Rabu, 04 November 2009

Pasal 8 - Sebuah Perjalanan Menuju Pencerahan

“Semakin banyak saya membaca Qur’an; semakin saya menyadari bahwa kitab tersebut tidak mungkin berasal dari Tuhan yang sejati… saya merasa bebas sekarang. Bebas dari rasa takut. Sebuah agama seharusnya memberikan alasan bagi umat manusia untuk hidup. Islam memberikan alasan untuk mati.”

Keputusan untuk beragama seharusnya dihormati sama halnya dengan pilihan untuk tidak beragama. Sementara banyak orang terkejut dan takut oleh beberapa pernyataan dari kitab tersebut, bagi orang lain, kitab tersebut menyuarakan kebenaran. Hal itu adalah sebuah kebenaran yang telah mereka jalani dan yang ingin mereka bagikan. Asad menceritakan kisahnya bukan untuk mengejutkan, tetapi untuk membukakan pengalamannya. Hal ini merupakan suatu pengalaman yang telah mengubah hidup dan cara berpikirnya. Seperti kebanyakan mahasiswa, Asad menemukan inspirasi dari seorang profesor di fakultasnya. Namun ketika dosennya mengkritik Islam, dia melihat bagaimana teman-temannya para mahasiswa tidak mau bertoleransi terhadap siapa saja tidak mau memeluk Islam dengan segenap hati.

Hal ini diperlihatkan melalui reaksi yang keras dan sikap bermusuhan dalam sebuah skala global kepada orang-orang yang menerima kritikan terhadap Islam. Kepada kebanyakan daripada kita yang hidup di Barat, kartun merupakan sumber kesenangan. Seringkali kartun melintasi garis pembenaran politis, tetapi dalam masyarakat yang toleran kami telah belajar untuk menerima bahwa orang seharusnya bebas memutar sebuah sisi yang berbeda dari sebuah cerita.

Kebanyakan dari kami yang ada di Barat, jika kami merasa gusar dengan apa yang kami baca di Surat Kabar, maka kami bisa menyampaikan keluhan kepada editor publikasi dan terkadang kami pun diijinkan untuk mengambil tindakan hukum.

Merupakan hal yang mengejutkan bagi kebanyakan orang ketika sebuah surat kabar Denmark mencetak ulang gambar kartun Nabi Muhammad, suatu Perang Suci akan berlangsung tidak hanya melawan penerbit yang telah menyakiti tetapi juga melawan Denmark, dan bahwa akan ada nyawa melayang dalam pertarungan itu. Sesungguhnya, hal ini sulit dipahami sebagai keuntungan dari penerbitan kartun tersebut, sebab kemudian Saudi Arabia menarik duta besarnya dari Denmark, Libya bahkan akan menutup kedutaannya, Presiden Iran akan membatalkan semua kontrak kerjasama dengan semua negara yang mempublikasikan ulang kartun tersebut, dan di Gaza, orang-orang yang memiliki hubungan dengan Denmark diberi waktu empat puluh delapan jam untuk meninggalkan Gaza. Meski demikian, hal itu dilakukan untuk menunjukkan reaksi terhadap penerbitan kartun tersebut, maka adalah sulit untuk memahami pola pikir manusia yang melukai Asad. Bukan masalah sebenarnya bahwa dia sendiri setuju dengan profesor di kampusnya, tetapi dia menghormati pendapatnya dan merasa bahwa dia berhak mendapatkan penghargaan lebih dari teman-teman mahasiswanya dan tentu saja tidak seharusnya menjadi korban dari kebencian.

Tidak semua orang yang lahir ke dalam Islam menerimanya. Cerita ini mengingatkan kita bahwa orang-orang di Timur dapat meninggalkan rantai besi Islam yang membelenggu mereka. Tetapi cerita ini juga menunjukkan secara nyata – Islam tidak memberi kebebasan berpikir.

Kesaksian Asad
Perjalanan saya menuju pencerahan dimulai ketika saya berada di tahun terakhir pendidikan medis. Pada suatu hari, ketika saya sedang shalat di ruang rehat kampus saya, salah seorang profesor saya memasuki ruangan. Dia duduk di ruangan tersebut dan memperhatikan saya yang sedang shalat. Ketika saya selesai, dia berkata, “Nak, bisakah saya memberimu suatu nasehat?”

Saya menjawab, “tentu, Pak.”

Kemudian dia mengucapkan sesuatu yang tidak akan saya lupakan selamanya. Inilah kata-katanya: ‘Jangan membuang-buang waktumu untuk mencium lantai. Islam itu buruk. Islam merupakan ideologi kebencian dari orang gila. Quran hanyalah sebuah buku tentang omong kosong.”

Saya terkejut. profesor ini adalah orang yang baik. Kebanyakan mahasiswa menyukainya. Dia bahkan memberi waktu lebih untuk mengajajar kami. Lebih dari semuanya, saya sangat meyukainya. Saya berpikir, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu? Saya tetap diam dan berjalan keluar ruangan.

Beberapa hari kemudian, saya bercerita kepada teman sekamar saya mengenai kejadian itu. Dia mengatakan bahwa sudah diketahui secara umum kalau profesor adalah seorang atheis. Teman sekamar saya mengatakan bagaimana dia membenci profesor itu. Saya tercengang. Teman sekamar saya selalu mencari profesor itu manakala ia memerlukannya berkaitan dengan mata pelajarannya, tetapi dia membenci profesor itu. Kemudian saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya harus menyelamatkan orang ini dari neraka. Saya mengira, ketika saya mengerti Islam secara dalam, saya akan mampu untuk menjelaskan kepadanya tentang kebenaran Islam. Saya membawa Quran terjemahan Yusuf Ali dan sebuah terjemahan Sahih Bukhari. Itu adalah titik kilas balik dalam hidup saya. Semakin banyak saya membaca Quran semakin saya menyadari bahwa kitab tersebut tidak mungkin berasal dari Tuhan. Ayat-ayat mengenai pembantaian akhirnya memecahkan tempurung kepala saya. Saya bebas sekarang! Bebas dari rasa takut! Sebuah agama seharusnya memberikan alasan bagi umat manusia untuk hidup. Islam memberikan alasan untuk mati.

Sayangnya, sebelum saya dapat memberitahu sang profesor mengenai pencerahan yang saya peroleh, dia meninggal karena serangan jantung. Itu merupakan hari yang menyedihkan bagi saya. Saya satu-satunya “orang Muslim” yang menghadiri pemakamannya. Mahasiswa Muslim lainnya yang saya temui mengatakan kepada saya bahwa profesor itu akan masuk neraka. Tuhan seperti apakah yang menghukum orang besar seperti itu untuk masuk neraka? Satu hal yang dapat diyakini adalah orang Muslim telah membuat hidup saya seperti di dalam neraka. Menuliskan hal ini kepada anda merupakan satu-satunya kemewahan spiritual yang saya miliki di negara Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar