Rabu, 30 September 2009

Pasal 2 - Teks-Teks Suci Dalam Islam

Penyelidikan kita pertama-tama harus dimulai dengan perkenalan singkat mengenai teks-teks suci dalam Islam. Tujuannya di sini adalah untuk memperkenalkan pembaca dengan teks-teks suci Islam, sehingga mereka bisa memahami posisi teks-teks suci ini dalam struktur otoritas Islam. Banyak referensi yang dipakai dalam buku ini berasal dari berbagai teks suci itu.

Qur’an
Buku suci pertama dan paling terkenal dalam Islam adalah Qur’an. Qur’an merupakan kitab suci Islam yang seluruhnya disampaikan oleh Muhammad, pendiri dan “Nabi” Islam. Secara literal Qur’an dalam bahasa Arab berarti “pembacaan” atau “bacaan”. Qur’an terdiri dari 114 pasal yang disebut Surah. Di sepanjang buku ini, ketika sebuah pasal dalam Qur’an dibacakan, akan dimulai dengan kata “Surah,” diikuti dengan bab, ayat, dan terjemahannya.
Qur’an dapat dipandang sebagai Alkitabnya Islam, mengingat kitab ini merupakan kitab suci Islam yang terutama. Meski demikian, Qur’an bukanlah satu-satunya sumber sakral atau bahkan bukan satu-satunya tradisi suci yang diinspirasikan dalam Islam. Meskipun Qur’an merupakan satu-satunya teks dalam Islam yang dipercaya sebagai kata-kata literal Allah, tetapi masih ada teks yang sama pentingnya bagi semua Muslim, yang disebut Sunah.

Sunah
Dalam bahasa Arab, Sunah berarti “jalan setapak yang sudah bersih dan bisa dilewati.” Hal ini berkaitan dengan segala hal yang dikatakan, dilakukan, diampuni, atau dihakimi oleh Muhammad. Sunah berisi rekaman mengenai perkataan-perkataan, kebiasaan, pengajaran, atau teladan yang ditinggalkan oleh Muhammad, untuk diikuti oleh seluruh umat Muslim. Orang-orang Muslim memandang Muhammad sebagai contoh dari manusia biasa yang sempurna. Doktrin ini tertulis jelas dalam Qur’an:
Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku (Muhammad)
Surah 3:31

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.
Surah 33:21

Apapun yang dilakukan atau dikatakan oleh Muhammad, menjadi dasar untuk seluruh kepercayaan dan kehidupan Muslim. Yang harus dimengerti mengenai Sunah ini adalah, Sunah sama pentingnya seperti Qur’an bagi umat Muslim. Hal ini dimungkinkan sebab Sunah menafsirkan Qur’an. Tanpa Sunah, Qur’an tidak dapat dipahami dengan baik. Kenyataannya, banyak aspek dan praktek-praktek dalam agama Islam yang bahkan tidak disebutkan dalam Qur’an, tetapi hanya ditemukan dalam Sunah. Jadi, Qur’an bersama-sama dengan Sunahlah yang membentuk dasar kepercayaan dan praktek Muslim di mana pun.1 Dalam hal ini, baik Qur’an maupun Sunah diyakini sebagai bahan yang memberi inspirasi dan bersifat otoritatif.

Sumber-Sumber Sunah
Sunah berasal dari dua jenis literatur Islam yang berbeda. Yang pertama dan paling penting dari kedua jenis ini adalah apa yang disebut sebagai literatur Hadis. Literatur Hadis secara khusus merekam perkataan-perkataan Muhammad. Yang kedua, yang disebut sebagai literatur Sirat atau Sirah. Secara literal, Sirat berarti “biografi.” Jadi sirat-rasul adalah riwayat hidup “rasul” atau “nabi” Muhammad. Terdapat banyak biografi klasik maupun biografi modern tentang hidup Muhammad. Terjemahan sirat klasik dalam Bahasa Inggris yang paling popular adalah Sirat Rasul (Kehidupan Muhammad) karangan Ibn Ishaq, diterjemahkan oleh ahli Asia Timur terkemuka, A. Guillaume. Di samping kedua jenis literatur ini, terdapat juga sejarah-sejarah Islam dan penjelasan-penjelasan Qur’an yang disebut tafsir. Ketika saya dalam buku ini, berbicara tentang berbagai jenis literatur-literatur itu secara menyeluruh, saya hanya akan menyebutnya sebagai “tradisi Islam.”

Hadis
Untuk tujuan penelitian ini, barangkali Hadis adalah yang paling penting dari berbagai tradisi Islam yang harus kita dipahami. Hal ini disebabkan karena begitu banyak keyakinan maupun praktek-praktek dalam Islam, khususnya kepercayaan Hadis mengenai akhir jaman, berasal dari literatur Hadis.
Seperti yang telah disebutkan di atas, Hadis merupakan laporan perkataan-perkataan dan perbuatan Muhammad. Menurut ahli-ahli Muslim, selama kehidupan Muhammad dan setelah dia meninggal, para pengikutnya mulai secara oral menyampaikan kenangan-kenangan akan segala sesuatu yang dikatakan atau dilakukan oleh Muhammad.

Isnad dan Matn
Setiap Hadis terdiri dari dua bagian, isnad dan matn. Bagian depan dari semua Hadis merupakan isnad, atau rantai penyebaran. Isnad ini pada intinya merupakan rantai kalimat “dia berkata, dia berkata, dia berkata”, dari orang-orang yang memberitakan suatu kenangan mengenai apa yang dikatakan atau dilakukan oleh Muhammad. Dalam Bahasa Inggris isnad seperti; “John berkata bahwa ia mendengar Mary mengatakan bahwa Muhammad dulu mengatakan ini dan itu.” Yang lebih menyulitkan bagi mereka yang tidak terbiasa dengan literatur Islam adalah, bahwa tentu saja nama-nama di dalamnya menggunakan bahasa Arab. Ada banyak nama disebutkan di situ, yang panjangnya mungkin bertumpuk-tumpuk. Ini adalah contoh isnad dari Hadis Malik Muwatta:
Yahya mengatakan kepada saya, dari Malik, dari Amr ibn Yahya al-Mazini, dari abu’l-Hubab Said ibn Yasar, Abdullah ibn Umar berkata….2

Terkadang hanya terdapat satu nama dalam isnad, yang biasanya merupakan indikator bahwa orang dalam Hadis tersebut merupakan teman atau anggota keluarga Muhammad. Misalnya demikian:
Aisha berkata bahwa Muhammad (damai besertanya) mengatakan….

Bagian lain dari Hadis adalah teks yang sesungguhnya. Inilah bagian yang melaporkan perkataan atau perbuatan Muhammad. Bagian Hadis ini disebut dengan matn.
Jadi setiap Hadis terdiri dari isnad (rantaian penyebaran) dan matn (perkataan atau tindakan Muhammad). Dalam seluruh isi buku ini, untuk menyederhanakan segala sesuatu, kami hanya akan mengutip matn saja. Isnad akan dimasukkan dalam referensi catatan kaki.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar