Sabtu, 28 November 2009

Bab 11 KITAB SUCI Analisis Sebuah Kitab Yang Paling Sahih

Pendahuluan

Walaupun sebagian besar masyarakat mengetahui bahwa kitab suci umat Muslim disebut Alquran, mereka umumnya tidak mengetahui bahwa agama Islam mempunyai kitab suci lain yang dipandang oleh umat Muslim sebagai kitab yang setara kedudukan dan inspirasinya dengan Alquran. Kitab suci umat Islam yang lain tersebut dinamakan Hadis. Hadis adalah kumpulan dari tradisi umat Muslim yang mula-mula yang di dalamnya tercatat sabda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Muhammad, menurut apa yang diceritakan oleh para isteri Muhammad, para anggota keluarganya, sahabat-sahabat dekat Muhammad serta pimpinan umat Muslim, yang umumnya tidak tertulis dalam Alquran.

Hadis Yang Diilhamkan

Ilmuwan Muslim, Dr. Muhammad Hamidullah, dalam bukunya yang berjudul Introduction of Islam, menyatakan bahwa pengemban dan wadah dari ajaran-ajaran Islam yang asli adalah Kitab Alquran dan Hadis” (halaman 50). Dia menambahkan bahwa “Alquran dan Hadis” merupakan landasan dari semua hukum Islam” (halaman 163). Menurut Dr. Hamidullah alasan umat Muslim memuliakan Hadis seperti halnya Alquran adalah karena Hadis merupakan ilham ilahi sama seperti Alquran.

Ajaran-ajaran Islam didasarkan terutama pada Alquran dan Hadis, dan, seperti yang dapat kita lihat bahwa kedua kitab tersebut didasarkan pada ilham Ilahi (halaman 23).



Itulah sebabnya mengapa para penulis Muslim seperti Hammudullah Abdalatati dalam bukunya yang berjudul Islam in Focus (The Muslim Converts’ Association of Singapore, Singapore, 1991), menyatakan bahwa Hadis dipandang sebagai sumber ajaran agama Islam yang kedua setelah Alquran, karena:

Semua pasal-pasal tentang iman…….didasarkan pada, atau diturunkan dari ajaran-ajaran Alquran dan Tradisi (Hadis) nabi Muhammad (halaman 21).

Jadi tidaklah mengherankan kalau bahan-bahan dalam Hadis dianggap oleh mat Muslim ortodoks setara kedudukan dan inspirasinya dengan Alquran.

Terjemahan yang akan Kami Gunakan Sebagai Acuan

Kami akan mengacu pada terjemahan Hadis yang berjumlah Sembilan jilid yang dikerjakan oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan yang diberi judul The Translation of the Meaning of Sahih Al-Bukhari (Kazi Publications, Lahore, Pakistan, 1979).

Buku tersebut direkomendasikan dan disetujui oleh para pimpinan Muslim termasuk pimpinan spiritual Islam di Mekkah dan Medinah.

BERDASARKAN PADA AL-BUKHARI

Dr. Khan telah menterjemahkan dengan tepat seluruh kitab Hadis yang dikumpulkan oleh seorang ilmuwan Hadis yang paling terpercaya yang bernama Al-Bukhari.

Dalam bagian pendahuluan Dr. Khan menyatakan: Dengan suara bulat telah disetujui bahwa hasil karya Imam Bukhari merupakan hasil karya tulis Hadis yang paling otentik dari semua hasil karya literatur Hadis yang pernah ditulis orang.

Karena sedemikian tinggi keotentikan dari hasil karya Al-Bukhari tersebut sampai-sampai para ilmuwan Islam mengatakan bahwa “Kitab yang paling otentik setelah kitab Allah (yaitu Alquran) adalah “Hadis Shahih Bukhari” (halaman xiv). Dia hanya memilih sekitar 7275 Hadis yang tidak diragukan lagi keotentikannya. Allah menyatakan kepadanya Kitab Alquran yang agung dan kitab Inspirasi Ilahi yang kedua yaitu Kitab Hadis (Tradisi) yang ditulisnya. Anda berkewajiban untuk berusaha dengan keras melakukan perbuatan baik menurut tradisi Muhammad seperti yang jelas dinyatakan dalam Hadisnya (halaman xvii).

Dr. Khan tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa hadis ini sebagai “Inspirasi kedua” serta menyatakan bahwa setiap Muslim dikenakan kewajiban untuk mengimaninya dan mentaatinya.

DILEMA MUSLIM

Kenapa kami merasa perlu terlibat sedemikian jauh membuktikan bahwa para pemuka Islam tertinggi telah beranggapan bahwa Hadis itu adalah hasil pengilhaman dan punya otoritas ilahi? Tidak lain karena umat Muslim terkadang akan menolak Hadis itu sendiri manakala mereka dihadapkan dengan beberapa ajaran Muhammad yang jelas tidak masuk akal yang terdapat di dalam Hadis.

Dalam suatu program radio, seorang Muslim mendebat sebagai berikut: Muhammad adalah nabi Allah. Jadi dia tidak mungkin mengatakan hal yang sangat bodoh seperti menyarankan agar kita minum air kencing onta. Jadi anda adalah pembohong Dr. Morey. Hadis tidak mungkin mengatakan demikian.

Tetapi setelah saya menunjukkan dalam Hadis bahwa Muhammad memang merekomendasikan air kencing onta, dia kemudian berkelit:

Kami, umat Muslim, hanya mengenal kitab suci Alquran sebagai kitab Allah. Kami tidak menerima Hadis sebagai ilham Ilahi.

Tentu saja, dia harus menolak Hadis sebagai hasil pengilhaman agar dia terhindar dari kewajiban membela Muhammad dalam urusan minum air kencing.

Kami memahami dilema yang dihadapi umat Muslim modern. Sementara mereka dengan sungguh-sungguh ingin mempertahankan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, Hadis justru dengan jelas menyatakan bahwa Muhammad tidak mungkin diilhami Ilahi sebab dia mengajarkan banyak hal yang tidak saja salah telak, tetapi juga konyol.

Beban Tambahan, Berat dan Tak Tertahankan

Dalam pikiran masyarakat Barat, bahan-bahan yang terdapat dalam Hadis ibaratnya seperti beban tambahan yang amat berat yang tak tertahankan. Jika Muhammad sungguh-sungguh seorang nabi dan rasul, umat Muslim harus mempertahankan sesuatu yang sesungguhnya tidak dapat dipertahankan.

Informasi Jaman Pra-Islam

Hadis menyajikan banyak bahan mengenai Arabia pada zaman pra-Islam yang tidak disinggung dalam Alquran. Contohnya dalam Hadis nomer 658, vol.3 dan Hadis nomor 583, vol.5, kita diberitahu bahwa ada 360 berhala di Kaabah ketika Muhammad menaklukkannya. Informasi semacam ini tidak terdapat di dalam Alquran. Namun, informasi tersebut memang merupakan petunjuk-petunjuk penting mengenai kebiasaankebiasaan keagamaan pada zaman pra-Islam.

Ritualisme

Hadis berisi rincian-rincian yang sangat rumit mengenai bagaimana dan dengan cara apa berbagai upacara keagamaan dan hukum-hukum Islam dilaksanakan.

Analisis rinci mengenai sembilan jilid Hadis tersebut sangat bermanfaat karena dapat memberi penjelasan tambahan mengenai konsep-konsep Alquran serta pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Muhammad.

Asal Usul Ritual-Ritual Islam

Dengan senang hati kami menyajikan ringkasan Hadis kepada para pembaca yang ingin tahu mengenai asal usul dari beberapa ritual dan hukum Islam yang sebelumnya merupakan hal yang asing bagi mereka. Banyak dari ritual-ritual “asing” tersebut sesungguhnya berasal dari Hadis dan bukan dari Alquran.

Kekuatan Pendorong

Yang menjadi nafas hidup Hadis adalah pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan agar diampuni oleh Allah dan dimasukkan ke dalam Surga?”

Dalam Hadis, Muhammad tidak memberikan gambaran selayang pandang yang samar-samar, tetapi mengungkapkan kepada para pembaca dengan jelas mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan bagaimana tata tertib pelaksanaannya.

Contohnya, Muhammad meletakkan dasar aturan yang sangat spesifik mengenai bagaimana, dimana, dan dengan cara bagaimana seseorang harus buang air kecil. Mentaati peraturan buang air kecil ini sangat menentukan apakah anda akan masuk api neraka atau masuk Surga.

Asumsi Mendasar

Asumsi yang menjadi dasar dari segenap Hadis adalah bahwa tanpa pengampunan dari Allah, tidak ada jalan masuk ke Surga. Api neraka menunggu mereka yang tidak mendapatkan perkenan Allah.

Tetapi untuk memperoleh perkenan dan pengampunan Allah tidaklah mudah. Seseorang harus berusaha keras untuk mendapat pengampunan Allah dengan cara menjalankan dengan tekun serangkaian dan ritual-ritual agama. Satu kesalahan saja dapat membatalkan semua perbuatan baik dan ketaatan yang telah anda kerjakan.

Tidak ada konsep keselamatan melalui anugerah Tuhan di dalam Hadis. Hadis mencanangkan serangkaian aturan-aturan dan ritual-ritual agama yang harus dilakukan untuk memperoleh keselamatan. Orang-orang Muslim yang mengabaikan aturan-aturan dan ritual-ritual agama tersebut sangat membahayakan jiwa mereka yang bersifat kekal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar