Sabtu, 28 November 2009

APPENDIX B Dewa Bulan dan Arkeologi

Sebagaimana yang telah kita pelajari, agama Islam berpusat pada penyembahan keilahian yang bernama “Allah”. Para Muslim mengklaim bahwa pada jaman pra-Islam pun, Tuhannya Alkitab adalah Allah itulah, yang selalu disembah secara berkesinambungan oleh para pemuka agama, nabi-nabi, dan para rasul yang terdapat dalam Alkitab.

Umat Islam mengakui pentingnya suatu kontinuitas dalam usaha mereka untuk membawa umat Yahudi dan Kristen masuk Islam. Jikalau “Allah” betul merupakan keterusan dari pewahyuan ilahi didalam Alkitab, tentunya agama Islam itu juga merupakan agama kelanjutannya Alkitab. Jadi kita semua seharusnya menjadi orang-orang Muslim. Namun, sebaliknya, jika Allah itu ternyata adalah nama dewa kafir jaman pra-Islam, maka pokok pengakuan umat Muslim tersebut otomatis salah kaprah.

Pengakuan-pengakuan religious sering tidak dapat dipertahankan akibat bukti-bukti arkeologi. Maka, daripada berspekulasi yang tidak juntrung mengenai masa lalu, lebih baik kita merujuk pada ilmu pengetahuan untuk mencari bukti-bukti yang dapat mengungkapkan kebenarannya.

Sebagaimana yang akan kita lihat, bukti-bukti keras yang ada menunjukkan bahwa Allah adalah dewa pagan/ Allah adalah dewa-bulan yang kawin dengan dewi-matahari, dan bintang-bintang adalah anak-anak perempuan mereka.

Para arkeolog telah mengungkapkan tempat-tempat pemujaan dewa bulan yang terdapat di seluruh Timut Tengah. Mulai dari gunung di turki sampai ke tepi-tepi pantai sungai Nil, agama jaman kuno yang paling luas penyebarannya adalah agama yang menyembah dewa-bulan.

Suku Sumerian, sebagai komunitas perama yang mengenal peradaban tuli menulis, mewariskan ribuan lempengan tanah liat yang mendeskripsikan kepercayaan keagamaan mereka.



Seperti yang dihunjukkan oleh Sjoberg dan Hall, suku kuno Sumerian menyembah dewa bulan yang dinamai dengan banyak nama-nama lain. Nama yang paling popular adalah: Nanna, Suen, dan Asimbabbar. Simbolnya adalah bulan sabit.

Dengan begitu banyak ditemukan artifak-artifak kuno yang berkaitan dengan penyembahan dewa-bulan ini adalah agama dominan yang terdapat di Sumerian. Mazhab penyembahan dewa-bulan adalah agama yang paling popular di seluruh Mesopotamia kuni. Kaum Assyria, Babylonia, dan Akkadia mengadopsi kata SUEN dan mentransformasikannya ke dalam kata SIN sebagai nama favorit bagi dewa ini.

Prof Potts mengutarakan “Sin adalah sebuah nama yang berasal usul dari kaum Sumerian yang telah dipinjam (dipakai) oleh kaum Semit.”

Di masa Syria dan Canna kuno, dewa-bulan Sin umumnya dilambangkan oleh bulan yang sabit. Pada ketika tertentu, symbol bulan-purnama diletakkan di dalam bulan-sabit demi menekankan semua masa peredaran bulan. Dewi matahari adalah istri dari Sin dan bintang-bintang adalah putri-putri mereka. Sebagai missal, ISTAR adalah salah satu putri dari Sin.

Pengorbanan-pengorbanan kepada dewa-bulan tertera dalam teks Ras Shamra. Dalam teks Ugarit, dewa-bulan kadang-kadang disebut Kusuh. Dalam Persia atau Mesir, dewa-bulan digambarkan pada dinding-dinding batu dan pada kepala-kepala patung. Dewa-bulan ini adalah hakim atas manusia dan dewa-dewa lain.

Sesungguhnyalah di mana-mana di dunia purba ini, simbol dari bulan-sabit dapat ditemui pada bekas cap-cap, keramik, ornamen-ornamen penangkis bala, lempengan tanah liat, silinder-silinder, alat timbangan, kalung, dinding-dinding batu untuk melukis, dan sebagainya. Dalam Tellel-Obeid, anak lembu tembaga ditemukan dengan sebuah tanda bulan sabit di atas kepalanya. Ada pula satu dewa berbadan kerbau dan berkepala manusia mempunyai bulan sabit tertera di keningnya dengan kulit kerang.

Di tanah Ur, Stela dari Ur-Nammu mempunyai simbol vulan-sabit yang diletakkan di atas dewa-dewa lain karena dewa-bulan itulah kepalanya para dewa. Bahkan roti-roti dibakar dalam bentuk bulan sabit sebagai tanda pengabdian mereka terhadap dewa-bulan.

Oang-orang kota Ur di wilayah Chaldea (catatan dari penerjemah: Ur adalah nama sebuah kota Sumerian Kuno; wilayah Chaldea adalah wilayah yang meliputi dataran rendah Tigris dan lembah Efrata. Kalau melihat peta sekarang letaknya di Irak Selatan) sangat setia beribadah kepada dewa bulan sehingga menurut prasasti yang terdapat pada jaman itu kota tersebut kadang-kadang dinamakan Nannar.

Dari hasil penggalian di kota Ur yang dilakukan oleh Sir Leonard Wooley ditemukan sebuah kuil untuk pemujaan dewa bulan. Dia menggali dan menemukan banyak bukti mengenai penyembahan bulan yang sekarang disimpan untuk dipamerkan di Museum Inggris. Demikian juga Harran dicatat karena kesetiaan beribadahnya pada dewa bulan. Pada tahun 1950-an tempat pemujaan dewa bulan yang utama ditemukan dalam suatu penggalian di Hazor, Palestina (lihat peta 1)

Dua buah berhala dewa bulan juga ditemukan. Masing-masing merupakan sebuah patung dari seorang laki-laki yang sedang duduk di atas sebuah tahta dengan ukiran bulan sabit di dadanya (lihat diagram 1). Prasasti-prasasti yang menyertainya memperjelas bahwa benda tersebut memang benar merupakan berhala-berhala dewa bulan (lihat diagram 2 dan 3). Juga ditemukan beberapa patung-patung yang lebih kecil yang diidentifikasikan oleh prasastinya sebagai anak-anak perempuan dewa bulan (lihat diagram 4).

Bagaimana mengenai Arabia? Sebagaimana yang diungkapkan oleh Professor Coon, “Para Muslim amat alergi memelihara/mempertahankan tradisi kekafiran tempo dulu dan karenanya mereka berdalih dengan memutarbalikkan fakta sejarah pra-Islam dengan menempatkan tokoh-tokoh atau hal-hal yang tidak sesuai dengan waktu dan tempat terjadinya peristiwa yang sesungguhnya (anachronistic).

Selama abad ke-19, Arnaud, Halevy, dan Glaser pergi ke Arabia sebelah selatan, dan menggali ribua prasasti Sabian, Minaean, dan Qatabanian yang diterjemahkan mereka (lihat peta 2).

Pada tahun 1940-an, dua orang ahli arkeologi yang bernama G. Caton Thompson dan Carleton S. Coon menemukan prasasti yang luar biasa di Arabia.

Selama tahun 1950-an, Wendell Phillips, W.E Albright, Richard Bower, dan lain-lain menggali beberapa tempat peninggalan jaman kuno yang terdapat di qataban, Timna, dan Marib (ibukota Sheba kuno).

Ribuan prasasti yang tertulis pada tembok-tembok dan batu-batu karang di Arabia bagian utara juga berhasil dikumpulkan. Relief-relief (gambar-gambar timbul) dan mangkuk-mangkuk persembahan dalam pemujaan kepada “para puteri Allah” juga telah ditemukan. Ketiga puteri Allah yaitu Al-Lata, Al-Uzza, dan Manat kadang-kadang digambarkan bersama dengan Allah, dewa bulan, yang ditandai dengan sebuah gambar bulan sabit di atas gambar mereka.

Bukti-bukti arkeologi mengungkapkan bahwa agama yang paling dominan di Arabia adalah agama yang melaksanakan tata cara ibadah pemujaan dewa bulan. Alkitab Perjanjian Lama justru secara konstan melarang penyembahan-penyembahan terhadap dewa bulan (lihat contoh ayat-ayat Alkitab yang berikut ini: Ulangan 4:19; Ulangan 17:3; Raja-Raja 21:3, 5; 2 Raja-Raja 23:5; Yeremia 8:2; Yeremia 19:13; Zefanya 1:5).

Pada waktu umat Israel jatuh dalam dosa penyembahan berhala biasanya yang merea lakukan adalah upacara ibadah/penyembahan kepada dewa bulan. Pada masa Perjanjian Lama, Nabonidus (555-539 sebelum Masehi), raja terakhir dari Babilonia, membangun Tayma, di Arabia, sebagai pusat penyembahan dewa bulan.

Segall menyetakan, “agama penyembah benda-benda angkasa yang dianut masyarakat Arabia Selatan selalu didominasi oleh penyembahan kepada dewa bulan dengan berbagai variasinya”.

Banyak ilmuwan juga mengamati bahwa nama dewa bulan, “Sin”, adalah bagian dari kata Arab seperti “Sinai”, “padang belantara Sin”, dan seterusnya.

Ketika kepopuleran dewa bulan mulai sirna di tempat-tempat lain, orang-orang Arab namun tetap mempertahankan keyakinan mereka bahwa dewa bulan adalah dewa yang terbesar di antara semua dewa.

Ketika mereka menyembah 360 dewa baal yang ada di Kaabah, Mekkah, dewa bulan adalah merupakan dewa kepala. Sesungguhnya Mekkah itu dibangun sebagai tempat suci/kuil bagi dewa bulan. Itulah sebabnya Mekkah (dan bukan tempat-tempat lain) disebut sebagai tempat yang paling suci menurut kepercayaan paganisme Arab.

Dalam tahun 1944, G. Caton Thompson mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul The Tombs and Moon Temple of Hureidha, bahwa dia telah menemukan sebuah tempat pemujaan dari dewa bulan di Arabia bagian selatan (lihat Peta 5). Simbol-simbol bulan sabit dan tidak kurang dari 21 prasasti dengan nama “Sin” juga ditemukan di tempat pemujaan tersebut (lihat diagram 5)

Sebuah berhala yang kemungkinan besar adalah dewa bulan itu sendiri telah pula ditemukan (lihat diagram 6). Penemuan ini di kemudian hari juga dikonfirmasikan oleh ahli-ahli arkeologi yang tersohor lain.

Bukti-bukti mengungkapkan bahwa tempat pemujaan dewa bulan tetap aktif bahkan pada masa Kristen sedang berkembang pesat. Bukti-bukti yang terkumpul baik dari Arab Utara maupun dari Arab selatan mengungkapkan bahwa penyembahan dewa bulan tetap aktif diakukan oleh penganutnya bahkan pada jaman Muhammad dan itu tetap merupakan upacara keagamaan yang dominan.

Menurut sejumlah besar prasasti, nama dewa bulan adalah “Sin”, sedangkan titelnya adalah al-ilah, “dewata”, yang artinya dewa paling utama dan paling tinggi dari semua dewa. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Coon, “Dewa Il atau Ilah asal mulanya adalah suatu fase dari dewa bulan”.

Dewa bulan disebut al-ilah, dewata, yang disingkat menjadi Allah pada jaman pra-Islam. Orang-oang Arab penyembah berhala bahkan menggunakan nama Allah untuk menamai anak-anak mereka. Contohnya, baik ayah maupun paman dari Muhammad menggunakan nama Allah sebagai bagian dari nama mereka. (sang ayah, bernama Abdullah = abdi Allah; sang paman, Obied Allah, tidak pernah masuk Islam).

Itulah kenyataan pada jaman Muhammad yang membuktikan bahwa Allah merupakan title dari dewa bulan. Professir Coon mengatakan. “sama seperti halnya di atas, menurut pengajaran Muhammad, Iah yang praktis tidak bernama, dijadikan Al-Ilah, Tuhan, atau Allah yang Maha Tinggi”.

Dengan fakta tersebut si atas terjawablah pertanyaan, “Mengapa Alquran tidak pernah mendefinisikan pengertian ‘Allah’ kepada pengikut-pengikutinya? Dan mengapa Muhammad engasumsikan bahwa orang-orang Arab penyembah berhala sudah tahu siapa Allah itu? [dari mana datangnya perubahan nama Yahweh mendadak menjadi Allah?].

Muhammad memang dibesarkan dalam lingkungan agama yang menyembah dewa bulan yang dinamakan Allah, namun dia selangkah lebih maju daripada orang-orang Arab penyembah berhala lainnya. Sementara mereka percaya bahwa Allah (maksudnya dewa bulan) adalah yang paling utama.paling besar dibandingkan dengan semua dewa-dewa lain dan merupakan dewa yang termulia di dalam kuil pemujaan, Muhammad memutuskan bahwa Allah bukan saja maha besar tetapi juga satu-satunya Tuhan.

Dengan imajinasi tinggi, Muhammad seolah berkata, “Lihat, kamu telah mengimani bahwa dewa bulan Allah merupakan dewa yang terbesar. Jadi, yang saya inginkan adalah bahwa kamu sependapat bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Saya tidak meniadakan Allah yang sejak dulu kamu sembah itu. Saya hanya akan meniadakan istrinya (yang dimaksud adalah dewi matahari) dan anak-anak perempuan Allah dan saya juga akan meniadakan semua dewa-dewa lain”.

Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari sebentuk slogan Islam di mana terdapat sebutan ALLAHU AKBAR, kata mana bukan berarti sebegaimana diterjemahkan “Allah Maha Besar” atau “Allah yang Terbesar”, melainkan secara harfiah berarti “Allah Yang Lebih Besar”. Dia yang lebih tertinggi di antara semua dewa-dewa. Tidak ada alasan lain mengapa Muhammad menyatakan “Allah Terbesar/Lebih Besar” selain karena adanya konteks politheistik yang menunjukkan adanya kepercayaan pada banyak dewa yang telah diimani oleh orang-orang sebelumnya. Kata Arab ini digunakan untuk mengkontraskan “lebih besar” dari “lebih kecil”.

Bahwa hal tersebut dapat dibenarkan terlihat dari kenyataan bahwa orang-orang Arab penyembah berhala tidak pernah menuduh Muhammad mengajarkan tentang sosok Allah yang berbeda dengan sosok Allah yang telah mereka sembah sebelumnya. “Allah” ini adalah dewa bulan seperti yang dapat disaksikan dari bukti-bukti arkeologi yang telah ditemukan.

Jadi, Muhammad berusaha ke kanan dan kiri sekali jalan. Kepada para penyembah berhala, dia mengatakan bahwa dia masih percaya pada dewa bulan yang bernama Allah dan kepada umat Yahudi dan Kristen, dia mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan mereka juga.

Sayang bahwa umat Yahudi dan Kristen lebih tahu, dan mereka menolak Allah-nya Muhammad sebagai Tuhan yang palsu.

Al-Kindi, salah satu pembela Kristen mula-mula (terdahulu) menyatakan bahwa Islam dan tuhannya yang disebut Allah bukanlah berasal dari Alkitab, tetapi dari para penyembah berhala suku-suku Sabian. Orang-orang Sabian tidak menyembah Yahweh (Tuhan Alkitabiah) tetapi mereka menyembah dewa bulan dan puteri-puterinya yang bernama Al-Lata, Al-Uzza, dan Manat.

Dr. Newman, dari hasil studinya mengenai perdebatan Kristen-Muslim terdahulu menyimpulkan bahwa: “Islam membuktikan dirinya sendiri sebagai sebuah agama terpisah dan antagonistic yang muncul dari penyembahan berhala”.

Ilmuwan dalam kajian Islam yang bernama Caesar Farah menyimpulkan, “Oleh karenanya tidak ada alasan untuk menerima ide/pendapat bahwa Allah umat Muslim adalah Tuhan yang sama dengan Tuhannya umat Kristen dan Yahudi”.

Orang-orang Arab menyembah dewa bulan sebagai dewa yang maha tinggi. Tetapi hal tersebut tidaklah sama dengan yang dimaksud menurut Alkitab. Ketika dewa bulan (Allah) dinyatakan sebagai dewa yang terbesar dari segala dewa dan dewi yang ada, Allah ini masih berkonsepan politheistik dewa-dewa lain di tengah-tengah dewa bulan.

Sekarang kita telah menemukan berhala-berhala dewa bulan yang aslinya, jadi tidak disangkal lagi bahwa Allah adalah suatu dewa pagan (kafir) yang telah disembah sejak jaman pra-Islam.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan jikalau: Simbol Islam adalah bulan sabit;

• Bulan sabit terletak di puncak-puncak masjid dan menara azan;

• Bulan sabit digambarkan pada bendera-bendera negara Islam;

• Umat Muslim berpuasa pada bulan yang berawal dan berakhir dengan munculnya bulan sabit di langit. [Di manapun, ritus-ritus, upacara-upacara, nama dan symbol-simbol ilah (bulan-bintang) tidak pernah muncul dari ajaran Taurat dan Injil. Itu merupakan kekejian di hadapan TUHAN YAHWEH; “…..Jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga ketika engkau melihat, bulan dan bintang, segenap tentara di langit, engkau disesatkan untuk menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan YAHWEH, Elohim-mu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka.” (Ul. 4:19)]

Kesimpulan

Orang-orang Arab pagan menyembah dewa bulan yang dinamakan Allah dengan cara sembahyang menghadap ke Mekkah beberapa kali sehari; mereka melakukan beribadah ziarah ke Mekkah; berlari-lari mengelilingi tempat pemujaan dewa bulan yang dinamakan Kaabah; mencium batu hitam; menyembelih hewan untuk dikorbankan kepada dewa bulan; melempari setan (roh-roh jahat) dengan batu; berpuasa pada bulan-bulan yang berawal dan berakhir dengan kemunculan bulan sabit; memberi sedekah kepada orang miskin; dan lain-lain.

Pernyataan umat Muslim bahwa Allah adalah Tuhan Alkitabiah dan bahwa Islam adalah kelanjutan dari agama yang dianut oleh para nabi dan para rasul Alkitabiah adalah tidak benar menurut bukti-bukti arkeologi yang telah ditemukan. Islam tidak lain adalah kebangkitan kembali suatu tata cara ibadah keagamaan untuk menyembah dewa bulan jaman kuno. Islam bahkan telah mengadopsi symbol-simbol, ritus-ritus keagamaan, upacara-upacara keagamaan, dan nama tuhannya (maksudnya nama sesembahan umat Islam) dari agama pagan (kafir) kuni yang menyembah dewa bulan. Hal-hal seperti itu merupakan penyembahan terhadap berhala yang merupakan hal yang sangat terlarang bagi umat yang mengikuti ajaran Taurat dan Injil.

[ULAR TUA YANG CERDIK ITU TELAH MENYAMARKAN WAJAHNYA. BANYAK ORANG MENYANGKA BAHWA DIA ADALAH TUHAN ELOHIM.

ADA JALAN YANG DISANGKA ORANG LURUS, TETAPI UJUNGNYA MENUJU MAUT. WASPADALAH KARENA DARI BUAHNYALAH KAMU AKAN MENGENAL MEREKA. DAPATKAH ORANG MEMETIK ANGGUR DARI SEMAK DURI?]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar