh. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Auwloh menghendaki (semua manusia beriman), tentu Auwloh memberi petunjuk kepada manusia semuanya.
[14.4] Maka Auwloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
[18.101] yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.
[11.119] Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Auwloh menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.
[45.26] Katakanlah: "Auwloh-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya;
[57.22] Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya.
Tapi ada beberapa ayat dari Quran yang kelihatannya memberi manusia semacam ‘free-will’:
[41.17] Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

18.29] Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".
Tapi seperti Wensinck[37] nyatakan dalam karya klasiknya The Muslim Creed, dalam Islam takdirlah yang mendominasi sepenuhnya. Tidak ada satu hadispun yang menerangkan mengenai ‘free-will’, dan kita punya bukti-bukti lain dari pernyataan John of Damascus, orang yang hidup dipertengahan abad 8 M. dan seorang yang sangat mengenal Islam dari dekat secara langsung. “Menurut dia perbedaan tentang takdir dan free will menjadi satu Titik Pusat perbedaan antara Kristen dan islam.” Terbukti di penghujung hidup Muhammad, posisinya akan kepercayaan takdir itu makin menguat; dan “sikap para muslim awal akan subjek ini adalah mutlak.”

Sebelum berkomentar tentang doktrin takdir, saya harus menelaah dulu konsep Quran akan neraka. Beberapa kata dipakai dalam Quran untuk menerangkan tempat Penyiksaan, yang sepertinya dengan senang hati telah disiapkan dan selalu disebut-sebut oleh Auwloh. Kata “Jahanam” muncul sedikitnya 30 kali, jahanam ini adalah neraka bagi semua muslim untuk menyucikan dosanya. Menurut Quran, semua muslim akan masuk neraka: (surah 19.71) “Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” Kata “al-nar” yang artinya api muncul beberapa kali. Istilah lain dari neraka atau api neraka adalah: Laza (nyala api): [88.4] “memasuki api yang sangat panas (neraka)” Al-Hutamah (penghancur) : [104.4] “sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Auwloh yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.” Sair (nyala api) : Mereka yang mengambil harta milik anak yatim secara tidak adil, akan dimasukkan kedalam nyala api dan dipanggang dalam nyala api. (ancaman melanggar hukum waris 4.11) Saqar: [54.47] “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” Al-Jahim (tempat Panas) dan Hawiyah juga muncul di surah 2 dan 101. Muhammad benar-benar meliarkan imajinasi terbatasnya ketika menjelaskan hal mengerikan dan siksaan neraka secara terperinci: air mendidih, luka bernanah, kulit yang dikupas, daging terbakar, isi perut yang terhambur dan tengkorak yang dihancurkan memakai gada besi. Dan ayat demi ayat, surah demi surah, kita diberitahu tentang api, selalu tentang api yang menyala-nyala membakar, api abadi. Dari surah 9.69 jelas bahwa orang-orang tidak percaya (kafir) akan dipanggang selama-lamanya.

Apa yang bisa kita simpulkan dari nilai-nilai sistem demikian? Mill[38] menyatakan, suatu hal yang sungguh-sungguh jijik dan jahat untuk berpikiran bahwa Tuhan sengaja menciptakan manusia utk mengisi neraka, manusia yang dalam hal apapun tidak bisa dianggap bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya karena Tuhan sendiri yang memilihkan jalan bagi mereka untuk sesat: “diakuinya sebuah objek penyembahan sebagai sebuah pencipta neraka, yang membuat banyak generasi-generasi manusia hidup dengan kepastian bahwa mereka diciptakan untuk mengisi neraka… Konsep-konsep lain, mulai dari maha adil dan maha pengampun yang ada dalam konsep KeKristenan tentang moral Tuhan menjadi tak berarti jika disandingkan dengan idealisasi jahat ini.” Tentu saja, kata-kata Mill ini menerapkan pengubahan dalam konsep muslim juga atau pada tuhan mana saja yang berkonsepkan takdir yang sama.

Kita tidak bisa menyebut sistem demikian sebagai sebuah sistem yang etis. Pusat dari semua sistem valid yang etis adalah adanya tanggung jawab moral, moral yang bisa secara sah dianggap bertanggung jawab akan tindakan-tindakannya; yang mampu berpikir rasional, yang mampu mempertimbangkan, menunjukkan kesengajaan, mampu memilih dan, dalam beberapa hal, bebas untuk memilih. Dalam sistem takdirnya Quran, “manusia” tidak lebih dari sebuah robot yang diciptakan oleh Tuhan, Tuhan, yang punya sifat tak bisa ditebak tindakannya karena berubah-ubah, memuaskan dirinya dengan menonton ciptaannya dibakar di neraka. Kita tidak bisa disalahkan atau dibenarkan begitu saja dalam sistem Quran ini; manusia tidak bertanggung jawab atas tindakantindakannya, dengan demikian akan sangat absurd untuk menghukum dengan cara sadis seperti yang disebutkan dalam surah-surah Quran.

Bousquet[39] memulai karya klasiknya, yang menuliskan pendapat islam mengenai sex, dengan pernyataan blak-blakan: “Tidak ada etika dalam Islam.” Muslim diperintahkan begitu saja untuk patuh akan kehendak Auwloh, kehendak yang tak dapat diduga: Baik dan Jahat ditentukan oleh Quran, dan kemudian, hukum Islam menetapkan apa yang boleh dan apa yang dilarang. Pertanyaan yang diajukan Socrates dalam Euthyphro, “Yang suci itu lalu dicintai Tuhan karena kesuciannya, atau menjadi suci karena dicintai oleh Tuhan?” menerima jawaban yang sangat pasti dari muslim ortodoks: “sesuatu itu baik jika Tuhan menghendakinya sebagai baik.” Tapi Plato menganggap ini bukan jawaban yang memuaskan. Mackie[40] menyatakannya demikian (n.d., hal 256): “Jika nilai-nilai moral dibentuk sepenuhnya oleh perintah-perintah surgawi hingga kebaikan hanya terdiri atas kehendak Tuhan belaka, maka kita tidak akan bisa mengerti klaim para Teisme bahwa Tuhan itu baik, bahwa dia mencari kebaikan dalam setiap penciptaannya.” Dalam karya awalnya (1977, hal 230), Mackie[41] mengamati bahwa pendapat muslim punya konsekwensinya:

Deskripsi tentang ‘Tuhan itu Baik’ akan mengalami penurunan terhadap pernyataan sepele yang menyatakan bahwa Tuhan mencintai DiriNya sendiri atau Tuhan suka Dirinya apa adaNya. Ini juga rasanya seperti menuntut bahwa kepatuhan akan aturan-aturan moral semata- mata hanya berupa tindakan untuk berhati-hati belaka meski cocok terhadap tuntutan sewenang-wenang dari tiran yang berubah-ubah pikiran itu. Sadar akan ini banyak pemikir religius memilih alternatif pertama (yakni “orang saleh atau suci dicintai tuhan karena kesuciannya”). Tapi ini juga mengandung konsekwensi yang sama bahwa perbedaan moral tidaklah tergantung pada Tuhan,… dengan demikian etika itu bersifat otonomi dan dapat dipelajari serta didiskusikan tanpa mengacu pada referensi kepercayaan religius, bahwa kita bisa sungguh-sungguh menutup batas teologi dari etika.

Layak utk ditegaskan kemandirian logis nilai-nilai moral dari sistem teistik manapun. Russel[42] memformulasikan pendapat ini sebagai berikut:
Jika anda yakin ada perbedaan antara benar dan salah, maka anda ada dalam situasi ini: apakah perbedaan itu disebabkan oleh otorisasi Tuhan atau bukan? Jika ya, maka bagi Tuhan sendiri tidak ada perbedaan antara benar dan salah, dan tidak lagi berarti menyatakan bahwa Tuhan itu Baik. Jika anda mengatakan, seperti para teolog lakukan, bahwa Tuhan itu Baik, maka anda harus mengatakan bahwa benar dan salah punya arti yang mandiri/terbebas dari otorisasi Tuhan, karena otorisasi Tuhan adalah baik dan bukan jelek karena semata- mata Tuhan yang menciptakannya. Jika anda bilang demikian, maka anda harus berkata bahwa bukan hanya melalui tuhan, benar dan salah itu mewujud tapi karena semua itu secara logis ada dalam intisari yang lebih dahulu ada pada Tuhan. (n.d., hal 19).

Kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab moral kita yang dihasilkan dari pengertian akan ketidak tergantungan moral kita tersebut. Tidak juga kita bisa menghormati konsep neraka sebagai hal yang terpuji secara etika. Semuanya kecuali dua surah (fatihah dan surah 9) memberitahu kita bahwa Tuhan itu pemurah dan penyayang, tapi dapatkah Tuhan yang sungguh-sungguh pemurah memasukan orang ke neraka atau disiksa selamanya hanya karena tidak percaya padaNya? Seperti kata Russel, “Sungguh saya tidak bisa berpikir bahwa seseorang yang bersifat Maha Baik akan menaruh rasa takut dan teror macam itu pada dunia.”

Antony Flew[43] berkata bahwa ada banyak sekali perbedaan antara ‘ketersinggungan terbatas’ dan ‘hukuman tak terbatas’. Doktrin Quran akan neraka sungguh-sungguh siksaan barbar dan kejam, sangsi yg benar-benar sadis. Ini berarti Islam didasarkan atas rasa takut, yang merusak moralitas sejati. ("Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". Dengan kata lain Takutlah kepadaKu, Surah 16.2). Seperti kata Gibb, “Orang harus hidup terus menerus dalam rasa takut dan terpesona pada Tuhan, selalu berjaga-jaga dan waspada terhadapNya – ini adalah arti idiomatis dari istilah “takut akan Tuhan” yang terus didengungkan Quran dari halaman pertama hingga akhir” (1953, hal.3#).[44] Bukannya bertindak berdasarkan kewajiban bagi sesama manusia, atau berdasarkan kemurahan hati atau perasaan empati dan/atau simpati, dalam Islam kita berbuat karena rasa takut, kita berbuat agar terhindar dari hukuman Yang Maha Kuasa dan, egoisnya, utk mendapat pahala dari Tuhan dalam hidup yang sekarang dan yang berikutnya. Mackie[45] (hal.256) berpendapat dengan tepat bahwa:
Pendapat akan perintah Tuhan demikian juga bisa mendorong orang untuk menerima syarat moral yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan keberadaan umat manusia atau dengan makhluk- makhluk lainnya. Pendapat ini akan menghasilkan sebuah moralitas tirani dan tidak rasional. Tentu saja, jika hanya ada tuhan yang penuh kebaikan dan juga ada wahyu yang dapat diandalkan darinya, maka kita mungkin mampu mendapatkan darinya saran-saran moral yang hebat mengenai masalah-masalah yang sulit, hal-hal yang tidak bisa kita temukan solusi paling baiknya. Tapi tidak ada wahyu-wahyu yang demikian itu. Bahkan seorang Teisme harus mengakui bahwa wahyu- wahyu itu menolak dirinya (wahyu) itu sendiri dengan mengabadikan aturan-turan bahwa kita harus menolak dengan tuduhan sempit, kuno atau barbar. Seperti Hans Kung katakan, “Kita bertanggung jawab atas moralitas kita.” Secara lebih umum, mengaitkan moralitas pada kepercayaan religius besar kemungkinan akan menjatuhkan nilai- nilainya, bukan saja dengan merendahkan nilai-nilai itu secara sementara jika kepercayaannya memudar, tapi juga dengan menempatkannya lebih rendah dibanding kekhawatiran- kekhawatiran lain ketika kepercayaan itu bertahan.

Kelemahan Tuhan
Kita diberitahu bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Hadir dan Maha Baik; tapi Dia bertingkah seperti seorang tiran pemarah, tak mampu mengontrol sifat keras kepala akan subjeknya. Dia pemarah, berbangga diri, pencemburu: semua kekurangan/kelemahan moral herannya ada dalam makhluk Maha Sempurna. Jika Dia Merasa Cukup, kenapa butuh umat manusia? Jika dia itu Maha Kuasa, kenapa butuh pertolongan manusia utk menyembahnya? Diatas itu semua, kenapa Dia memilih seorang pedagang Arab yang tak jelas keturunannya, yang hidup dalam budaya terbelakang, sebagai Utusan Terakhirnya di bumi? Apakah konsisten bahwa moral Dzat Maha Tinggi butuh untuk dipuji dan penyembahan dari makhluk-makhluk yang Dia sendiri ciptakan? Kita sebut apa orang yang mencipta makhluk lain yang dia program untuk nungging-nungging ditanah lima kali sehari menyembah dirinya? Hasrat obsesif untuk disembah ini bukanlah sebuah kebaikan moral dan pastinya tidak pantas menjadi sifat sebuah Dzat Maha Tinggi. Palgrave[46] (Dictionary Of Islam, hal 147) memberikan penjelasan yang hidup tapi adil tentang Tuhannya Quran:
Tuhan itu satu dan Maha Kuasa serta Maha Ada, tidak batasan aturan, standar atau batasan apapun, kecuali kehendak Dia yang mutlak dan satu-satunya. Dia tidak mengkomunikasikan apapun pada makhlukNya, karena kuasa dan tindakannya punya Dia sendiri, dan sebaliknya Dia tidak menerima apapun dari mereka; karena mereka ada dalam Dia, oleh Dia dan dari Dia saja (Surah 8.17) Dan yang kedua, tidak ada superioritas, tidak ada perbedaan, tidak ada keunggulan yang boleh diakui oleh satu makhluk atas makhluk lainnya, dalam kesamaan, mereka semua menjadi alat dari satu kekuatan yang memakai mereka untuk menghancurkan atau menguntungkan, untuk kebenaran atau kesalahan, utk menghargai atau menghina, untuk kebahagiaan atau kesengsaraan, mandiri dari individualitas atau keuntungan dan ini semua ada hanya karena dia “Menghendakinya,” dan “sepanjang dia Menghendaki”.

Orang mungkin pertamanya berpikir bahwa Otokrat maha hebat ini, Kekuatan tanpa kontrol dan simpati ini, akan jauh berada diatas hal- hal seperti nafsu, hasrat atau keberpihakan. Tapi ternyata tidak begitu karena Dia punya satu perasaan dan tindakan utama yang bernama rasa cemburu akan tuhan, Ia takut jangan-jangan mereka nanti menerapkan sifat-sifat yang harusnya hanya milik Dia saja pada tuhan lain. Dengan demikian lebih mudah bagi dia untuk menghukum daripada memberi pahala, utk memberi rasa sakit daripada rasa nikmat, untuk merusak daripada membangun. Kepuasan tunggal yang membiarkan makhluk ciptaannya terus menerus merasa bahwa mereka tidak lain hanya budak-budakNya, alat-alatNya hingga mereka lebih mengakui superioritasNya, dan tahu KekuasaanNya jauh diatas kekuatan mereka yang lain, kelicikanNya jauh diatas kelicikan mereka, KehendakNya ada diatas kehendak mereka, rasa banggaNya diatas rasa bangga mereka; dengan kata lain tidak ada Kekuasaan; kelicikan, kehendak atau kebanggaan, kecuali milikNya. (Untuk kebanggaan lihat surah 59; Auwloh sebaik-baik pembalas tipu daya, 3.47; 8.30).

“Tapi Dia Sendiri, didalam ketinggianNya, tidak mencinta ataupun menikmati apapun kecuali milikNya, tak mempunyai anak, sahabat atau penasehat, tidak lebih kering daripada makhlukNya, dan kegersangan serta kesendirian ego dalam diriNya adalah penyebab dan pengatur dari keberbedaanNya tanpa memandang kelaliman sekitarnya.” Nada awal adalah kunci keseluruhan lagu, dan nada awal Tuhan mengalir dan mengubah keseluruhan sistem dan dalil yang berpusat dalam diriNya.

Gagasan yang diberikan tentang Tuhan, mungkin kedengaran dahsyat atau bisa jadi menghujat, adalah persis dan klop dengan yang Quran nyatakan atau yang Quran ingin sampaikan. Tapi memang demikianlah adanya hingga tak seorangpun yang secara teliti dan penuh perhatian membaca serta memikirkan teks-teks arabicnya dapat ragu. Malah setiap frase dari kalimat-kalimat, setiap sentuhan dalam gambaran- gambaran menjijikan, telah disarikan dengan sepenuh kemampuan saya, kata demi kata, arti demi arti, dari “Sang Kitab”, cermin sejati dari benak dan pendapat penulisnya.

Dan begitulah kenyataan yang ada dalam benak dan ide penulisnya, Muhammad, hal ini sepenuhnya dipastikan oleh lidah para saksi yang menyatakan hadis-hadisnya. Untuk ini kita punya banyak contoh otentik.. sebuah perulangan yang telah saya derita berkali-kali dalam mempelajari Wahhabi di Nejd.

“Jadi, ketika Tuhan…memutuskan untuk menciptakan ras manusia, Dia mengambil segenggam tanah, darimana semua manusia dibentuk, dan kemana mereka pergi setelah musnah; lalu membagi gumpalan tanah itu menjadi dua bagian yang sama, dia lempar yang sebagian keneraka sambil berkata, “Ini utk api neraka abadi, dan aku tak peduli’, dan merangcang yang sebagian lagi untuk penambahan penghuni surga, ‘dan ini untuk surga, aku juga tak peduli’” (Mishkatu’l- Masabih Babu’l Qadr).

Dari sini kita mendapatkan ide takdir (predestination) yang cukup, atau yang lebih tepat dinamai kutukan (predamnation) bukannya takdir, yang dipegang dan diajarkan disekolah (pesantren) Quran. Surga dan neraka sama sekali terlepas dari rasa cinta dan kebencian Tuhan, bebas dari jasa atau cela, tindakan baik dan jahat, dari makhluknya; dan dalam teori yang berkaitan karena tindakan-tindakan yang kita sebut baik atau jahat, benar atau salah, licik atau luhur, pada hakekatnya semua adalah satu, juga jasa ataupun pujian ataupun kesalahan, hukuman ataupun pahala, diputuskan oleh kehendak sang maha lalim yang memilih, mengangkat atau menjatuhan semua itu. Dengan kata lain, Dia bisa membakar satu individu sepanjang masa dirantai panas dan lautan api membara, sementara menempatkan individu lain dalam kenikmatan abadi dari rumah pelacuran dengan 72 bidadari. Semuanya itu dianggapnya adil dan sama rata demi kenikmatanNya semata dan yang terutama adalah karena Dia menghendakinya.

Manusia dengan demikian berada dalam satu level yang sama, di dunia sekarang maupun berikutnya, secara fisik, sosial dan moral – yaitu level budak/hamba bagi satu Tuan saja, alat bagi satu agen universal.

Dan Muhammad UtusanNya
Setiap agama dan bangsa menetapkan pengakuan telah membawa misi khusus dari Tuhan, mengkomunikasikannya pada individu-individu tertentu. Yahudi punya Musa; Kristen punya Yesus Kristus, para rasul dan orang-orang sucinya; dan orang Arab punya Muhammad, seakan jalan pada Tuhan tidak terbuka sama bagi setiap orang. Masing-masing membawa kitabnya sendiri-sendiri, yang mereka sebut sebagai wahyu, atau perkataan Tuhan. Orang Yahudi bilang wahyu Tuhan mereka diberikan pada Musa, secara langsung, muka bertemu muka (bukan fice to fice tapi face to face); orang Kristen bilang Wahyu mereka berasal dari tulisan yang diilhami Tuhan; dan orang Arab bilang wahyu mereka (Quran) adalah perkataan Tuhan langsung yang dibawa oleh Malaikat surga. Masing-masing menuduh yang lain ‘kafir/orang tidak percaya’; bagi aku sendiri, aku tidak percaya semuanya. - Thomas Paine, The Age of Reason.[47]

Auwloh memilih Muhammad sebagai utusan bagi seluruh umat manusia. Muhammad berbicara pada malaikat Jibril, yang secara berkala menurunkan pesan-pesan Tuhan. Bagaimana Muhammad bisa tahu bahwa dia benar-benar melihat malaikat? Darimana dia tahu pengalaman khusus ini adalah perwujudan dari malaikat? Meski misalnya kita akui kejujuran Muhammad, bukankah bisa saja dia telah salah duga? Kebanyakan orang yang mengaku punya akses pada Tuhan dijaman sekarang ini dianggap orang gila. Darimana kita tahu bahwa dalam kasus Muhammad ini dia benar-benar melihat malaikat sungguhan yang benar-benar membawa pesan-pesan dari tuhan? Seperti Paine[48] katakan (n.d., hal 52):

Tapi misalkan kita akui dulu bahwa sesuatu telah diberikan pada orang tertentu dan tidak diberikan pada orang-orang lain, sesuatu itu wahyu dan diberikan hanya pada orang itu saja. Ketika dia mengatakannya pada orang kedua, orang kedua mengatakan pada orang ketiga, ketiga ke orang keempat dan seterusnya, maka sesuatu itu bukan lagi menjadi wahyu bagi semua orang itu. Sesuatu itu berupa wahyu bagi orang pertama saja, dan menjadi cerita belaka bagi orang-orang lainnya, dan karenanya mereka tidak wajib untuk percaya.

Ini kontradiksi istilah dan ide jika menyebut sesuatu itu sebagai wahyu meski sampai pada kita dari tangan kedua, baik secara verbal maupun tertulis. Wahyu perlu dibatasi untuk komunikasi pertama saja - setelah itu hanya disebut sebagai sebuah cerita yang orang itu katakan bahwa sebuah wahyu diturunkan padanya; dan meski dia merasa wajib untuk percaya, bagi saya tidak wajib; karena wahyu itu bukan khusus dan langsung buat saya, dan saya hanya mendengar perkataan dia saja bahwa itu diturunkan padanya. Ketika Musa bilang pada anak2 israel bahwa dia menerima dua tablet Perintah dari tangan Tuhan, mereka tidak wajib percaya padanya, karena mereka tidak punya otoritas lain untuk itu selain dari perkataan Musa belaka; dan saya juga tidak punya otoritas utk itu selain dari beberapa sejarawan yang mengatakannya pada saya. Perintah-perintah itu tidak membawa bukti internal keilahian didalamnya; perintah itu hanya membawa aturan moral yang baik, seperti seseorang, penguasa atau pembuat undang-undang, bisa juga membuatnya, tanpa harus mengatakan bahwa ada campur tangan supernatural didalamnya.

Ketika saya diberitahu bahwa Quran ditulis disurga dan dibawa kepada Muhammad oleh malaikat, ini sampai pada saya dalam bentuk cerita, kata orang, bukti-bukti dan otoritas tangan orang lain saja. Saya tidak melihat sendiri si malaikat itu, dan dengan demikian, saya punya hak untuk tidak percaya.

Melihat teorinya Wansbrough, Crone dan Cook (bahwa Islam muncul belakangan sesudah pemikiran-pemikiran yang ada hingga saat ini, Islam muncul dibawah pengaruh Yudaisme dan menyebut Musa sebagai sebuah contoh nabi yg diberi wahyu, menciptakan Muhammad sebagai nabi orang Arab dengan wahyu yang persis sama), penyejajaran dan pemilihan dari Paine mengenai dua contoh Musa dan Muhammad rasanya sangat tepat.

Lagipula, seperti kata Paine, wahyu-wahyu yang belakangan ditulis dalam Quran tidaklah membawa bukti-bukti internal keilahian didalamnya. Malah sebaliknya, Quran berisi banyak sekali – terlalu banyak – hal-hal yang sama sekali tidak pantas dikatakan oleh Tuhan. Dengan dasar apa kita menentukan itu? Quran mengaku mendapat otoritas ilahi atas tulisan-tulisannya. Pada akhirnya, kita hanya dapat berkata bahwa tidak ada wahyu khusus yang kredensialnya bisa diandalkan.[49]

Aneh sekali bahwa ketika Tuhan memutuskan untuk mewujudkan DiriNya, dia melakukannya hanya pada satu orang saja. Kenapa Dia tidak bisa muncul pada banyak orang dalam sebuah stadion sepakbola ketika Final Piala Dunia berlangsung misalnya, ketika milyaran orang diseluruh dunia menonton?

Tapi, seperti Patricia Crone bilang, “ini kebiasaan aneh Tuhan, ketika dia pingin menampakan diri pada manusia, dia hanya berkomunikasi pada satu orang saja. Umat manusia lainnya harus belajar ‘kebenaran’ dari orang tersebut dan dengan demikian membeli pengetahuan keilahian tersebut dengan harga mahal, harga yang dia bayar adalah menempatkan dirinya lebih rendah dari orang tersebut, yang pada akhirnya orang tersebut digantikan oleh sebuah institusi, hingga keilahian tetap berada dibawah kontrol orang-orang atau manusia-manusia tertentu atau institusi-institusi.” (TLS, 21 jan 1994, hal 12).

Abraham, Ismail, Musa, Nuh, dan nabi-nabi lain
Kita diberitahu bahwa Abraham lahir di Chaldea dan dia anak seorang pembuat tembikar yang miskin, yang mencari nafkah dengan membuat patung tanah liat. Sulit untuk dipercaya anak miskin seperti ini bisa bepergian ke Mekah, 300 leagu (1 leagu=3 mil=4.8 kilometer, jadi 1.440 km) jauhnya pada cuaca panas menyengat, lewat gurun pasir. Jika dia benar seorang penakluk atau penjelajah maka kemungkinan besar dia akan pergi ke negara-negara makmur di Assyria; jika dia cuma orang miskin, seperti yang dituliskan sejarah, dia tidak akan menemukan kerajaan-kerajaan ditanah asing itu. -Voltaire.[50]

Bagi sejarawan, orang Arab bukanlah keturunan Ismail, anak dari Abraham, sama bohongnya seperti Orang Perancis yang bukan keturunan Francus, anak dari Hector. -Maxime Rodinson.[51]

Sudah pasti bahwa Abraham tidak pernah menginjakkan kaki di Mekah -Montgomery Watt.[52]
Poin pentingnya adalah, dimana fakta objektif telah ditetapkan oleh metoda-metoda sejarah yang baik, maka itulah yang harus diterima. -Montgomery Watt.[53]

Menurut hadis, Abraham dan Ismail yang membangun Kabah, bangunan kotak di mesjid suci Mekah. Tapi diluar riwayatan ini sama sekali tidak ada bukti – baik itu berupa epigrafik, arkeologis atau dokumen. Snouck Hurgronje telah menunjukkan bahwa Muhammad mengarang kisah itu untuk memberikan agamanya sumber dan setting kearab-araban; dengan improvisasi ini Muhammad juga menetapkan kemandirian agamanya sekaligus menempelkan Kabah kedalam Islam berikut segala hubungan sejarah dan religius karangannya untuk orang Arab.

Melihat jumlah materi yang ada dalam Quran yang dicomot dari Pentateuch – Musa: ada 502 ayat dalam 36 surah; Abraham: 245 ayat dalam 25 surah; Nuh: 131 ayat dalam 28 surah – sungguh mengagetkan kita bahwa kritik-kritik yang diterapkan pada bible ternyata tidak punya pengaruh terhadap studi-studi Quran. Para muslim seperti juga Yahudi dan Kristen berpegangan bahwa Pentateuch ditulis oleh Musa. Dalam Quran, Pentateuch disebut sebagai Taurat (Kata yang berasal dari bahasa ibrani Torah).

Para scholar telah lama ragu akan ketelitian sejarah kisah-kisah Bible, dan Islam tidak dapat lepas dari konsekwensi yang sama dalam penemuan dan kesimpulan mereka. Sejak abad 17, La Peyrere, Spinoza dan Hobbes telah berdebat bahwa Pentateuch tidaklah mungkin ditulis oleh Musa: “Dari apa yang telah diceritakan, jelas sejelas matahari bahwa Pentateuch tidak ditulis oleh Musa, tapi oleh seseorang yang hidup jauh setelah musa,” Spinoza menyimpulkan dalam A Theologico- Political Treatise.[54]

Lalu di abad 19 kritik lain yang lebih tajam seperti kritikan Graf dan Wellhausen menunjukkan bahwa Pentateuch (Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan) adalah karya gabungan, dimana didalamnya bisa dipisahkan karya empat ‘penulis’ yang berbeda., yang biasanya disebut dengan empat huruf: J, E, D dan P.

Robin Lane Fox[55] menyatakan:
Dalam Bible empat sumber awal digabung oleh orang kelima, seorang penulis tak dikenal yang menggabungkan keempatnya pada tahun antara 520 SM sampai 400 SM, dalam pendapat saya, lebih dekat pada tahun 400 SM. Ketika dia menggabungkan sumber-sumber ini, dia mencoba menyelamatkan isinya dan memasukkan kalimat-kalimat yang baik-baiknya saja (dan juga tentang penciptaan). Dia ini seorang sub-editor alami.. dalam pendapat saya, dia bukanlah seorang sejarawan tapi pasti dia kaget jika mendengar orang bilang tak satupun dalam karya penggabungannya itu benar. Kemungkinan isinya benar secara sejarah sangatlah kecil karena tak satupun dari sumber- sumber itu ditulis berdasarkan bukti-bukti kuat atau bukti-bukti tulisan sejaman atau seabad atau setidaknya dalam milenium yang sama dengan cerita tersebut. Bagaimana bisa tradisi mulut ke mulut memelihara rincian yang sedemikian baik lewat waktu sepanjang itu?.. Mengenai “raksasa di bumi,” yaitu Menara Babel atau eksploitasi dari Yakub atau Abraham, tidak ada alasan kuat utk percaya satupun tentang hal itu: Kisah paling detil dalam Kitab Kejadian adalah kisahnya Yusuf, kisah yang luar biasa, dijalin dari dua sumber yang berbeda, dimana keduanya tidak juga bersandar pada kebenaran sejarah.

Torah tidaklah ditulis oleh atau “diturunkan” pada Musa, dan tidak ada alasan kuat untuk percaya bahwa cerita Abraham dan lainnya itu benar. Pastinya tidak ada sejarawan yang bermimpi utk memakai sumber- sumber muslim guna memverifikasi sejarah tentang Bible ini; cerita versi muslim tentang Abraham, Musa dan yang lainnya, seperti kita pelajari sebelumnya, diambil dari tulisan-tulisan rabi Yahudi atau tidak lebih dari sekedar legenda belaka (dibangunnya Kabah dan lain-lain) yang, kacaunya lagi, diciptakan beberapa ribu tahun setelah kejadian- kejadian yang ‘katanya’ terjadi menurut mereka itu.

Sejarawan malah bertindak lebih jauh lagi. Mereka mengatakan ada kepastian bahwa Abraham tidak pernah ada: “Tradisi-tradisi versi J mengenai perjalanan Abraham sangatlah tidak tepat secara karakter sejarah. Jika dilihat dari sudut tema mengenai hamba Yahweh yg patuh yang suka berkelana ini memberikan struktur banyak kisah-kisah yang tidak saling berhubungan dalam tulisan-tulisannya J. ini adalah sebuah alat editorial yang digunakan untuk menyatukan banyak perbedaan dalam kisah-kisah Abraham dan Lot” (Thompson 1974). Thompson lalu menyatakan (hal.328):
Bukan saja arkeologi tidak membuktikan satupun kejadian dalam kisah patriarc ini sebagai sejarah tapi juga tidak menunjukkan kisah manapun benar. Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang sejarah Palestina di Millenium Kedua Sebelum Masehi, dan dari apa yang kita mengerti mengenai bentuk tradisi sastra kitab Kejadian, bisa disimpulkan bahwa sejarah yang diceritakan tersebut, baik dalam karya akademis maupun karya popular mengenai Kitab Kejadian, sangatlah tidak mungkin dan benar-benar mustahil.

Terakhir, “pencarian Abraham secara sejarah pada dasarnya adalah pekerjaan yang sia-sia baik bagi para sejarawan maupun para pelajar dari bible.” [56]
Dan Lane Fox mengamati: “Sejarawan tidak lagi percaya bahwa kisah- kisah Abraham adalah kisah-kisah sejarah: seperti Aeneas atau Heracles, Abraham adalah figur legenda.” [57]

------------------
[36] Artikel Macdonald. Kadar dalam Encyclopaedia of Islam, edisi pertama
[37] Wensinck, A.J. [1] The Muslim Creed. Cambridge, 1932. hal51-52 [38] Mill, J.S Three Essays on Religion. London, 1874. hal.113-114
[39] Bousquet, G.H. L’Ethique sexuelle de l’Islam. Paris, 1966. hal.9 [40] Mackie, J.L. The Miracle of Theism. Oxford, 1982. hal. 256
[41] Mackie. J.L. Ethics. London, 1977. hal.230
[42] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. hal. 19
[43] Flew, Antony. “The Terrors of Islam.” Dalam P.Kurtz and T. Madigan, eds., Defending the Enlightment. Amherst, N.Y., 1987. Hal.277
[44] Gibb, H.A.R. Islam, Oxford, 1953. Hal.38
[45] Mackie, J.L. The Miracle of Theism. Oxford, 1982. Hal.256 [46] Dikutip dari Dictionary of Islam, hal.147
[47] Paine Thomas. The Age of Reason. Secaucus, 1974. Hal.270
[48] Paine Thomas. The Age of Reason. Secaucus, 1974. Hal.52 [49] Mackie, J.L. Ethics. London, 1977. hal.232
[50] Voltaire. Dictionaire Philosophiqe. Terjemahan Besterman, London, 1971. hal.17 [51] Rodinson, Maxime. Les Arabes. Paris, 1991 Hal.49
[52] Watt, W. Montgomery. Muslim-Christian Encounters. London, 1991. Hal.136 [53] Ibid., hal.135
[54] Spinoza, B. A Theologico-Political Treatise. Terjemahan Elwes. New York, 1951. Hal.124
[55] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.176
[56] Thompson, T.L. The Historicity of the Patriarchal Narratives. London, 1974., Hal.328
[57] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.218

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar