Sabtu, 03 September 2011

Pencinta Al-Quran Mendapat Keselamatan dalam Injil Isa Al-Masih

Kurdistan

Saya berasal dari keluarga kelas menengah Kurdi. Lahir dan dibesarkan di Irak Utara. Ibu saya meninggal ketika saya berusia empat tahun. Ayah saya menolak untuk menikah lagi. Dia merawat saya dengan baik dan mencintai saya.

Mulai Berpuasa Pada Umur Sembilan Tahun

Ayah saya sangat prihatin akan pendidikan Islam saya. Dia mulai mengajarkan huruf Arab, Al-Quran dan hukum Islam saat usia saya masih sangat muda. Dia memiliki suara yang bagus dan ia menggunakannya untuk membaca Al-Quran dengan keras pada malam hari sebelum tidur. Saya tidak mengerti, tetapi itu terdengar sangat bagus. Kemudian, saya selalu membayangkan suaranya selama bertahun-tahun setelah kematiannya setiap kali saya membutuhkan penguatan rohani di masa tertentu. Pada usia enam tahun saya sudah bisa membaca Al-Quran. Di usia sembilan tahun saya mulai berdoa dan berpuasa penuh selama bulan Ramadhan.

Keinginan Yang Kuat Untuk Belajar Agama

Liburan musim panas saya gunakan untuk melanjutkan pelajaran Al-Quran di Mesjid terdekat. Saya belajar bagaimana menafsirkan Al-Quran juga kehidupan Muhammad dan Kalifah. Di sekolah tingkat tinggi saya bergabung dengan kelompok pelajar dibawah partai politik Islam moderat. Kami memiliki jadwal pertemuan mingguan untuk mendiskusikan Jalan Hidup Islam dan bagaimana menjadi murid Islam yang aktif.

Sementara itu, saya melanjutkan belajar hukum Islam (fiq-h), bagaimana membaca Al-Quran dengan benar (tajwid), Hadis, hidup Muhammad (Sira) dan Tata Bahasa Arab (Nahu). Saat saya lulus sekolah, saya sudah menjadi anggota penuh partai tersebut. Di usia 18 tahun saya melanjutkan sekolah ke jenjang universitas di kota lain. Di sana saya mengenal banyak murid yang juga merupakan anggota partai Islam.

Mencari Jawaban Untuk Pertanyaan

Saat itu banyak pertanyaan mulai bermunculan di dalam pikiran saya. Saya tidak dapat menemukan jawabannya, seperti “Apa tujuan hidup?” dan “Mengapa kita harus menyembah dan mengikuti hukum Allah?” Jawaban seperti “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Qs 51:57) tidak memuaskan. Saya yakin harus ada tujuan yang tinggi, yaitu sesuatu yang lebih berarti daripada menyembah dalam hubungan sebagai tuan-budak.

Selain itu, saya merasa terganggu dengan fakta melihat kekerasan di sekitar saya setiap hari. Kekerasan yang terdapat dalam buku-buku sejarah, dalam karakter pendiri agama, dalam buku agama dan dalam sejarah Islam.

Meninggalkan Agama Islam

Dalam tahun pertama kuliah saya kehilangan iman saya. Kemudian saya dengan aktif mulai mencari-cari jawaban. Saya bertanya di antara orang Kristen Irak yang sangat berhati-hati untuk membagikan tentang “agama” mereka. Kemudian di antara orang Yezidis, pengikut agama kuno Kurdi. Akhirnya sayapun bertanya pada orang ateis. Namun saya terus yakin bahwa Tuhan ada. Tetapi saya tidak tahu jalan ke Allah. Terkadang saya tidak merasa orang harus berhubungan dengan Allah.

Bertemu Dengan Orang Percaya

Bertahun-tahun kemudian, satu hari saya bertemu dengan seorang percaya, pria usia 60-an. Kami berbicara kira-kira satu jam tentang politik, Timur Tengah, Amerika Serikat, sejarah, agama, dan Allah.

Untuk pertama kalinya saya mendengar, bahwa saya dapat percaya kepada Isa Al-Masih tanpa harus menjadi “Kristen secara budaya.” Juga saya mendengar bahwa “Allah adalah Bapa dan mengasihi saya sekalipun saya adalah anak yang memberontak.” Lebih menarik lagi, “Dari Adam sampai Isa Al-Masih semua ceritera Alkitab terhubung dan inti dari ceritera-ceritera tersebut adalah tentang Sang Penyelamat, Isa Al-Masih.” Saya tertarik dengan penemuan saya yang terakhir, karena sepengetahuan saya ceritera-ceritera tersebut juga ada dalam Al-Quran.

Selama dua bulan saya tidak pernah bertemu lagi dengan orang percaya itu. Saya hampir melupakannya. Hingga tiba-tiba saya merasa harus berbicara dengan dia lagi. Saya mulai mencarinya dan akhirnya menemukan alamat e-mailnya. Dengan segera saya mengirimkan e-mail kepadanya dan dia membalasnya. Akhirnya, kami mengatur waktu untuk bertemu lagi dalam beberapa minggu. Kemudian kami bisa bertemu lagi pada akhir-akhir minggu.

Saya Minta Buku Dan Diberi Alkitab

Ketika saya meminta sebuah buku untuk dibaca, saya mengharapkan dia memberikan saya buku yang khusus di tulis untuk mengubah orang Islam atau bahkan orang Kurdi menjadi Kristen. Dia malah merekomendasikan Kitab Suci. Saya terkejut bahwa dia berpikir saya dapat diyakinkan dengan sebuah teks bacaan yang kuno. Namun saya menerima anjurannya dan mulai membaca Kitab Suci itu, dari Injil. Kalimat-kalimat pertama bukanlah seperti kalimat-kalimat yang pernah saya dengar sebelumnya:

Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. (Injil, Yohanes 1:1-4)

Saya terus membaca dan saat waktu saya membaca tentang Roh Kudus, saya ada pada keadaan pikiran yang teraneh yang pernah saya miliki, penuh perhatian dan spiritual. Beberapa minggu kemudian saya hampir tidak dapat melakukan apa-apa kecuali membaca Kitab Suci. Saya menemukan setiap jawaban dari semua pertanyaan saya. Untuk pertama kalinya di dalam hidup saya, saya mengerti kisah manusia dari mulanya sampai sekarang dalam satu tema: Isa Al-Masih, Sang Juruselamat Manusia.

Kunjungan Ke Rumah Saudara Perempuan

Satu hari saya menerima telepon dari kakak perempuan saya yang tinggal di kota lain. Dia ingin saya mengunjunginya. Saya memutuskan untuk pergi tapi saya tahu bahwa saya tidak bisa membawa Alkitab saya. Karena saya berpergian dengan bis dan ada pos-pos pemeriksaan dalam perjalanan itu. Saya takut mereka menemukan Kitab Suci saya dan saya akan mendapat masalah. Kakak perempuan saya sedang hamil dan sakit, jadi saya harus tinggal selama kira-kira seminggu.

Ayat-Ayat Kitab Suci Yang Sangat Indah

Saya sangat menginginkan ayat-ayat Kitab Suci yang bisa saya baca. Saya tidak terpikir bahwa ada tersedia Kitab Suci secara online. Hari Jumat, saya mendapat e-mail dari orang percaya yang memberikan saya Kitab Suci itu. Saya membuka e-mail itu dan tidak seperti e-mail yang lain yang saya terima. Hanya ini yang tertulis di dalam e-mail tersebut:

GembalaTUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau,

Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku.

Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan di dalam lembah kekelaman,

Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;

Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;

Pialaku penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka yang mengikuti aku, seumur hidupku;

Dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Kitab Mazmur 23)

Saya menghabiskan malam itu dengan membaca ayat-ayat tersebut berulang-ulang. Saya menangis karena bahagia dan dari kepastian yang diberikan oleh ayat-ayat tersebut.

Tidur Lama

Saya tidak mengenal waktu dan saya tidak tahu kapan saya tertidur. Tetapi yang saya tahu dengan pasti ketika saya bangun sudah pagi hari. Namun bukan hari Sabtu, tetapi hari Minggu! Mazmur 23 masih terngiang-ngiang di telinga saya.

Baik kakak perempuan saya dan suaminya bertanya bagaimana saya bisa tertidur begitu lama. Saya merasa malu untuk bertanya kepada mereka apakah saya benar-benar tertidur pada hari sebelumnya atau saya terbangun tetapi tidak mengingatnya.

Tetapi sesaat kemudian hal itu tidak menjadi masalah karena saya menyadari apa yang telah terjadi pada saya. Saya telah dilahirkan baru seperti dijelaskan dalam Injil Allah: “. . . jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:3; Surat II Korintus 5:17)

Perubahan Besar Dalam Hidup Saya

Beberapa hari kemudian, saya menceritakan kepada teman-teman saya bahwa saya telah berubah dan saya adalah pribadi yang berbeda sekarang. Saya sangat antusias untuk berbicara dengan teman-teman yang saya percaya tentang iman saya. Namun saya frustrasi karena tidak ada satu orang pun yang perduli untuk mendengar tentang Allah. Setiap orang seperti terlalu sibuk untuk hal itu. Keluarga saya memilih untuk menyangkal bahwa saya telah berubah. Mungkin karena mereka tidak sanggup untuk memilih antara saya dan iman mereka.

Saya kecewa dengan reaksi mereka, tetapi kemudian saya menyadari bahwa hal itu, bukan kita yang dapat mengubah manusia. Hanya kasih karunia Allah yang dapat mengubah hati manusia. Saya menemukan bahwa saya perlu memberikan waktu untuk berdoa bagi mereka daripada mencoba mengubah mereka. Reaksi saya seharusnya hanya menyatakan kasih dan pengampunan bukan untuk menghakimi.

Sumber: http://www.isadanalquran.com/kesaksian/174-pencinta-al-quran-mendapat-keselamatan-dalam-injil-isa-al-masih

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silahkan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar