Rabu, 04 November 2009

Pasal 9 - Mengapa Saya Tidak Akan Menandingi Nabi Islam?

“Orang Muslim sangat fasih berbicara mengenai nilai-nilai yang berhubungan dengan keluarga dan giat mencari kesalahan orang lain, terutama pihak Barat. Meski demikian, saya menantang setiap orang Muslim untuk menunjukkan kepada saya apa saja kebajikan dalam hidup keluarga Nabi Islam yang dapat mereka teladani”

Pada tanggal 1 September 2004, pesta awal tahun sekolah di Rusia berubah menjadi tragedi nasional yang akan menjadi 11 Septembernya Rusia. Hari itu merupakan hari dimana sebuah kelompok sekitar tiga puluh pria bersenjata dan dua orang wanita yang mengenakan sabuk peledak menyandera sebuah sekolah dasar di sebuah kota kecil, Beslan. Guru-guru, murid-murid, dan keluarga mereka dijadikan tawanan. Jumlah mereka mencapai seribu tiga ratus orang dan kebanyakan terdiri dari anak-anak. Para penyandera meminta penarikan pasukan Rusia dari Cheznya. Pasukan Rusia dan milisi local mengepung sekolah. Dalam serangan berdarah yang terjadi pada tanggal 3 September, kebanyakan para sandera bapat dibebaskan, tetapi selama pertempuran, gedung sekolah hancur, setidaknya sebagian besar teroris, sebelas tentara Rusia, dan lebih dari tiga ratus rakyat sipil terbunuh, dan banyak juga yang terluka. Sementara serangan ini ditujuan kepada anak-anak, kita tidak boleh melupakan anak-anak lainnya yang menjadi yatim piatu karena serangan-serangan lainnya yang tak terhitung yang terjadi di berbagai bagian dunia.

Pasal 8 - Sebuah Perjalanan Menuju Pencerahan

“Semakin banyak saya membaca Qur’an; semakin saya menyadari bahwa kitab tersebut tidak mungkin berasal dari Tuhan yang sejati… saya merasa bebas sekarang. Bebas dari rasa takut. Sebuah agama seharusnya memberikan alasan bagi umat manusia untuk hidup. Islam memberikan alasan untuk mati.”

Keputusan untuk beragama seharusnya dihormati sama halnya dengan pilihan untuk tidak beragama. Sementara banyak orang terkejut dan takut oleh beberapa pernyataan dari kitab tersebut, bagi orang lain, kitab tersebut menyuarakan kebenaran. Hal itu adalah sebuah kebenaran yang telah mereka jalani dan yang ingin mereka bagikan. Asad menceritakan kisahnya bukan untuk mengejutkan, tetapi untuk membukakan pengalamannya. Hal ini merupakan suatu pengalaman yang telah mengubah hidup dan cara berpikirnya. Seperti kebanyakan mahasiswa, Asad menemukan inspirasi dari seorang profesor di fakultasnya. Namun ketika dosennya mengkritik Islam, dia melihat bagaimana teman-temannya para mahasiswa tidak mau bertoleransi terhadap siapa saja tidak mau memeluk Islam dengan segenap hati.

Hal ini diperlihatkan melalui reaksi yang keras dan sikap bermusuhan dalam sebuah skala global kepada orang-orang yang menerima kritikan terhadap Islam. Kepada kebanyakan daripada kita yang hidup di Barat, kartun merupakan sumber kesenangan. Seringkali kartun melintasi garis pembenaran politis, tetapi dalam masyarakat yang toleran kami telah belajar untuk menerima bahwa orang seharusnya bebas memutar sebuah sisi yang berbeda dari sebuah cerita.

Pasal 7 - Saya Adalah Eks Muslim, dan Saya Bangga Dengan Hal Itu

“Saya ingat bahwa saya diajar untuk membenci (meskipun tidak secara langsung) dengan memasukkan ketakutan-ketakutan terhadap “orang-orang Yahudi yang jahat itu”, dan guru saya mencoba untuk membawa saya ke dalam jihad dengan menjanjikan ketujuh puluh dua perawan (Huur Al-Ay) yang bisa saya nikmati di Surga. Tentu saja saya tidak pernah tertarik dengan hal itu, sebab saya adalah seorang gay.

Untuk banyak mantan Muslim, tingkatan kebencian dan retorika terhadap mereka yang disebut “kafir” adalah sangat tinggi. Bagi banyak orang-orang Muslim yang masih muda, yang sudah diekspos dengan kebebasan ala Barat, penindasan seperti ini tidak lagi sanggup untuk ditanggung. Tragisnya, tirani seperti ini tidak hanya berlaku di negara-negara Islam, tetapi bisa juga ditemukan di kota-kota besar yang ada di negara Barat. Sebagai contoh, kisah Nissar Hussein, mantan Muslim yang tinggal di Bradford, England, yang berdasarkan laporan dari London Times, ia telah menjadi korban dari sebuah kampanye kebencian yang berlangsung selama tiga tahun karena ia sudah meninggalkan Islam. Keluarganya telah di desak-desak, dilecehkan bahkan diserang. Keluarganya juga sudah diminta untuk pindah dari lingkungannya. Semuanya ini terjadi bukan karena apa yang diyakini oleh Hussein, tetapi karena ia tidak lagi percaya kepada Islam. Sangatlah menyedihkan bahwa kisah seperti ini semakin sering terjadi di seluruh Inggris dan di bagian dunia lainnya.

Dalam kesaksian yang anda baca di sini, murtadin lainnya menceritakan penghinaannya kepada budaya yang ia anut sebelumnya dan hasratnya untuk mengekspos sisi gelap dari budaya itu – meski dengan perasaan takut akan konsekwensi yang mungkin akan ia alami karena melakukan hal itu. Sesungguhnya, mudah untuk mengerti darimana ketakutan itu datang, dan mengapa. Tak seorang pun - bahkan di Barat – aman dari kekejaman Islam.

Pasal 6 - Sebuah Kisah Cinta Yang Belum Pernah Diungkap

“Ada sebuah perayaan, tetapi itu bukan pesta pernikahannya. Ia mengenakan gaun putih, tetapi itu bukan gaun pengantinnya. Banyak orang datang ke pesta itu, tetapi mereka datang untuk mengutukinya dan melemparkan batu padanya. Tak ada musik yang dimainkan dan tidak ada lagu-lagu sukacita yang dinyanyikan; hanya teriakan Allah-u-Akbar yang memenuhi udara.”

Sejak peristiwa 11 September, kami masih terus mendengar bahwa Islam adalah sebuah agama damai. Tetapi aksi-aksi dari ratusan ribu orang-orang Muslim fanatik memberikan alasan yang tepat untuk kami melihat agama ini secara berbeda. Jika kita mengalihkan mata kita dari headline berita, maka ada juga kisah-kisah yang belum diceritakan, tetapi kisah-kisah itu pun memperlihatkan pada kita sisi gelap dari Islam.

Dalam kisah tragis berikut ini, anda akan bertemu dengan Yagmur, yang menceritakan bagaimana saudara perempuannya jatuh cinta dengan seorang pria muda, dimana ayah pria itu melarangnya untuk menikahi wanita ini. Yagmur masih ingat betapa bahagia wajah kedua orang muda ini dan betapa mereka saling mencintai. Dalam usaha untuk mendapatkan restu dari orangtuanya, saudara perempuan Yagmur dan pacarnya memberitahukan bahwa ia sudah hamil. Apa yang kemudian berlangsung dalam kisah nyata ini mengenai hati yang hancur dan penganiayaan adalah sesuatu yang tidak terbayangkan oleh mereka yang hidup di negara Barat. Setelah mendengar kehamilan anak perempuannya, ayah Yagmur dengan geram membawa anak perempuannya ke para pemimpin agama.

Pasal 5 - Dari Percaya Menuju Pencerahan

Allah sangat tidak peduli. Qur’an penuh dengan kesalahan...

Allah tidak eksis dimanapun kecuali dalam pikiran orang yang tidak waras.

...Betapa kecewanya saya ketika saya menyadari bahwa selama bertahun-tahun saya berdoa kepada sebuah fantasi”.


Memang mudah menyebut orang yang meninggalkan Islam sebagai “orang yang sesat”, namun tidak mudah menjalani hidup sebagai orang yang sesat. “Proses berjalan dari iman kepada pencerahan adalah sesuatu yang sulit dan menyakitkan”, dan menurut Ali Sina hal itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah.

Dilahirkan dalam sebuah keluarga yang religius, Ali menjadi sangat prihatin terhadap ajaran-ajaran fanatik dari para mullah di mesjid keluarganya. Lebih jauh lagi, ia tidak dapat mengerti kebencian banyak orang Muslim yang dialamatkan kepada hampir semua orang non-Muslim. Ali juga menyaksikan bagaimana pengajaran yang ia terima mengenai Qur’an berisi kebencian dan menganjurkan prasangka buruk. Ketika ia merasa sulit menerima hal ini, ia mulai bertanya bagaimana Pencipta alam semesta ini dapat begitu kejam dan berpikiran sempit, terutama berkenaan dengan kaum wanita yang adalah embisil (kaum yang dipandang lebih rendah daripada idiot – Red).

Senin, 26 Oktober 2009

Pasal 4 - Wajah Islam Yang Sebenarnya

Pada 11 September 2001, saya melihat wajah Islam yang sebenarnya. Saya melihat kegembiraan di wajah bangsa kami karena ada begitu banyak orang kafir yang dibantai dengan mudahnya....Saya melihat banyak orang mulai bersyukur kepada Allah atas pembantaian massal ini”.

“Pada 11 September”, ujar Khaled, “Saya melihat wajah Islam yang sebenarnya”. Pada 11 September, limabelas dari sembilan belas orang pembajak yang menyerang Amerika Serikat adalah warga negara Arab Saudi. Ditambah lagi, Osama Bin Laden – tersangka utama penyerangan atas World Trade Center dan Pentagon yang memakan korban lebih dari 3000 jiwa – juga kelahiran Saudi, walaupun kewarganegaraannya telah dicopot oleh pemerintah pada tahun 1994. Jadi bagaimana Arab Saudi membuat beberapa warganya merasa bahwa adalah kewajiban mereka untuk melaksanakan misi bunuh diri di belahan dunia lain? Khaled Waleed percaya bahwa apa yang telah diajarkan padanya di mesjid di Arab Saudi sama persis dengan pengajaran yang diterima bin Laden dan itulah sebabnya ada begitu banyak orang muda Muslim di Arab Saudi mendukungnya. Khaled percaya bahwa 11 September mendemonstrasikan wajah Islam yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan di Kerajaan. Kesaksiannya mengundang kita untuk memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai pengajaran-pengajaran itu dan pola pikir dari perancaang-perancang peristiwa 11 September. Khaled mengalami secara langsung pengajaran-pengajaran Islam. Ia tidak percaya bahwa beberapa teroris hanyalah oknum yang merusak Islam. Ia percaya bahwa tindakan-tindakan teroris justru konsisten dengan Islam. Itulah sebabnya mengapa ia meninggalkan Islam. Itulah sebabnya mengapa ia mengingatkan kita agar berdiri melawan Islam. Itulah sebabnya ia mengkhawatirkan masa depan negara-negara Barat.

Kesaksian Khaled

Ketika saya masih kanak-kanak, saya telah terbiasa untuk pergi ke mesjid setiap hari. Saya selalu pergi kesana untuk sembahyang, membaca Qur’an, membaca ahadith, dan mempelajari tafsir.

Pasal 3 - Penebusan

Saya selalu menghina senyum di wajah mereka (orang Kristen) ketika kami mengkritik, menyakiti, atau merendahkan mereka... Kini saya tahu alasan senyuman mereka. Itu karena kasih, pengampunan, dan toleransi terhadap musuh mereka. Itulah karakteristik orang Kristen yang membawa damai

Sementara elemen-elemen tirani dan ekstremis yang hidup di Iran dan Palestina bisa jadi tidak terlalu mengejutkan dunia Barat – terutama setelah peristiwa 11 September – apa yang terjadi di Mesir sangat mengejutkan. Sedihnya, negeri para Firaun yang merupakan tempat penting yang harus dikunjungi jutaan turis ini juga merupakan sarang ekstremis Islam.

Lagipula, Mesir adalah tempat kelahiran tangan kanan Osama Bin Laden, Ayman Al-Zawahiri. Walaupun dilahirkan dari golongan aristokrat dan dilatih sebagai seorang ahli bedah, Zawahiri, seperti halnya banyak orang muda lain di Mesir, menyangkali latar-belakangnya yang istimewa dan malah lebih tertarik kepada Islam radikal melalui pengajaran Sayyid Qutb, orang yang gagasan-gagasannya membawa organisasi jihad Islam menyatu dengan kekuatan Osama Bin Laden. Bersama-sama mereka membentuk al-Qaeda dan hasilnya adalah catatan sejarah yang tragis. Ini adalah latar-belakang kisah Ahmed Awny Shalakamy.

Kamis, 22 Oktober 2009

Pasal 2 - Mengapa Saya Meninggalkan Islam?

Saya teringat pada satu kesempatan di Betlehem ketika para penonton yang penuh sesak di sebuah bioskop bertepuk-tangan dengan sukacita saat menonton film 21 Hari di Munich. Saat kami melihat orang-orang Palestina ...membunuh atlet-atlet Israel, kami...berteriak,’Allahu Akbar!’ Sebuah slogan sukacita”.


Salah-satu kekuatan yang paling dahsyat di dunia adalah kesaksian yang mengubah hidup. Sebagaimana Parvin dan Homa Darabi, Walid Shoebat juga mengalami jahatnya terorisme karena ia pernah menjalaninya – pada kenyataannya, ia mempraktekkannya. Sewaktu remaja, ia membom sebuah bank di Tanah Suci dan turut serta memukuli seorang tentara Israel. Ketika istrinya yang beragama katolik menantangnya untuk mempelajari Alkitab, hatinya yang keras kemudian menjadi lembut saat ia belajar tentang anugerah, rekonsiliasi, dan kasih yang diberikan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Sekarang Walid menyerukan perlunya toleransi beragama dan kebebasan pribadi. Dan ia berusaha keras, berjalan dari seorang teroris menjadi seorang yang anti teroris.


Kisah Walid Shoebat dengan tajam menunjukkan pada kita apa yang akan terjadi di lingkungan kita jika kita tidak menghentikan terorisme Islam. Ia meninggalkan Islam dengan alasan yang jelas: Islam menghasilkan kekerasan. Ia takut jika kita yang hidup di dunia Barat dan negara-negara non-Muslim lainnya tidak bersatu sekarang, kita akan menghadapi kekerasan Islam yang lebih dahsyat di kemudian hari. Saat itu terjadi, itu tidak terjadi di suatu tempat di seberang lautan – itu akan terjadi di dalam komunitas kita sendiri.


Pasal 1 - Kakakku

Dia akhirnya memutuskan untuk memprotes penindasan terhadap kaum wanita dengan cara membakar dirinya sendiri di tengah alun-alun yang dipadati oleh manusia di utara Teheran pada 21 Februari 1994. Jeritan terakhirnya adalah: ‘Kematian untuk tirani! Hidup kemerdekaan! Hidup Iran!’”


Pada 11 September 2001, dunia menyaksikan mentalitas fundamentalis Islam dari abad ke-7 menaklukkan teknologi abad 21. Hasilnya adalah kekacauan. Natur Islam yang kejam tiba di daratan Amerika – tidak terlupakan dan tidak dapat ditarik kembali. Banyak orang Amerika, bersama dengan orang-orang Barat lainnya, tidak pernah terlalu memikirkan Islam sebelum peristiwa itu terjadi. Tanggal 11 September mengubah semuanya itu, memasukkan Islam ke dunia barat abad 21. Tiba-tiba, Iran dan Irak terlihat tidak lagi jauh, dan orang-orang Barat, terutama kami orang Amerika, ingin belajar lebih banyak lagi mengenai musuh yang tak berwajah ini, yang telah mengumumkan hendak memerangi kami dengan cara yang sangat tak terbayangkan biadabnya. Kami mendapati bahwa kami dikonfrontasi dengan suatu kekuatan yang mematikan yang kami pikir terletak separuh dunia jauhnya dan berasal dari 4 abad lalu.

Kata Pengantar

Sebelum mulai, adalah penting mengkaji ulang sejumlah fakta-fakta dasar dan istilah-istilah mengenai Islam dan struktur otoritasnya. Kitab Suci pertama dan yang terutama mengenai Islam tentu saja Qur’an. Qur’an dapat dianggap sebagai Alkitabnya Islam dan ini adalah kitab suci utama dari Islam. Qur’an seluruhnya diberikan oleh Muhammad, pendiri dan “Nabi” Islam. Makna kata “Qur’an” dalam bahasa Arab adalah “pembacaan” atau “pengajian”. Kitab ini terdiri dari 114 pasal yang disebut Surah.

Meskipun demikian, Qur’an bukanlah satu-satunya sumber tradisi suci atau yang diinspirasikan dalam Islam. Oleh karena jika ia disebut sebagai satu-satunya teks Islam yang dianggap sebagai kata-kata literal dari Allah maka Sunna juga dianggap setara nilainya bagi seluruh Muslim. Kebanyakan Sunna ditemukan dalam sejumlah koleksi tradisi yang dikenal sebagai Hadis. Ingatlah kata itu, sebab ia akan banyak dipakai di seluruh buku ini. “Sunna” dalam bahasa Arab secara literal artinya “jalan yang jelas atau seimbang”.

MENGAPA KAMI MENINGGALKAN ISLAM?


Kepada Siapa Kami Mendedikasikan Buku Ini?

Kami mendedikasikan buku ini untuk ribuan orang tidak bersalah yang dibunuh atas nama Islam – pria dan wanita yang mati pada 11 September 2001, korban bom Bali, Madrid dan London, dan serangan di India dan Pakistan – juga pria dan wanita yang tak terhitung jumlahnya yang terbunuh di Irak dan dalam serangan-serangan lainnya di seluruh dunia. Sejak 11 September 2001, para teroris Islam telah melakukan lebih dari 10.000 serangan teror yang mematikan.

Kami juga mendedikasikan buku ini untuk anak-anak sekolah tidak berdosa yang telah dibantai secara biadab di Rusia dan untuk suster Leonella, seorang biarawati Katolik berusia lanjut yang telah menghabiskan masa hidupnya untuk mengasihi orang-orang Muslim namun hanya untuk mendapatkan sebuah peluru di punggungnya, yang mengakhiri hidupnya. Buku ini juga ditulis sehingga para korban rezim Islam yang mengalami kematian karena dilempari dengan batu, dipotong lengannya karena mencuri, dan mereka yang hidup dalam ketakutan akan kematian karena mereka meninggalkan Islam, supaya mereka tidak dilupakan. Tujuan kami adalah, saat membaca kumpulan kisah hidup ini, dunia akan jelas mendengar jeritan mereka untuk mendapat keadilan dan tangisan mereka untuk mendapatkan pembebasan.

Jika ada agama yang mengijinkan penganiayaan orang-orang yang berbeda kepercayaannya, jika ada agama yang tetap membiarkan wanita berada dalam perbudakan, jika ada agama yang tetap membiarkan orang dalam ketidakpedulian, maka saya tidak dapat memeluk agama tersebut”.

-Tasmila Nasrin: Dokter dan Pengarang

Tidak ada kebenaran di dunia ini selain monoteisme dan mengikuti ajaran Islam, dan tidak ada jalan keselamatan bagi umat manusia selain pemerintahan Islam atas umat manusia”.

-Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad

Bahkan jika kita sepakat bahwa kebanyakan mayoritas Muslim adalah kaum “moderat” dan katakanlah hanya ada kira-kira 20 % orang Muslim yang “literalis”, itu berarti ada sekitar 250 juta orang Muslim di dunia saat ini yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi musuh dunia non-Muslim yang kafir”

-Raymond Ibraham

...Pada 11 September 2001, saya melihat wajah Islam yang sesungguhnya. Saya melihat kegembiraan di wajah bangsa kami karena begitu banyaknya orang kafir yang dibantai dengan mudahnya. Saya sangat syok melihat rakyat kami yang sangat haus membunuh orang-orang kafir tidak berdosa. Saya melihat banyak orang bersyukur kepada Allah atas pembunuhan massal ini. Bangsa kami yang Islami ini mengatakan bahwa Allah telah mengabulkan keinginan kami, dan bahwa ini adalah permulaan penghancuran negara-negara kafir. Bagi saya, ini adalah tidak berperikemanusiaan belaka. Lalu, Imam memohon kepada Allah untuk menolong Taliban memerangi tentara Amerika. Saya sangat marah. Itulah sebabnya saya kemudian berhenti sembahyang”.

-Khaled Waleed, Arab Saudi

Sabtu, 17 Oktober 2009

Catatan Kaki

PENDAHULUAN
1.Samuel S. Zwemer, editor Roger S. Greenway, Islam and the Cross: Selections from “The Apostle to Islam”, (Phillipsburg, P&R Publishing, 2002), h.56

PASAL SATU
1.David Pawson, The Challenge of Islam to Christians (London, Hodder and stoughton, 2003), h.11
2.Ibid
3.Bruce a. Mcdowell and Anees Zaka, Muslims and Christians at The Table (Phillipsburg, P&R Publishing, 1999), h.6
4.Ibid
5.New York Times, 22 Oktober 2001, Jodi Wilgoren, Islam Attracks Converts by the Thousands, Drawn Before and After Attacks,
6.Suratkabar Al-Hayat (London), 12 November 2001, seperti yang dikutip di Middle East Media & Research Institute, 16 November 2001, Muslim American Leaders: A Wave of Conversion to Islam in the U.S. Following September 11
7.Al-Ahram Al-Arabi (Mesir), 20 Oktober 2001, seperti yang dikutip di Middle East & Research Institute, 16 November 2001, Muslim American Leaders: A Wave of Conversion to Islam in the U.S Following September 11
8.The Times, (UK) 7 Januari 2002, Giles Whittell, Allah Came Knocking At My Heart
9.Mcdowell, Zaka, h. 6
10.Ibid, h. 6
11.Ibid, h.7
12.Middle East Media & Research Institute, 16 November 2001, Muslim American Leaders: A Wave of Conversion to Islam in the U.S Following September 11
13.New York Times, 22 Oktober 2001, Jodi Wilgoren, Islam Attracks Converts by the Thousands, drawn Before and After Attacks
14.The Dallas Morning News – 3 November 2001, Susan Hogan,
15.Pawson, h. 36
16.Ibid. 6, 7
17.Al-Jazeera, 12 Desember 2000, Christianization in Africa http://www.aljazeera.net/program/shareea/articles /2000/12/12-12-6.htm Terjemahan Inggris lihat di: http://www.islamreview.com/articles/fastdemiseprint.htm
18.http://isaalmasih.net/
19.Brother Andrew, Light Force, (Grand Rapids, Fleming H. Revell, 2004), h. 140

PASAL DUA
1.Ada sebuah kelompok bidat Islam yang sangat kecil yang hanya menunjuk Qur’an sebagai sumber kepercayaan dan praktek religiusnya. Kelompok ini dikenal dengan nama “The Submitters”.
2.Malik’s Muwatta Book 9, Nomor 9.7.27

Daftar Pustaka

Abdullah, Prof. M., Islam, Jesus, Mehdi, Qadiyanis, and Doomsday, (Adam, New Delhi, 2004)
al-Araby, Abduallah, The Islamization of America, (The Pen vs. the Sword, LosAngeles California, 2003)
Armstrong, Karen, Muhammad: A Biography of the Prophet (Harper Collins Books, 1993)
Amini, Ayatollah Ibrahim, Al-Iman Al-Mahdi: The Just Leader of Humanity, Translated by Dr. Abdulaziz Abdulhussein Sachedina, (Qum, Iran: Anasaryan Publications, 1997)
Brother Andrew, Light Force, (Grand Rapids, Fleming H. Revell, 2004)
Chesler, Phyllis, The New Anti-Semitism, (Jossey Bass, 2003)
Gabriel, Mark A., Islam and the Jews, The Unfinished Battel (Lake Mary, Florida, Charisme House, 2003)
Gabriel, Mark A., Jesus and Muhammad (Lake Mary, Charisma House, 2004)
Gilchrist, John, Jesus to the Muslims, (Benoni, Republic of South Africa, 1986)
Guillaume, A., The Life of Muhammad, (Oxford University Press, 2001)
Henry, Matthew, Matthew Henry Complete Commentary on the Whole Bible, (Henrickson, 1991)
Hitchcock, Mark, The Coming Islamic Invasion of Israel (Multnomah, Sisters, Oregon, 2002)
Izzat, Muhammad ibn, and Muhammad ‘Arif, Al Mahdi and the End of the Time (London, Dar Al-Taqwa, 1997)

Tambahan

Merengkuh Eskatologi Alkitabiah
Inilah pertanyaannya: Mengapa belajar eskatologi/akhir zaman? Tetapi sebelum kita menjawab pertanyaan ini, saya ingin membicarakan beberapa alasan mengapa orang-orang tidak mempelajari eskatologi.

Alasan Pertama: Orang-orang yang mempelajari eskatologi adalah orang aneh
Saya tidak tahu bagaimana pendapat anda, tetapi saya pikir salah satu alasan mengapa banyak orang tidak suka mempelajari eskatologi adalah karena orang-orang yang mempelajari eskatologi yang saya kenal terlihat aneh. Pernahkah anda secara pribadi memperhatikannya? Selama bertahun-tahun, saya telah menghadiri beberapa “Home Group”, yang pada dasarnya merupakan sebuah pertemuan kecil mingguan di rumah orang-orang yang bertujuan untuk membentuk komunitas dan memberikan kekuatan rohani. Dan sepertinya, selalu ada satu orang dalam setiap kelompok itu yang terobsesi dengan akhir jaman. Tidak peduli diskusi apa yang sedang berlangsung, mereka selalu terlihat ingin membicarakan tentang akhir jaman. Hal ini tentunya menjadi pembunuh suasana. Tetapi hal ini juga bisa membuat orang-orang merasa tidak nyaman. Pernahkah anda merasakan hal itu? Secara pribadi, sebagian ketakutan saya ketika menulis buku ini adalah bahwa saya tidak ingin dipandang sebagai “salah satu dari orang-orang itu.”

Barangkali anda berpikiran sama seperti saya dan anda juga tidak ingin dipandang sebagai makhluk aneh, dan untuk alasan itu anda telah menjauhkan diri dari eskatologi. Hal itu dapat dimaklumi.

Pasal 23 - Mempersiapkan Diri Untuk Menjadi Martir

MENJADI BAGIAN DARI DUNIA KRISTEN YANG DIANIAYA
Ketika banyak dari kita yang tinggal di Barat tidak hidup dalam sebuah atmosfer dimana kesyahidan bukanlah sebuah ancaman atau sebuah realitas, adalah sangat penting bagi kita untuk tetap terhubung dengan saudara-saudari kita yang mengalaminya. Pada saat ini ada beberapa negara diseluruh dunia dimana penganiayaan dan kesyahidan adalah sesuatu yang umum terjadi di sana. Saya percaya ada sebuah langkah-langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk menghubungkan hati kita dengan mereka yang hidup di garis depan. Tentu saja gereja Kristen di bumi perlu mengusahakan ikatan persaudaraan yang kuat, saling mendukung dan terhubung satu sama lain. Dan tentu saja kita yang hidup di Barat, yang saat ini “tinggal di negara yang aman,” bisa mengambil manfaat dengan mengecek secara teratur apa yang tengah terjadi di belahan dunia lain.

Yesus menjelaskan prinsip ini pada kita dengan berkata bahwa dimana harta kita berada, di situ juga hati kita berada. “Harta” kita mungkin bisa didefinisikan sebagai sesuatu yang lebih daripada sekedar uang kita. Di samping keuangan kita, waktu dan energi kita pun bisa dikategorikan sebagai harta kita. Jadi jika kita ingin membangun hati yang terhubung dengan mereka yang tinggal di negara-negara dimana terjadi penganiayaan, maka ada hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan. Tentu saja kita bisa memulainya dengan terlebih dahulu mencari tahu siapa mereka dan dimana mereka berada, dan kita bisa mulai mendoakan mereka secara teratur. Jika anda adalah seorang pemimpin atau seorang pastor, saya mendorong anda untuk menyediakan waktu singkat ketika ibadah di gereja tengah berlangsung, untuk mendoakan saudara-saudari kita yang tengah dianiaya di seluruh dunia.

Pasal 22 - Merespon Dengan Penjangkauan

Sementara kuasa dan pentingnya doa adalah sesuatu yang tidak terbantahkan, masih ada dimensi lain terhadap respon kita yang juga sangat penting. Kita harus menjangkau orang-orang Muslim dengan pesan Kristen yang sempurna mengenai Kabar Baik (Injil). Ini adalah sebuah pesan pembebasan bagi mereka yang telah dibelenggu oleh Injil Islam yang palsu, yang justru melahirkan ketakutan. Ini adalah sebuah berita mengenai kasih dan penerimaan bagi mereka yang belum pernah mengetahui bagaimana rasanya diterima dan sepenuhnya dikasihi oleh Tuhan. Ini adalah sebuah berita yang berkata, Tuhan sangat mengasihi anda. Dan inilah cara bagaimana Ia membuktikannya untuk selama-lamanya.... Kita tidak boleh menggunakan berita Injil bagi keuntungan pribadi. Kita juga tidak boleh meremehkan kuasanya. Sesungguhnya, “Ini adalah kekuatan Tuhan untuk menyelamatkan semua yang percaya.” (Roma 1:16)

PENJANGKAUAN
Lalu, bagaimanakah mereka akan berseru kepada Dia yang belum mereka percayai? Dan bagaimana mereka akan percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Dan bagaimana mereka akan mendengar, jika tidak ada yang memberitakan?
Roma 10:14

Tujuan dari pasal ini bukan untuk mendiskusikan metode penjangkauan bagi orang-orang Muslim, melainkan mendiskusikan roh/semangat yang Tuhan inginkan untuk menjangkau orang-orang Muslim, supaya tidak hanya mereka tetapi juga kita bisa ditransformasikan. Namun demikian, saya ingin membuat beberapa komentar mengenai penjangkauan kepada Muslim. Tentu saja ada dua cara utama yang bisa dipakai oleh orang-orang Kristen untuk menjangkau Muslim; di rumah/negeri sendiri atau di luar negeri.

Pasal 21 - Merespon Dengan Doa

ANTIDOT TIDAK ADANYA HARAPAN

Setelah Membaca buku ini, saya percaya banyak orang akan merasa kekurangan pengharapan. “Baiklah jika demikian,” anda mungkin bertanya, “Jika kekaisaran Satanik/Islamik ini akan menguasai dunia dan membunuh jutaan orang, lantas apa yang bisa kita lakukan? Tampaknya hal ini sudah ditetapkan sebelumnya, karena itu kita tak mungkin bisa merubahnya.” Pasal ini akan membahas hal-hal utama yang Tuhan tentukan dan antidot atas semua situasi yang kelihatannya sudah tidak ada lagi harapan, yaitu DOA.

Doa adalah kekuatan signifikan yang paling absolut, dan siapa pun bisa melakukannya. Sayangnya banyak orang mengabaikannya, bahkan di dalam gereja sendiri.
Sebab itu inilah pertanyaan yang harus ditanyakan: Jika Alkitab berkata bahwa semua hal ini akan terjadi, maka mengapa kita tidak menyerahkan diri kita pada “kehendak Tuhan” dan membiarkan saja Islam mengambil alih bangsa-bangsa? Mengapa mesti memperpanjang sesuatu yang sudah ditentukan? Ini semua merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sah-sah saja ditanyakan. Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini didasarkan pada sejumlah asumsi-asumsi yang keliru. Biarkan saya menjelaskannya.

APAKAH NASIB KITA SUDAH DITENTUKAN?
Sejumlah pengajar Alkitab berspekulasi bahwa secara literal setiap bangsa di bumi akan diambil alih oleh sistem Anti Kristus. Kita sudah melihat sejumlah ayat-ayat Alkitab yang menyebutkan hal itu. Posisi saya mengenai subyek ini agak berbeda dengan mereka yang mengambil posisi absolut bahwa memang akan terjadi seperti itu. Saya akan menjelaskan mengapa. Pertama mari kita melihat ayat-ayat yang dipakai untuk menyimpulkan bahwa setiap bangsa akan jatuh ke tangan Anti Kristus dan akan bergabung dengannya untuk menyerang Yerusalem:
Lihatlah, Akulah yang membuat Yerusalem sebagai cawan yang memusingkan bagi semua bangsa sekelilingnya, bahkan hal itu pun terjadi atas Yehuda, pada saat pengepungan terhadap Yerusalem.
Dan terjadilah pada hari itu, Aku akan membuat Yerusalem batu beban bagi semua bangsa. Semua yang mengangkutnya akan terluka parah; dan semua bangsa di bumi akan dikumpulkan melawan dia. Zakhariah 12:2,3

Dan Aku akan mengumpulkan semua bangsa ke Yerusalem untuk peperangan. Dan kota itu akan direbut, dan rumah-rumah akan dijarah, dan wanita-wanita akan diperkosa, dan setengah dari kota itu akan keluar ke pembuangan, tetapi sisa dari umat itu tidak akan diangkut dari kota itu.” Zakhariah 14:2

maka Aku akan mengumpulkan semua bangsa dan membawa mereka turun ke lembah Yosafat, dan Aku akan beperkara dengan mereka di sana, berkenaan dengan umat-Ku dan milik pusaka-Ku Israel... Yoel 3:2

Dan kepadanya ditetapkan untuk melakukan peperangan dengan orang-orang kudus dan untuk menaklukkan mereka. Dan kepadanya diberikan wewenang atas setiap suku dan bahasa dan bangsa. Wahyu 13:7

Mari kita terlebih dahulu melihat ketiga ayat pertama. Karena ayat-ayat ini menggunakan kata “semua” dan secara spesifik kalimatnya berbunyi, “semua bangsa di bumi” ketika membicarakan serangan terhadap Yerusalem dalam perang Harmagedon, maka pastilah telah ditetapkan bahwa setiap bangsa sudah jatuh ke dalam kekuasaan kekaisaran anti-Kristus dan mendukungnya dalam peperangan ini. Saya bisa sepenuhnya memahami bahwa banyak orang akan tiba pada kesimpulan seperti ini.

Meskipun demikian, paling tidak ada dua masalah dengan intepretasi seperti ini: Pertama, ada cukup banyak ayat-ayat dalam Alkitab yang memakai tipe bahasa yang sama, tetapi dengan jelas tidak berbicara mengenai semua bangsa di bumi. Ayat-ayat ini, sama halnya dengan ayat yang ada di atas, semuanya menggunakan sebuah konstruksi grammar Ibrani yang dipakai untuk melebih-lebihkan atau memberikan penekanan dalam usaha menyampaikan poin mereka. Ahli bahasa menyebut konstruksi seperti ini sebagai sebuah hiperbola. Ini seperti berkata, “Semua orang senang ice cream!” atau “Engkau tidak pernah membersihkan dapur,” atau statemen yang lebih tua lagi, “Semua orang Kreta adalah pembohong, kasar dan malas”.

Seringkali untuk meringkaskan, mengelaborasi perkecualian akan menumpulkan pengaruh dari pernyataan. Sebagai contoh, bayangkanlah sebuah rambu yang mengindikasikan batas kecepatan dimana ada sejumlah perkecualian yang juga ditulis di situ: “Batas kecepatan lima puluh, kecuali ambulan, mobil pemadam kebakaran, polisi yang sedang melakukan pengejaran, dan sebagainya.” Tidak mungkin ditulis demikian. Karena itu dalam bahasa yang bersifat eksklusif, perkecualian tidak bisa dianggap tidak ada. Jenis bahasa ini ditemukan cukup sering dalam Alkitab. Sebagai contoh, Nabi Daniel, berbicara kepada raja Nebukadnezar demikian:
Ya raja, Elohim Yang Mahatinggi telah mengaruniakan Nebukadnezar, ayahmu, sebuah kerajaan, dan keagungan, dan kemuliaan dan kehormatan.
Dan karena keagungan yang telah Dia berikan kepadanya itu, maka semua orang, bangsa-bangsa dan bahasa-bahasa gentar dan takut kepadanya. Daniel 5:18,19

Karena itu saya menanyakan pertanyaan ini kepada anda: Apakah setiap bangsa di bumi takut kepada Nebukadnezar? Atau hanya bangsa-bangsa yang pernah mendengar mengenai Nebukadnezar yang takut kepadanya? Apakah Daniel sedang berbicara mengenai setiap bangsa yang ada di bumi? Atau hanya bangsa-bangsa yang sangat dekat dengan pengaruh kerajaan Babilonia? Apakah orang-orang asli Papua Nugini takut kepada Nebukadnezar? Secara pribadi, saya pikir Daniel menggunakan ungkapan, “semua orang, bangsa-bangsa dan bahasa-bahasa” lebih sebagai sebuah ekspresi yang mengandung penekanan yang dipakai untuk menyampaikan poinnya. Atau, bagaimana dengan contoh lainnya yang mirip:
Dan menerima beberapa pemberian dari segala bangsa yang mendengarkan hikmat Salomo, dari semua raja di bumi yang telah mendengar hikmatnya. I Raja-raja 4:34

Apakah hikmat Salomo sedemikian mengagumkannya sehingga tak ada satu pun raja di bumi yang tidak pernah mendengarkan hikmatnya? Atau, apakah ayat ini adalah sebuah ekspresi lain yang dipakai untuk menyampaikan betapa masyurnya nama Salomo? Bagaimana dengan yang satu ini:
Dan dia menangkap hidup-hidup Agag, raja orang Amalek. Namun dia menumpas semua orang dengan mata pedang.
I Samuel 15:8

Haruskah kita melihatnya sebagai hal yang janggal bahwa orang-orang yang dicatat disini “seluruhnya telah ditumpas”, tetapi kemudian mereka kembali lagi melakukan kekacauan sebagaimana yang dicatat hanya beberapa pasal setelah ayat di atas? Sekali lagi, ada beberapa contoh yang mirip diseluruh Alkitab. Apakah anda bisa melihat poin saya?
Sekarang, jika kita kembali melihat pada ayat-ayat di kitab Zakhariah, maka kita bahkan bisa melihat bahwa di sana kelihatannya ada lebih banyak hal-hal spesifik yang disebutkan mengenai bangsa-bangsa mana yang akan terlibat dalam serangan itu:
“Lihatlah, Akulah yang membuat Yerusalem sebagai cawan yang memusingkan bagi semua bangsa sekelilingnya, bahkan hal itu pun terjadi atas Yehuda, pada saat pengepungan terhadap Yerusalem. Zakhariah 12:2

Tentu saja, bangsa-bangsa di sekeliling adalah negara-negara Muslim yang mengelilingi Israel dari setiap sudut. Pada kenyataannya, Nabi Yoel mengkonfirmasikan juga hal ini. Berbicara mengenai serangan akhir terhadap Yerusalem, Yoel menubuatkan:
Maka Aku akan mengumpulkan semua bangsa dan membawa mereka turun ke lembah Yosafat, dan Aku akan beperkara dengan mereka di sana, berkenaan dengan umat-Ku dan milik pusaka-Ku Israel, yang telah mereka serakkan di antara bangsa-bangsa; dan tanah-Ku yang telah mereka bagi-bagi.
Lagi pula apakah kamu bagi-Ku, hai Tirus dan Sidon, dan semua wilayah Filistin? Apakah kamu akan memberikan balasan kembali kepada-Ku? Dan jika kamu sedang memberikan balasan kembali kepada-Ku, maka dengan cepat dan dengan segera Aku akan membalikkan balasanmu itu ke atas kepalamu.
Kabarkanlah ini di antara bangsa-bangsa, persiapkanlah suatu peperangan, bangunkanlah para pahlawan, akan mendekat dan akan maju semua prajurit perang.
Tempalah mata bajakmu menjadi pedang, dan pisau pangkasmu menjadi tombak, biarlah yang lemah mengatakan, “Aku kuat!”
Cepatlah dan datanglah, hai semua bangsa di sekeliling dan yang telah dikumpulkan di sana. Ya YAHWEH, bawalah turun para pahlawan-Mu!
Biarlah bangsa-bangsa bangkit dan datang ke lembah Yosafat, karena di sana Aku akan duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru.
Yoel 3:2,4,9-12

Alkitab New American Standard Bible (NASB) menuliskan dengan huruf miring kata-kata “hai semua bangsa di sekeliling”. Sekali lagi, siapakah ini “bangsa-bangsa yang ada di sekeliling” Israel? Apakah termasuk di dalamnya New Zealand? Canada? Bisa jadi. Tetapi berdasarkan konteksnya, Alkitab secara spesifik mengkaitkannya sebagai negara-negara Islam yang ada di sekeliling Yerusalem/Israel.
Alasan kedua juga menunjukkan bahwa tidak mungkin setiap bangsa berdasarkan posisinya akan jatuh ke dalam kekuasaan Anti Kristus, karena Alkitab mencatat dengan jelas bahwa tidak semua bangsa akan jatuh ketangannya. Kenyataannya, akan ada sejumlah bangsa yang akan melawan Anti Kristus setelah ia menyerang Yerusalem. Perhatikan ayat-ayat dari Daniel sbb:
Pada akhir zaman, raja selatan akan berperang dengannya. Dan raja utara itu akan datang melawannya seperti angin badai, dengan kereta perang, pasukan berkuda dan dengan banyak kapal. Dan dia akan memasuki negeri-negeri, lalu membanjiri dan melintasinya.
Dia akan masuk ke dalam negeri yang mulia dan banyak orang akan tersandung. Tetapi, mereka ini akan terluput dari tangannya, Edom, dan Moab, dan kepala dari kaum Amon.
Dia juga akan mengulurkan tangannya di bumi, dan negeri Mesir tidak akan luput.
Tetapi dia akan menguasai harta benda emas dan perak, dan atas segala barang berharga dari negeri Mesir. Dan orang Libia serta orang Etiopia akan ada di jejaknya.
Namun berita dari timur dan dari utara akan menggelisahkannya. Kemudian dia akan keluar dengan kegeraman yang besar untuk menghancurkan dan membinasakan banyak orang.
Dan dia akan mendirikan kemah-kemah istananya di antara laut dan gunung kudus yang mulia itu. Namun dia akan memasuki sampai pada akhir hidupnya dan tidak ada penolong baginya.”
Daniel 11:40-45

Disebutkan ada sejumlah kecil bangsa yang akan dilepaskan dari tangan Anti Kristus, yaitu Edom, Moab dan para pemimpin Amon. Bangsa-bangsa itu berbicara mengenai negara Yordania pada masa kini. Jadi setidaknya, Yordania tidak akan tunduk kepada Anti Kristus dan juga tidak akan jatuh ke dalam kontrolnya. Secara spesifik ayat ini mendefinisikan bangsa-bangsa yang akan jatuh ke dalam tangannya. Dikatakan “banyak bangsa”. Bukan semua bangsa. Apakah Alkitab berkontradiksi dengan dirinya sendiri? Saya yakin tidak demikian. Saya sangat percaya bahwa setiap suku, kaum, bahasa dan bangsa pasti akan dipengaruhi oleh Anti Kristus. Saya yakin paling tidak Anti Kristus akan diberikan sebuah ukuran pengaruh dan otoritas atas bangsa-bangsa itu dimana di dalam bangsa-bangsa itu ia akan memiliki banyak pengikut. Banyak bangsa akan sepenuhnya didominasi olehnya, tetapi tidak setiap bangsa akan sepenuhnya jatuh ke dalam tangannya. Saya yakin bahwa inilah satu-satunya cara dimana kita bisa merekonsiliasikan semua ayat-ayat yang berkaitan dengan isu ini.

Baiklah, sekarang kita katakan bahwa saya telah memperlihatkan tidak setiap bangsa di bumi akan menyerang Yerusalem bersama dengan Anti Kristus, melainkan bangsa-bangsa dalam jumlah yang memadai sebagaimana yang dibenarkan oleh Zakhariah dan Yoel, memakai ekspresi-ekspresi dengan penekanan. Mengapa saya mengambil waktu sangat banyak membahas poin ini dalam sebuah pasal mengenai doa? Sederhananya, yang menjadi alasan adalah bahwa kendati Alkitab telah memberikan kepada kita sebuah bingkai nubuatan yang sifatnya umum mengenai apa yang akan terjadi pada hari-hari terakhir, banyak dari detil-detil spesifik masih harus dipastikan lagi. Tuhan tidak mewahyukan setiap detil akhir dengan sebuah alasan. Dan memang biasanya Ia jarang melakukannya. Jika Ia melakukannya, maka kita hanya perlu menunggu kedatangan Anti Kristus untuk menangkap kita. Tindakan kita menggali lubang tempat persembunyian untuk menyimpan makanan bagi persediaan akan sepenuhnya dibenarkan. Tetapi bukan itu yang Tuhan mau. Ia mau supaya kita bergulat dengannya di dalam doa, bukan hanya demi diri kita atau keluarga kita, tetapi juga untuk bangsa dimana kita hidup dan yang kita sebut sebagai rumah. Sebagai contoh, Tuhan tidak memperingatkan David Pawson bahwa Islam suatu saat nanti akan benar-benar menguasai Inggris, sehingga ia bisa memiliki waktu yang cukup untuk melarikan diri dari negaranya. Yang Tuhan lakukan adalah memperingatkan Gereja Inggris untuk bersama-sama mendoakan jiwa-jiwa yang ada di negara itu! Memang Islam mengajarkan untuk sepenuhnya berserah kepada nasib dengan menganggap segala sesuatu terjadi karena takdir Allah: “Insyaallah,” (jika ini adalah kehendak Allah...maka akan terjadi demikian) kata mereka. Tetapi kita melayani Tuhan yang meminta kita untuk berpartisipasi dengannya untuk menyebarkan kerajaanNya yang indah diseluruh bumi melalui kotbah (undangan) dan doa.

Poinnya di sini adalah jika anda menemukan diri anda merasa putus asa setelah membaca skenario yang telah dibukakan dalam buku ini, jangan sekali-kali menjadi takut; masih ada sesuatu yang bisa anda lakukan: Anda bisa berdoa, anda bisa berdoa, dan anda masih bisa lebih banyak lagi berdoa. Dan anda juga bisa bergabung dengan mereka yang melakukan hal yang sama. Jangan pernah memandang rendah kuasa dari sebuah doa yang kuat untuk mempengaruhi realitas dan akhir dari hal apa pun. Ingat, ceritanya belum berakhir, hingga semuanya terjadi. Saya sangat percaya bahwa pasal terakhir dari cerita yang akan terjadi kepada banyak bangsa akan ditentukan oleh doa yang kuat. Tuhan sendiri memberikan kepada kita kemampuan untuk secara literal mempengaruhi tingkatan kasih karunia dengan tingkatan penghakimannya yang akan menyentuh rumah, kota-kota, wilayah dan bahkan bangsa kita. Setiap bangsa akan menerima ukuran tersendiri dari penghakiman Tuhan. Sesungguhnya, setiap orang di bumi akan masuk ke dalam proses pemurnian yang dalam selama kurun waktu tiga setengah tahun dari periode yang mengerikan ini. Setiap hal yang dapat digoncangkan akan digoncangkan. Jadi sekaranglah waktu untuk berseru agar Tuhan memberikan kasih karunianya untuk hari-hari yang akan datang.

Ada juga aspek yang sangat penting lainnya dari doa yang harus disebutkan. Saya juga percaya bahwa doa bisa mencegah penghakiman Tuhan dan menyediakan lebih banyak waktu bagi perubahan-perubahan positif. Kita harus ingat alasan sehingga Tuhan masih menunda kedatanganNya adalah supaya lebih banyak lagi orang yang akan mengenal Dia dan diselamatkan.
Tuhan tidak menunda akan janji-Nya sebagaimana beberapa orang menganggap sebagai kelambanan, sebaliknya, Dia bersabar terhadap kita karena tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang memperoleh pertobatan.
2 Petrus 3:9

Akan ada kebangunan-kebangunan rohani yang dramatis di banyak bangsa yang akan memperpendek kedatangan akhir zaman, sementara akan sedikit kemungkinan terjadinya kebangunan rohani yang dramatis jika akhir zaman itu terjadi sekarang. Kendati secara pribadi saya meyakini bahwa hari itu akan tiba ketika nubuatan-nubuatan dalam Alkitab digenapi, saya meyakini bahwa kita bisa mendesak Tuhan untuk memberikan kepada kita lebih banyak lagi waktu untuk menuangkan kebangunan rohani kepada bangsa kita sebelum hari-hari yang gelap ini terjadi. Doa bisa meredakan amarahNya supaya anugerahnya memiliki lebih banyak lagi waktu untuk bekerja dalam hati sebuah bangsa.

Tuhan datang untuk berbicara kepada Musa. Ia berkata bahwa ia akan menghakimi dan menghancurkan umat Israel. Kebanyakan kita mungkin berpendapat bahwa kesempatan bagi Israel sudah cukup. Tuhan sudah menyatakan rencanaNya untuk melenyapkan mereka. Tetapi Musa tidak bisa menerima hal itu. Ia coba mencegah rencana Tuhan dengan berdiri sebagai penengah antara Tuhan dengan bangsanya.

Dan berfirmanlah YAHWEH kepada Musa, “Aku telah melihat bangsa ini; dan sungguh inilah bangsa yang tegar tengkuk.
Dan sekarang tinggalkanlah Aku sendirian, dan biarlah murka-Ku tersulut terhadap mereka, dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi Aku akan menjadikan engkau suatu bangsa yang besar.”
Dan Musa pun memohon dengan sangat di hadapan YAHWEH, Elohimnya, dan berkata, “Mengapakah YAHWEH, murka-Mu tersulut terhadap umat-Mu yang telah Engkau bawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?
Mengapakah orang-orang Mesir akan berkata sambil mengatakan: Dengan niat jahat Dia telah membawa mereka ke luar untuk membunuh mereka di pegunungan dan untuk membinasakan mereka di atas permukaan bumi ini? Berbaliklah dari nyala murka-Mu dan menyesallah atas yang jahat terhadap umat-Mu.

Ingatlah akan Abraham, akan Ishak, dan akan Israel, hamba-hamba-Mu, yang kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri, dan Engkau telah berfirman kepada mereka: Aku akan melipatgandakan keturunanmu seperti bintang-bintang di langit, dan seluruh negeri ini yang telah Kukatakan akan Kuberikan kepada keturunanmu, juga akan mereka miliki untuk selamanya.”
Dan YAHWEH akan menyesal atas yang jahat yang telah Dia firmankan untuk melakukannya pada umat-Nya. Keluaran 32:9-14

Sekarang pulanglah ke rumah dan putar ulang adegan ini. Pertama Tuhan berbicara kepada Musa: “Dan sekarang tinggalkanlah Aku sendirian, dan biarlah murka-Ku tersulut terhadap mereka, dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi Aku akan menjadikan engkau suatu bangsa yang besar.” Oke, sekarang tekan tombol pause...Sekarang mari kita masukkan sejumlah teolog ke dalam adegan ini untuk mendiskusikan apakah Tuhan akan menghancurkan Israel atau tidak. “Tentu saja Ia akan menghancurkan mereka,” mereka semuanya setuju, sebab Tuhan telah menyampaikan hal itu dan Ia pasti melakukan apa yang Ia katakan. Banyak orang yang mungkin akan memberikan argumentasi yang sama hari ini. Barangkali anda merasa bahwa penghakiman adalah sesuatu yang tidak lagi bisa dihindarkan dari bangsa kita. Baiklah. Sekarang, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan mengomel dengan keras? Atau, apakah anda akan menjadi penengah seperti yang dilakukan oleh Musa? Mungkin Tuhan akan melaksanakan penghakimanNya atas bangsa anda. Atau, barangkali Ia akan membatalkannya.

Carilah YAHWEH, hai semua orang yang rendah hati di bumi, yaitu orang-orang yang telah melakukan perintah-perintah-Nya. Carilah kebenaran, carilah kerendahan hati, kiranya kamu dilindungi pada hari kemurkaan YAHWEH. Zefanya 2:3

“Bahkan, sekarang jugalah,” firman YAHWEH, “Berbaliklah kepada-Ku dengan sepenuh hatimu, dan dengan berpuasa, dan dengan menangis, dan dengan meratap!”
Dan, koyakkanlah hatimu dan bukan pakaianmu; dan kembalilah kepada YAHWEH, Elohimmu! Sebab, Dia pengasih dan penyayang, lambat untuk marah dan berlimpah kasih setia, dan Dia menyesal akan yang jahat.
Siapa tahu Dia akan berbalik dan menyesal, dan meninggalkan suatu berkat di belakang-Nya, suatu persembahan sajian dan persembahan curahan bagi YAHWEH, Elohimmu!
Yoel 2:12-14

Saya secara pribadi yakin bahwa sekarang kita sedang hidup pada masa-masa yang genting ketika masa depan banyak bangsa tengah dipertaruhkan. Sekarang bukanlah waktunya untuk menjadi takut. Ini juga bukanlah waktunya untuk berkeluh kesah. Sekaranglah waktunya untuk berdoa!

Saya ingin mengakhiri pasal ini dengan mengutip sebagian dari artikel yang ditulis oleh pengajar dan pengarang Alkitab yang terkenal, Francis Frangipane. Saya merasa terispirasi oleh artikel Francis ketika ia membahas isu yang tengah kita diskusikan dan saya yakin anda juga akan merasakan hal yang sama.

Konflik dihadapan generasi kita tak kurang mengancam dibandingkan Naziisme dan imperialisme Soviet. Islam radikal adalah sebuah kekuatan Iblis yang sedang berusaha mendominasi dunia. Kita tidak boleh kalah dalam perang melawan terorisme dan moralitas. Kita tak boleh takut atau kehilangan iman, sebab kita dilahirkan untuk berperang dan memenangkan pertempuran pada masa dimana kita hidup. Sekali lagi argumen yang timbul,”Saya diajari bahwa kehidupan seharusnya terus bertumbuh bahkan hingga kedatangan Yesus Kristus.” Ya, hari itu pasti akan datang, tetapi kita tidak boleh berasumsi bahwa hari itu sudah datang. Di sepanjang zaman Tuhan menuntut kita untuk berjalan sebagai para pemenang. Kenyataan bahwa masih ada bangsa-bangsa hari ini yang masih mengalami panen raya dan terobosan-terobosan mengingatkan kita bahwa masih ada waktu untuk bangsa-bangsa kita. Salah seorang pembaca kami mengirimkan pada kami petikan dari Aragon, Raja Gondor, dalam kisah Kepulangan seorang Raja. Penulis buku ini adalah J.R.R. Tolkien, seorang berkewarganegaraan Inggris, yang menolak jika bukunya dikaitkan dengan Perang Besar. Tetapi kebanyakan dari manuskripnya ditulis selama puncak Perang Dunia Ke-2. Buku ini adalah sebuah metafor dari semua pertempuran yang harus dihadapi oleh setiap generasi untuk mengalahkan kejahatan....
“Dianggap tak memiliki harapan, dimana tampaknya tak bisa lagi dihindarkan sebuah kekalahan yang pasti melawan gerombolan musuh dari neraka yang kejam, maka Raja Aragon berusaha untuk kembali menginspirasikan para tentaranya. Dengan menunggangi kuda di depan para tentaranya, dengan persenjataan yang minim, ia berseru,”Saya melihat di mata anda ketakutan yang sama yang juga menggetarkan hatiku. Akan datang suatu hari ketika orang-orang berani akan jatuh, yaitu ketika kita mengabaikan teman-teman kita, dan menghancurkan semua ikatan persekutuan. Tetapi itu tidak terjadi hari ini. Hari ini kita akan bertempur! ...dengan semua yang kamu kasihi di bumi yang baik ini, aku meminta kamu semua untuk tetap berdiri bersama-sama dengan aku, hai para pria Barat!”1

Kepada siapa aku hanya bisa menambahkan sebuah ucapan terimakasih yang sepenuh hati, Amin!

Pasal 20 - Pemikiran Selanjutnya

Setelah membahas dan menawarkan resolusi pada sejumlah tantangan-tantangan potensial terhadap tesis yang dipresentasikan dalam buku ini, maka sekarang kita akan menuju pada beberapa pemikiran akhir.

HANYA KEBETULAN?
Ketika saya mulai mempelajari eskatologi Islam dan banyaknya kemiripan antara Anti-Kristus Biblika dengan Islamik Mahdi, maka saya menjadi terheran-heran. Tetapi sementara saya mulai melihat bahwa kemiripan ini diperluas jauh dari hanya sekedar Mahdi dan Anti Kristus, saya tahu bahwa subyek ini menuntut sebuah studi yang komprehensif. Saya harus “menyaksikan sendiri seberapa dalam lubang kelinci ini” membawa saya. Sementara terdapat kemiripan antara dua sistem eskatologi, satu subyek dengan subyek lainnya, kesimpulan pribadi saya adalah bahwa kemiripan-kemiripan yang banyak ini bukanlah sebuah kebetulan. Di sana ada bukti yang jelas akan tujuan dan disainnya.

Dalam pasal delapan belas, saya mendaftarkan 22 kemiripan yang sangat kuat antara pandangan eskatologis Alkitab dengan Islam mengenai hari-hari terakhir. Saya yakin bahwa daftar ini masih bisa diperbanyak. Beberapa hal yang paralel, diantaranya sangat menarik. Pikirkanlah sebuah fakta sebagai contoh: Para sarjana Alkitab dan para pelajar nubuatan Alkitab telah menyimpulkan bahwa Anti Kristus akan mengadakan “perjanjian damai” dengan Israel selama tujuh tahun. Perjanjian ini diyakini oleh banyak orang, akan memasukkan ke dalamnya sebuah konsesi yang akan mengijinkan Israel untuk membangun kembali bait Suci Yahudi di Yerusalem. Skenario yang sama persis diperlihatkan oleh tradisi Islam bahwa Mahdi akan memediasi sebuah “perjanjian damai” dengan orang-orang Kristen melalui seorang Yahudi dari suku Lewi, yaitu suku darimana para imam Yahudi berasal. Seorang Lewi akan menjadi seorang agen penting untuk mewakili orang-orang Yahudi dalam membangun kembali Bait Suci mereka. Ajaibnya, kurun waktu Islamik di sini adalah tepat selama tujuh tahun. Hal ini adalah sebuah paralel yang terlalu detil dan spesifik untuk dituliskan, sehingga kita menganggapnya sebagai sebuah kebetulan. Dan barangkali inilah elemen yang paling tidak signifikan dari semua paralel-paralel yang ada.

Dalam memikirkan implikasi dari kenyataan bahwa “manusia jahat” terbesar dalam Alkitab; yaitu Anti Kristus, secara literal telah ditransformasikan ke dalam kedatangan juru selamat Islam, sementara manusia baik terbesar dalam Alkitab, yang namanya adalah Yesus, telah ditransformasikan menjadi “manusia jahat” terbesar dalam eskatologi Islam. Seseorang harus mau menanyakan pertanyaan berikut: Apakah Setan secara spesifik telah terlibat dalam penginspirasian doktrin akhir zamannya Islam? Apakah Setan melalui tradisi-tradisi Islam, telah menemukan suatu cara untuk melaksanakan rencana akhirnya? Sekarang sebagaimana yang bisa kita saksikan, tentu saja dalam sejarah natural ada orang-orang yang nyata dan perkembangan-perkembangan dalam jumlah besar yang berkontribusi bagi pembentukan tradisi-tradisi ini. Tetapi saya berbicara dari faktor-faktor dan makluk-makluk rohani yang tidak kelihatan yang ada di belakang pembentukan tradisi-tradisi ini. Kekhususan, detil dan cakupan dari hal-hal yang paralel menuntut pengakuan disain, sementara natur membengkokkan dan bersikap sinis terhadap hal-hal yang “anti-paralel”, dengan jelas menunjukkan sifat dengki dari “orang” yang melakukannya. Saya mengerti bahwa apa yang saya nyatakan barusan kelihatannya seperti sebuah pernyataan paranoid. Tetapi pikirkanlah seluruh fakta-fakta ini: Ketika Tuhan mewahyukan kitab Wahyu kepada rasul Yohanes, Ia pada saat yang sama menyingkapkan rencana terbesar Setan untuk menyesatkan dunia. Rencana Setan pun diekspos. Menemukan dirinya dalam posisi seperti itu, mungkinkah Setan, dengan tabiatnya yang licik itu, memutuskan bahwa adalah penting untuk menciptakan sebuah tradisi yang kuat yang berisi sebuah “anti-paralel” dari rencana besarnya?

Jika demikian, Setan masih bisa bersikap kurang ajar, yaitu dengan masih membawa-bawa apa yang telah Tuhan katakan akan Ia lakukan, tetapi pada saat yang sama ia masih bisa memperdayakan sebagian besar dunia semantara ia (Setan) melakukannya. Jika ini yang terjadi, maka ketika Anti Kristus datang sebagaimana yang telah dinubuatkan dalam Alkitab, Setan telah memperlihatkan Anti Kristus itu kepada sekurangnya 1,5 milyar orang Muslim, dimana mereka akan mengenali sang Anti Kristus melalui tradisi-tradisi dan nubuatan-nubuatan yang sudah berusia 1400 tahun yang telah memprediksikan kedatangan seorang “penyelamat” yang menakjubkan. Sebagai oknum yang menginspirasikan berdirinya tradisi akan kedatangan seorang Anti Kristus seperti itu dalam sebuah agama dunia yang bersemangat, maka Setan sebenarnya telah menyiapkan seperlima penduduk dunia untuk menyambut dan menerima kedatangan Anti Kristus dengan tangan terbuka. Tampaknya seluruh dunia Islam, yang berkembang dengan cepat, secara literal telah dipersiapkan untuk melaksanakan rencana dari musuh terbesar Tuhan. Jika ini yang sedang terjadi, maka tidak hanya dikatakan bahwa “Setan hidup dengan sejahtera di Planet Bumi,” tetapi bisa dikatakan lebih spesifik lagi: “
Setan hidup dengan sejahtera dalam sebuah agama dunia yang bertumbuh paling cepat.”

SISI BAIK ISLAM
Sebelum kita membahas lebih jauh, harus ditunjukkan bahwa meski buku ini lebih banyak terfokus pada sisi yang paling negatif dari Islam, kita juga bisa mengkualifikasikan di sini bahwa Islam sebagai sebuah agama juga dipenuhi dengan banyak hal-hal baik, kesalehan, hal-hal yang layak dipuji dan agung. Seseorang bisa menunjukkan doa yang penuh dengan kesungguhan yang menjadi kekuatan Islam atau arsitektur dan seni Islam yang sangat indah. Pada kenyataannya ada banyak hal mengenai Islam dan budaya Islam yang saya secara pribadi menemukannya sebagai hal yang atraktif dan berkesan. Menyangkali sisi Islam ini sama seperti kita membenamkan kepala kita di dalam pasir.

Tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh Oswald Chambers dalam buku devosional Kristen klasiknya “My Utmost for His Highest”, dimana ia berkata: “yang baik selalu merupakan yang paling kuat dari musuh”. Ini sebuah konsep penting untuk kita pegang. Alasannya adalah bahwa Setan telah mengetahui hal ini jauh sebelumnya dan secara efektif memakai konsep ini sebagai salah satu dari peralatan terbaiknya untuk menyesatkan banyak orang. Islam memiliki banyak ekspresi-ekspresi religius di dalam dan di luar yang tampaknya cukup baik; dan banyak yang memiliki kemiripan yang kuat dengan yang saya temukan dalam kekristenan. Tentu saja, agama Islam tanpa Injil Yesus yang asli tidak akan pernah membawa orang kepada hubungan yang benar dengan Tuhan. Tak peduli sebanyak apa pun ciri-ciri dan tradisi-tradisi mengagumkan yang dimiliki oleh Islam, tetapi ia gagal mencapai hal yang paling utama dalam kehidupan.

Yesus bukan hanya sekedar seorang nabi yang lain; tetapi Ia adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yohanes 14:6). Dalam pengertian ini, kita bisa melihat dengan jelas natur dari Anti Kristus Islam. Bagaimana bisa? Sebab kata “Anti Kristus” memiliki arti ganda. Tidak hanya bahwa Anti Kristus itu artinya “melawan Kristus”, ia juga mengandung pengertian “selain dari Kristus” – sebuah substitusi. Dalam Islam, saya bisa melihat sebuah bentuk substitusi Kristen yang ditata dengan sangat ahli. Islam adalah sebuah agama yang memiliki banyak kemiripan dengan yang asli, meskipun ia tidak memiliki semua aspek-aspek yang esensial dari yang asli itu, yaitu sebuah hubungan dengan Tuhan alam semesta yang sejati melalui Yesus Kristus. Ini sebuah mode esensial yang Tuhan pilih dan tetapkan untuk berhubungan dengan manusia. Islam berusaha untuk menyingkirkan hal ini. Bagi Kekristenan, adalah sulit untuk menciptakan sebuah contoh yang lebih baik dari seorang Kristus dengan versi lebih rendah dibandingkan bagi Islam.

Dan dalam pengertian ini, Islam adalah “baik” yaitu bahwa ia adalah musuh yang paling tinggi. Sebab itu, bahaya Islam bukan hanya sisi gelapnya yang terlihat jelas tetapi juga sisi terangnya. Sebab aspek-aspek Islam itulah, yaitu yang mirip dengan sebuah hubungan sejati dengan Tuhan, yang membuatnya mudah diterima oleh banyak orang yang mendasarkan keputusan mereka pada sebuah pengujian yang tidak lengkap terhadap kedua agama itu. Setan itu licik dan penuh tipu daya. Tanpa dilapisi dengan kesalehan, maka Islam tidak akan bisa diterima oleh siapa pun, tetapi Setan selalu menutupi racun dengan permen yang manis. Setan dengan gembira rela menderita dan mengijinkan banyak elemen-elemen yang baik dimasukkan ke dalam agama Islam untuk menukar ketiadaan elemen esensial dan fundamental dari sebuah hubungan yang benar dengan Tuhan, yaitu Yesus sejati – satu-satunya Juru Selamat dunia.

JIKA BUKAN ISLAM, LALU APA?
Setelah semua informasi diuji, masih ada satu pertanyaan penting terakhir yang perlu untuk ditanyakan: Jika Islam bukanlah sistem Anti Kristus, lalu apa?
Di Amerika, kita cenderung menjadi masyarakat yang Amerika sentris. Sebagai orang-orang Kristen Amerika kita selalu membaca Alkitab berdasarkan pengalaman pribadi kita sebagai orang Amerika. Saat ini, di Amerika dan di banyak negara lainnya, secara umum “musuh” terbesar kekristenan hari ini adalah “progresif” sekularis – kaum sayap kiri dan para penganut berbagai bentuk agama Zaman Baru (New Age). David Limbaugh, komentator sosial dan politik, dalam bukunya “Persecution: How Liberal Are Waging War Agains Christianity” memberikan detil-detil bertumbuhnya kecenderungan bersikap prejudis, diskriminatif dan kebencian terhadap kekristenan di Amerika. Limbaugh secara akurat mengidentifikasikan semakin bertumbuhnya sebuah kebencian yang asli terhadap kekristenan di Amerika Serikat.

Dengan demikian, banyak orang-orang Kristen Amerika akan menyaksikan satu hari ketika kebencian dari para sekularis progresif terhadap kekristenan akan mendidih menjadi sebuah kegeraman sehingga sejumlah orang akan merasa bahwa tindakannya bisa dibenarkan ketika mereka membunuh orang-orang Kristen. Meskipun saya sendiri memiliki kebencian yang kuat yang diarahkan kepada kekristenan, dan sementara analisa Limbaugh sepenuhnya akurat, saya secara pribadi menemukan bahwa adalah sulit untuk mempercayai bahwa liberalisme dan sekularisme seperti ini cukup kuat untuk dianggap sebagai tabiat membunuh yang terorganisir, yang akan berlangsung pada hari-hari terakhir, seperti yang dikatakan oleh Alkitab. Barangkali penglihatan orang-orang Kristen Amerika terlalu kabur ketika mereka mencoba untuk memvisualisasikan atau berspekulasi tentang siapakah sebenarnya penganiaya mereka di akhir zaman. Ketika Yesus berkata bahwa harinya akan datang “ketika mereka yang membunuh kamu berpikir bahwa mereka sedang melayani Tuhan,” adalah penting untuk tidak hanya memiliki keyakinan akan adanya satu Tuhan, tetapi juga keyakinan kepada sebuah sistem agama dengan mentalitas bahwa membunuh dengan nama Allah adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Secara pribadi saya tidak melihat bahwa liberalisme, humanisme, atau bahkan okultisme bisa diperhitungkan dalam deskripsi spesifik Yesus ketika Ia memberikan peringatan ini. Barangkali, jika dalam beberapa dekade yang akan datang, humanisme, sekularisme, okultisme, dan beberapa bentuk agama Zaman Baru berubah menjadi sebuah gerakan dunia kohesif yang populer, maka dalam kasus ini ia bisa dianggap sebagai sebuah sistem yang akan bertanggungjawab atas terjadinya penganiayaan atas seluruh bumi. Tetapi saat ini, sistem seperti itu belum ada. Saya tidak menemukan ada cukup bukti untuk menerima pendapat bahwa salah satu dari “isme” yang disebut di atas adalah calon yang memiliki legitimasi untuk menggenapi nubuatan Yesus mengenai orang-orang yang akan membunuh orang-orang Kristen dan berpikir bahwa mereka sedang melayani Tuhan ketika melakukannya.

Tetapi Islam secara sempurna cocok dengan nubuatan Yesus. Dan selagi kita mendiskusikannya di pasal-pasal sebelumnya, Islam juga secara sempurna menggenapi nubuatan Yohanes mengenai sebuah sistem yang berlaku di seluruh dunia yang menggunakan cara “memenggal kepala” sebagai metode utama atau mode operasi untuk memaksakan hukum-hukumnya. Tetapi bagaimana kita bisa sampai tidak memperhatikan hal ini? Islam adalah agama kedua terbesar dengan pertumbuhan paling cepat di dunia. Apakah kita bisa buta seperti itu? Untuk bersikap adil, hingga peristiwa 11 September, Islam sepertinya berada di luar radar kebanyakan orang-orang Kristen Amerika. Dan dengan banyak cara, Islam sebagai sebuah agama sepertinya diabaikan sebagai sebuah kekuatan dunia selama berabad-abad lamanya. Tetapi Islam perlahan-lahan dan dengan pasti bertumbuh di sepanjang abad ke dua puluh, dan mulai menunjukkan eksistensinya dengan datangnya Islam radikal di Iran dan Mesir yang kemudian memicu jaringan gerakan jihad sedunia, yang sebelumnya belum pernah ada baik dalam sejarah Islam maupun sejarah dunia. Banyak orang yang hari ini mendeklarasikan bahwa “abad ke dua puluh satu akan menjadi abad Islam”. Selagi banyak orang berspekulasi bahwa Amerika akan terlibat dalam perang dunia ketiga, Muslim sedang mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa mereka sedang melakukan Jihad besar yang ketiga. Karena itu, mungkin dengan masih tersisa waktu satu jam lagi, Islam sekarang akhirnya telah menarik perhatian kita. Dan setelah kita mempelajari natur Islam dalam terang nubuatan Biblika/Alkitab, kita bisa lihat bahwa tidak hanya secara mendetil ia cocok dengan deskripsi Nubuatan Biblika, tetapi bahwa sekarang selama seribu empat ratus tahun, ia sudah melakukan infiltrasi ke setiap sudut bumi. Saya percaya bahwa panggungnya sudah terpasang.