Sabtu, 28 November 2009

PENDAHULUAN Buku "Islamic Invasion"

Islam bukan saja merupakan agama yang paling dominan di Afrika Utara, tapi juga merupakan agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen Eropa Barat

Sehubungan dengan adanya kebijakan imigrasi bebas, berjuta-juta umat Muslim sekarang berimigrasi ke Barat dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik.

Jadi di negara-negara Kristen Barat, Islam telah menjadi agama terbesar kedua. Contohnya, di Perancis dan Jerman jumlah orang Muslim telah berjuta-juta.

Kerajaan Britania Raya Dan Irlandia Utara

Di Inggris keadaannya sungguh mengejutkan. Di sana lebih banyak orang-orang Muslim daripada orang-orang Metodis bahkan jumlah seluruh umat Muslim di Inggris lebih banyak daripada orang Kristen Injili.

Didanai oleh uang hasil sumber minyak Arab yang berlimpah-limpah, orang-orang Muslim membeli gereja-gereja Anglikan yang terbengkalai dan memodifikasinya menjadi mesjid-mesjid sedemikian rupa sehingga kaum Muslim di sana mendeklarasikan bahwa Inggris akan menjadi negara Islam pertama di Eropa.

Sehubungan dengan jumlah Muslim yang sedemikian besar, Parlemen Inggris memandang perlu untuk menerapkan dalam peraturan perundang-undangan bahwa kaum muslim tidak harus mengikuti peraturan hukum yang berlaku bagi penduduk asli Inggris bilamana mereka memutuskan perkara seperti perceraian; mereka dapat mengikuti hukum Islam sebagai gantinya.



Australia

Jumlah umat Islam yang pada tahun 1955 hanya 800 orang telah berkembang menjadi 200.000 orang menjelang 1990. Gelombang arus masuknya emigran meningkat dengan cepat Dalam karya wisata yang kami laksanakan musim gugur 1989, kami melihat bahwa di semua kota-kota besar di Australia terdapat mesjid-mesjid besar, bahkan di negara bagian Victoria, orang Muslim lebih banyak daripada orang Kristen Gereja Baptis.

Amerika Utara

Di Amerika Utara terdapat lebih dari 4 juta orang Muslim. Beberapa peneliti menyatakan bahwa jumlah orang Muslim di Amerika Utara lebih banyak daripada orang Yahudi sehingga menempatkan Islam sebagai agama kedua terbesar di Amerika Serikat dan Kanada.

Amerika Serikat

Lebih dari 500 pusat-pusat kajian Islam telah dibangun di Amerika Serikat, 2/3 orang Islam Amerika berasal dari keturunan Arab, sementara yang 1/3 terdiri dari berbagai sekte Muslim berkulit hitam. Saat ini secara resmi jumlah Muslim di Amerika Serikat lebih banyak daripada anggota gereja Episcopal.

Klaim yang Berlebihan

Sejumlah orang Muslim menyatakan bahwa di Amerika Serikat terdapat 10-25 juta orang Muslim. Dalam pembicaraan lewat radio dengan seorang wakil pusat informasi Islam pada tanggal 22 Februari 1991, saya memperoleh keterangan bahwa jumlah Muslim di dunia ada lebih dari 2 milyar dan 10 juta di antaranya ada di Amerika Serikat. Ketika saya menanyakan dokumen tertulis resmi mengenai jumlah Muslim, dia tidak bisa memperlihatkannya. Ketika saya menyebutkan bahwa semua Ensiklopedia, Almanak, Harian/Majalah seperti Time, Newsweek, dan lain-lain memperkirakan jumlah Muslim di Amerika Serikat hanya sekitar 3-4 juta dan bukan 10 juta seperti yang dia nyatakan, dia menyatakan bahwa semua harian, ensiklopedia, Almanak, Majalah-majalah, dan lain-lain itu adalah salah. Kami tetap berpegang pada bahan referensi standar tersebut sampai umat Islam dapat menunjukkan dokumen-dokumen lain yang menyatakan sebaliknya.

Misalnya, Almanak 1989 menyatakan bahwa hanya terdapat 2,6 juta orang Muslim di Amerika Utara dan hanya 860 juta orang Muslim di seluruh dunia. Bahkan bila kami menambah 1 juta seperti jumlah yang ada pada tahun 1991, jumlah tersebut masih jauh di bawah jumlah yang dinyatakan orang Muslim.

Seorang pimpinan di Detroit menyatakan dalam suatu program radio bahwa terdapat lebih dari 600 ribu muslim di Kota New York saja. Pernyataan yang kedengaran aneh tersebut lebih banyak menimbulkan masalah daripada kebaikan. Namun tanpa memandang berapa jumlah orang Muslim yang telah beremigrasi ke dunia barat dalam rangka mencari kehidupan lebih baik, negara-negara penerima harus mencoba memahami dan Mengasimilasi pendatang baru tersebut ke negara mereka.

Kebebasan Agama

Namun kami juga punya pengalaman yang menunjukkan bahwa banyak orang Muslim yang sangat ofensif terutama bila keyakinan agama mereka mendapat kritikan. Sulit bagi mereka untuk memahami bahwa yang dimaksud dengan kebebasan beragama di negara Barat adalah bebas menyampaikan kritikan terhadap agama apapun termasuk agama Islam. Sulit bagi Muslim Arab yang dulunya biasa hidup di negara-negara Islam untuk memahami pengertian kebebasan agama di negara Barat.

Bagi mereka, orang yang memberi kritikan kepada Muhammad atau Al’quran harus dihukum mati. Hukum Islam menyatakan bahwa Islam tidak boleh dikritik oleh siapapun. Dengan kata lain tidak ada kebebasan agama dalam negara-negara Islam seperti yang dimaksud di negara bebas.

(Sebaliknya, mereka tidak merasa rikuh atau bersalah, ketika mengkritik bahkan mengutuk agama orang lain. Kaum non-muslim termasuk kristiani telah disebut sebagai kafir, musyrik dan sesat, dan sejahat-jahatnya binatang QS 8:55. Di negara-negara Islam misionaris-misionaris Kristen dilarang berkhotbah kepada Muslim. Beberapa negara melarang semua kegiatan Kristen seperti di Libia, Afganistan, Arab Saudi dan lain-lainnya. Seseorang HARUS MENJADI Muslim untuk memperoleh kewarganegaraan Arab Saudi; seorang yang bukan Muslim sulit sekali memperoleh pekerjaan maupun pendidikan apalagi menjadi karyawan pemerintah. Sebaliknya kaum Muslim dengan cepat mengambil keuntungan penuh atas kebebasan beragama yang dianut dunia Barat. Ini diperagakan kaum Muslim dengan mendirikan pusat-pusat kegiatan Muslim di kota-kota besar Eropa dan Amerika. Perancis yang pada tahun 1974 hanya memiliki sebuah mesjid, 20 tahun kemudian sudah mencapai lebih dari 1500 buah).

Tuntutan Untuk Saling Pengertian

Ketika para sarjana Barat menerapkan standar ilmiah bagi pengujian kebenaran Islam, mereka bukan memaksudkannya sebagai penyerangan terhadap tujuan maupun karakter-karakter Islam. Pencarian kebenaran bukanlah sesuatu yang menyakitkan hati siapapun. Sesungguhnya hanya suatu diskusi yang jujur dan terbuka saja yang dapat menghilangkan rasa curiga dan rasa kemasabodohan. Agama apapun, bagaimana kuatnya diyakini atau dipraktekkan tidak perlu merasa takut dan menghindari diri dari suatu pencaharian kebenaran serta penyidikan ilmiah.

Perang Teluk

Ketika pasukan Barat berada di Timur Tengah, diktator-diktator Arab seperti Khadafy dan Saddam Hussein menyerukan jihad atau perang suci (yang menyertakan pembelaan nama dan kebenaran Allah) melawan tentara-tentara tersebut.

Suatu jihad dilakukan semata-mata hanya karena tentara-tentara tersebut sebagian besar beragama Kristen yang dianggap sebagai orang kafir menurut agama Islam. Dengan kata lain diktator-diktator tersebut memerintahkan orang Muslim untuk membunuh tentara itu lebih karena kekristenannya. Peristiwa ini sungguh patut disesali, namun peristiwa tersebut benar-benar terjadi.

Toleransi Keagamaan

Dalam pola pikir modern, perbedaan-perbedaan keagamaan tidak seharusnya menyebabkan pengrusakan-pengrusakan terhadap sendi-sendi kehidupan atau harta benda siapapun. Masyarakat harus diberi kebebasan untuk menganut suatu agama atau tidak beragama sekalipun, sesuai dengan apa yang dirasakan oleh hati nuraninya masing-masing (termasuk bebas untuk murtad terhadap agama yang dipeluknya).

Hal inilah yang perlu dipahami oleh para Muslim mengapa orang-orang Barat kadang-kadang tidak merasa sejahtera menyaksikan migrasi Muslim Arab secara besar-besaran ke Eropa atau Amerika Utara.

Suatu Kasus Yang Perlu Menjadi Perhatian

Pada dua halaman pertama Harian USA Today, tertanggal 6 Februari 1991, tercantum hasil yang mengejutkan dari suatu survey mengenai sikap orang Muslim Arab yang tinggal di Amerika Serikat terhadap perang antara pasukan Amerika dan sekutu-sekutunya melawan Saddam Hussein. Ketika mereka ditanya, ‘Apakah anda akan mengirim anak laki-laki dan perempuan anda untuk bertempur membela Amerika dalam perang tersebut?’ Ternyata 82 % dari Muslim Arab Amerika berkata ‘tidak’ dan hanya 18 % mengatakan ‘ya’. Ketika ditanya apakah mereka setuju dengan cara Presiden bush menangani situasi tersebut. Jawabnya adalah 62 % tidak setuju. Hasil survey lagi-lagi menunjukkan bahwa lebih dari separoh Muslim Arab Amerika mengatakan mereka tidak akan membantu Amerika dalam perang melawan bangsa Arab manapun.

Mengapa Terbentuk Sikap Begini?

Secara umum, survey ini menunjukkan bahwa kaum Muslim Arab Amerika belum berasimilasi “melting pot” dalam budaya Amerika. Survey ini menunjukkan bahwa mereka masih lebih berorientasi pada Arab daripada dengan Amerika.

Keterikatan kaum Muslim Arab Amerika dengan budaya Arab, bangsa Arab, dan politik Arab, walaupun mereka sudah menetap di Amerika selama bertahun-tahun seringkali menimbulkan gangguan bagi ketenangan banyak orang Barat. Orang-orang Barat berhak menanyakan, ‘Sebenarnya ke manakah orientasi kesetiaan kaum muslim Arab Amerika itu ditujukan? Apakah kepada bangsa-bangsa Barat yang telah memberi mereka kesempatan untuk memperoleh kehidupan baru yang lebih baik, atau masih tetap setia kepada bangsa-bangsa Arab saja?’

Tujuan Kami Hanyalah Untuk Memberi Informasi

Pertama kami harus menyatakan bahwa tujuan kami menulis buku ini bukan untuk menyinggung perasaan umat Muslim yang soleh. Kami juga tidak ingin menyakiti perasaan mereka atau membuat mereka malu dengan cara apapun. Kami punya pengalaman pribadi yang menunjukkan bahwa banyak juga orang Muslim yang baik hati, suka bekerja keras, dan mampu mengatasi hal-hal yang kelihatan tidak mungkin dalam rangka membangun rumah dan tempat kediaman sendiri di negara Barat.

Namun kami juga ingin menunjukkan bahwa kaum Muslim tidak pernah ragu-ragu untuk mengutuk atau menentang keras doktrin-doktrin penting dari agama-agama lain seperti misalnya Kekristenan. Setelah mengunjungi berbagai pusat informasi Islam dan mesjid-mesjid, saya dapat mengumpulkan banyak sekali literatur Muslim yang secara terbuka menyerang Alkitab dan menolak Tritunggal dan ke-Tuhan-an Yesus Kristus, Yesus sebagai Sang Putra, kematian Yesus di kayu salib, kebangkitan Yesus dari kematian-Nya, dan pesan pengantaraan Yesus yang duduk di sebelah kanan Bapa Surgawi.

Karena sudah jelas terbukti bahwa orang-orang Muslim bebas mengkritik agama-agama lain secara terbuka, mengapa mereka sebaliknya sangat keberatan kalau agama Islam dikritik orang lain sekalipun kritik tersebut beralasan dan layak? Undang-undang mengenai hak-hak warga negara (Bill of Rights) menjamin bahwa orang-orang Muslim bebas mengkritik agama lain, dan sebaliknya orang lain juga bebas mengkritik Islam. Kebebasan agama selalu merupakan pedang bermata dua.

Beban Untuk Membuktikan

Beban untuk membuktikan panggilan bagi Muhammad sebagai Nabi dan pengilhaman Al’quran adalah terletak seluruhnya pada umat Muslim sendiri. Jadi kita akan mencermati argumentasi yang diberikan umat Muslim untuk melihat apakah argumentasinya bertahan lewat penyaringan ilmiah yang teliti.

[Pihak Muslim sering salah paham seolah Al’quran yang karena datangnya belakangan, maka dia-lah Kitab yang otomatis benar (tanpa usah dibuktikan) dan menjadi pengukur bagi Kitab-kitab sebelumnya. Ini justru terbalik!

Firman Tuhan sendiri adalah Kebenaran yang hadir dari awal mulanya. Begitu ia hadir, ia yang FIRMAN tidak bisa dikosongkan. (Kebenaran tidak pernah mengosongkan atau dikosongkan oleh Firman Tuhan yang selalu ada). Ini berarti bahwa setiap “wahyu” yang datangnya belakangan, harus diuji oleh wahyu yang duluan yang sudah benar, bukan sebaliknya.

Ujiannya dengan bertanya: “Atas otoritas apakah maka wahyu-wahyu dari Nabi belakangan ini bisa diterima sebagai Kebenaran?” Manakah tanda dan mujizat dan nubuatan Allah yang menyertai wahyu-wahyu-Nya? Manakah nubuat para nabi-nabi sebelumnya yang dikhususkan kepada Nabi belakangan ini? Manakah penyaksian suara Allah? Malaikat/Nabi-nabi lain yang membenarkan kenabiannya?

Itulah beban di bahu para Muslim yang harus membuktikan Kebenaran Quran, jikalau ingin menempatkan wahyu yang datang belakangan itu sebagai Kebenaran!].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar