Senin, 09 November 2009

Kata-Kata Penutup

Dari sini hendak kemana?

Oleh: Gregory M. Davis


Mereka yang telah melihat Islam dari dalam tahu lebih baik warna sebenarnya dari Islam dibandingkan mereka yang hanya melihatnya dari luar. Ini semua adalah kesaksian-kesaksian mereka – lebih lengkap dibandingkan pendapat para politikus atau para pengamat Barat. Kita harus memperhatikan apa yang mereka katakan jika kita ingin selamat dari ancaman Islam yang ditujukan kepada seluruh dunia. Berita-berita yang menggunung yang melaporkan tindak kekerasan, kekacauan, dan terorisme dari seluruh penjuru dunia sudah membuat banyak orang terhenyak, tetapi sayangnya hanya sedikit orang yang memiliki kesabaran atau pikiran yang jernih bagaimana bisa memfokuskan diri untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak lagi diragukan bahwa semua kekerasan-kekerasan yang kita saksikan di dunia saat ini, dari Nigeria hingga Thailand, dari Bosnia hingga Bali, dari Chechnya hingga Filipina, dari Sudan hingga Indonesia, dari Israel hingga Kashmir, di Paris, London, Madrid, Moskow, Washington dan New York, kesemuanya itu berakar dalam iman kepada Muhammad.

Melintasi bola dunia, sementara Islam berjaya (Saat Muslim menginvasi Tanah Suci Yerusalem dan Spanyol pada abad ke-7 dan ke-8 AD, hingga Turki yang nyaris menaklukkan Viena di penghujung abad ke-17), jihad Islam masih terus kita saksikan keberadaannya. Ketika tidak ada “komando pusat” yang mengatur jihad secara global, ada sebuah buku yang selalu mereka pakai: Quran dan hidup serta teladan Muhammad yang ada dalam Sunnah Rasul. Jika Barat dan dunia non-Muslim lainnya terus-menerus salah dalam memahami fakta mendasar ini, maka sedikit harapan bagi kita untuk bisa mengambil tindakan pertahanan diri yang sesuai.

Kita tidak hanya sedang diancam oleh para teroris yang bertindak sewaktu-waktu, tetapi oleh sebuah ideologi yang bersatu padu, yang selama seribu tahun telah mengancam akan menguasai Barat dan mengalahkan budaya lain yang sebenarnya lebih maju daripada budayanya sendiri. Tanyakanlah pada orang-orang Persia dan orang-orang Bizantium. Saat ini ada banyak tulisan maupun komentar mengenai terorisme, tetapi masih sedikit yang menyinggung mengenai Islam itu sendiri. Kita harus mengerti bahwa terorisme seperti itu bukanlah musuh yang sesungguhnya. Islam bukanlah terorisme dan terorisme bukanlah Islam. Terorisme adalah taktik untuk mengganggu tatanan politik sehingga ia bisa diganti dengan sesuatu yang lain. Tak ada yang bisa menggantikan obyektif tertinggi dari musuh kita. Inilah sesungguhnya goal dari terorisme Islam yang harus kita pahami supaya kita bisa menghadapinya. Goal para jihadis bukanlah untuk menyatukan Irlandia atau berakhir dengan melakukan pengetesan terhadap binatang; tetapi untuk merealisasikan peraturan global Allah yaitu hukum Sharia. Hal ini merupakan perintah dari kitab suci mereka dan merupakan teladan dari Nabi mereka. Kita harus rela tangan kita menjadi kotor ketika coba memahami inspirasi Islamik, yaitu Quran dan Sunnah, jika kita mau merespon secara efektif perang yang dilancarkan oleh Islam kepada kita.

Alasan bahwa seorang individu Muslim satu hari kelak akan terbangun ketika mendengarkan seruan jihad, adalah bervariasi bergantung pada individu-individu bersangkutan. Dalam setiap komunitas ideologis, akan ada selalu orang-orang percaya sejati yang rela mengorbankan nyawanya untuk keyakinannya. Mereka bergerak dan mendapatkan kekuatan untuk bergaul secara simpatik dengan sesama, bisa jadi dengan orang-orang yang kurang ortodoks, kurang setia. Banyak orang beriman tidak memerlukan praktek, atau bahkan menganut semua yang diajarkan oleh iman mereka, untuk dapat menyediakan ruang bagi orang-orang yang sungguh-sungguh beriman. Dan orang-orang yang sungguh-sungguh beriman inilah yang menjadi barisan terdepan komunitas dalam usahanya untuk merealisasikan tujuan-tujuan besarnya. Mengapa suara kaum Muslim “moderat” hanya terdengar sedikit? Tepatnya karena mereka akan bertikai dengan suara kaum alim ulama yang ortodoks, yang dalam konteks Islam apapun, harus memenangkan perdebatan. Sementara bisa jadi ada banyak kaum “moderat” Mensheviks di awal pergerakan Komunis, yang tak terhindarkan lagi, dalam terang asumsi ideologi Komunis, bahwa kaum Bolsheviks akan mendapatkan kekuasaan. Hasilnya adalah, ketika populasi Muslim secara umum di dunia Barat mulai bertumbuh – dan pertumbuhannya itu dipacu oleh kekuatan-kekuatan sekuler Barat – maka ini akan menjadi dasar bagi kaum jihadis yang fanatik.

Adalah penting untuk menyadari bahwa subversi pemerintahan sekular Barat oleh agenda Sharia akan terus dilaksanakan dengan cara-cara lainnya selain terorisme. Di Barat, aktifis Muslim semakin bertambah dimana mereka memanfaatkan diri mereka bagi orang lain, melalui bentuk-bentuk subversi legal maupun intimidasi. Mereka yang berpandangan bahwa tujuan menghalalkan cara dapat dengan segera memaksa sebuah masyarakat yang terbuka, yang tentu saja memperbesar keuntungan dari adanya keragu-raguan, dapat segera didirikan. Salah-satu debat yang tidak berkesudahan di dalam komunitas-komunitas Muslim, baik di dunia Islam maupun di Barat, adalah apakah strategi yang lebih Fabianis dapat lebih membawa keberhasilan bagi jihad untuk jangka waktu yang lama daripada pendekatan yang dilakukan bin Laden. Dan lagi, wilayah-wilayah penting dari kota-kota besar di Eropa – Paris, London, Rotterdam, Malmo – secara efektif telah diperintah dengan hukum Sharia, yang dipelopori oleh para imam lokal dan para pengikut mereka yang sungguh-sunguh beriman. Dan sementara Islam terus bertumbuh dengan melompat dan melambung, populasi asli Eropa mulai jatuh, ini sebuah trend yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dalam sejarah dunia tidak pernah ada sebuah peradaban yang secara lahiriah telah terbentuk menolak untuk berkembang. Nampaknya Eropa, yang telah membuang spiritualitas Kristennya untuk mencapai kejayaan yang lebih, dalam hidup ini, menemukan kesulitan bahkan hanya untuk dapat tetap hidup.

Tetapi mereka yang telah berdiam di istana kekuasaan tidak dapat membayangkan jika pendidikan dari peradaban modern akan memperoleh ancaman yang serius dari sebuah agama kuno yang berasal dari padang gurun Arabia – ini suatu contoh sikap yang dapat ditemukan di Kairo, Antiokhia, Persia, Spanyol, Konstantinopel, dan banyak tempat lainnya sebelum mereka ditaklukkan oleh para pengikut Muhammad yang “primitif”. Kita harus tetap mengingat bahwa pada abad ke-13 silam, Eropa dan kekristenan harus berjuang mempertahankan hidup mereka terhadap imperialisme Islam. Ada kalanya, hal itu seperti berlari jarak dekat. Walau kelihatannya permanen, ketenangan relatif yang telah kita nikmati atas front Islam sejak kemenangan Katolik Roma di Wina pada 11 September 1683 – sebuah tanggal di kalender yang harus diingat selamanya tentang sebuah jenis kemenangan yang berbeda – lebih merupakan pengecualian daripada yang sebenarnya. Saat ini kita tidak sedang menghadapi pasukan Arab atau Ottoman yang bergerak maju ke pintu gerbang kita; namun kita sedang menyaksikan transformasi dari dalam pusat-pusat kekuatan dunia Barat menjadi pusat-pusat kekuatan Islam, dengan seijin pemerintah yang berwenang, yang jika bukan karena telah berkolaborasi, telah menjadi tidak berkompeten untuk melakukan tindakan kriminal.

Selagi pada satu sisi, Islam mempunyai dinamika dan kekuatan yang tetap ada sebagai sebuah iman religius mayor, ia sendiri sebenarnya memiliki kemiripan dengan kelompok-kelompok totalitarian modern seperti Komunisme dan Sosialisme Nasional. Islam selalu mengusahakan penaklukan dan kepatuhan sebuah teritori kepada sebuah rejim politis dan legal tertentu, dan dalam hal ini adalah HUKUM SHARIA. Sama halnya dengan komunisme dan sosialisme nasional, Islam membagi dunia ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang baik dan kelompok yang jahat. Dar-Al-Islam atau Rumah Islam adalah teritorial yang sudah mengalami pencerahan dengan diberlakukannya Hukum Sharia; sementara Dar al-Harb atau Rumah Perang adalah seluruh dunia yang lain, yang harus ditaklukkan dengan peperangan hingga mereka secara permanen dibawa ke dalam Hukum Sharia. Merupakan ironi besar pada masa kini dimana energi politik yang sangat besar dihabiskan untuk menjaga kehidupan publik Barat melalui membersihkan agama tradisional Barat yaitu Kekristenan, sementara Islam, sebuah ideologi yang secara nyata-nyata tidak membedakan antara politik dengan agama, dengan gembira diijinkan masuk melalui pintu depan.

Kecuali natur politiknya, Islam terus berlindung dibawah rubrik “agama”, sebuah istilah yang samar-samar, atau sentimentil yang dipakai untuk mencegah dengan kuat penyelidikan ke dalam dirinya sendiri. Diantara para elit pada masa kini, “agama” sering dianggap sebagai mitologi dan ritual-ritual dari orang-orang primitif, dan oleh sebab itu mereka adalah orang-orang yang tidak sepatutnya disingkirkan. (Tentu saja mereka mengecualikan Kekristenan, yang dianggap sebagai instrumen tirani bangsa kulit putih).

Salah satu kesulitan dari orang-orang Barat untuk bisa memahami bahaya dari Islam adalah, bahwa sejak Revolusi Prancis, bahaya yang mengancam Barat dalam skala luas adalah bahwa dari dalamnya bangkit tradisi-tradisi intelektual. Komunisme dan Sosialisme Nasional sebagai contoh, merupakan tumor yang telah berkembang untuk menodai aspek-aspek pemikiran Barat sehingga mengakibatkan bencana yang besar. Isme seperti modernitas dengan tepat dikarakteristikkan sebagai penaklukan dunia secara “ekstrim”.

Barat terus jatuh ke dalam mendustai diri sendiri, dimana cara-cara politik liberal yang mereka anut akan dimanfaatkan oleh Islam, dan ini merupakan kesalahan kebijakan, baik kebijakan luar negeri maupun domestik. Dalam keyakinan bahwa Irak bisa diubah menjadi negara demokrasi gaya Barat, Amerika telah mengeluarkan darah dan dana yang sangat besar, hanya untuk mengganti seorang diktator sekular (dan mantan sekutu) menjadi sebuah teokrasi Islam. Demikian juga Eropa Barat melakukan kesalahan tragis yang lain dimana mereka mencoba mempersatukan kekuatan ekonomi ke dalam kerjasama yang disebut “Euro-Mediterannean Union” atau Eurabia. Pertumbuhan Islam di Eropa secara cepat berkonfrontasi dengan populasi Eropa dengan sebuah pilihan yang sulit, yaitu apakah akan:

a) Terus memperlakukan Islam sebagai sebuah “pilihan gaya hidup” dan dengan diam-diam menyelinap di belakang kerudung besi Sharia pada separuh abad berikutnya;

b) Mengabaikan asumsi-asumsi modern dari negara kesejahteraan dengan mengatur tingkat imigrasi yang cocok, multikultural dan revolusioner,

c) Mengelola dengan bijaksana bangkitnya Islam Eropa dan terorisme jihad melalui membangun sebuah negara polisi. Berdasarkan sejarah Eropa beberapa abad yang lalu, pentingnya Islam bagi Eropa persisnya adalah untuk dimanfaatkan sebagai sebuah teks awal dalam membangun maryarakat Orwellian yang bisa diatur. Hipotesis ini dengan cermat menunjukkan pada kita mengapa para elit politik di Eropa lebih suka menandatangani jaminan kematian atas peradaban mereka. Komunisme dan fasis revolusioner (Nazi) memang pernah mencoba sebuah negara polisi pan-Eropa, tetapi mereka gagal melakukannya.

d) Kecenderungan yang semakin meningkat, yaitu terjadinya perang sipil; seperti yang terjadi di Lebanon, Bosnia, dan Kosovo. Meskipun sulit membayangkan terjadinya perang kota di London dan Paris, tetapi orang juga sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa akan terjadi perang kota di Sarajevo dan Beirut, tetapi hal itu ternyata terjadi juga.

Jika peradaban Barat mau serius mempertahankan dirinya, maka ia harus pertama-tama dengan jujur mengakui natur politik Islam. Adalah sangat penting untuk mengklasifikasikan Islam sebagai sebuah sistem politik dengan aspek-aspek keagamaan daripada sebagai agama dengan aspek-aspek politik. Pada hakekatnya, Islam adalah sebuah bentuk pemerintahan alternatif yang berkompetisi dengan pemerintahan Barat maupun sekular lainnya yang mencoba untuk melemahkannya dan pada akhirnya menghancurkan dan menggantikannya.

Masyarakat Barat melakukan kesalahan jika mereka menganggap Islam sebagai “agama” dan menawarkan perlindungan khusus yang diasosiasikan dengan istilah itu. Dibawah kedok “kebebasan beragama”, Para aktifis Muslim akan terus menentang pemerintahan Barat, pertama-tama secara politis, kemudian dengan menggunakan kekerasan. Hal ini sudah sering terjadi di Eropa Barat dimana mereka menggunakan kekerasan untuk mengintimidasi dan meningkatkan populasi mereka sebanyak-banyaknya, yaitu untuk mempersiapkan jalan untuk melakukan tuntutan secara politis.

Islam seharusnya tidak diberikan status perlindungan sebagai sebuah agama sebab ia tidak mengakui pemisahan antara agama dengan politik dimana gaya pemerintahan Barat dan kebebasan beragama didasarkan. Setiap pengakuan terhadap legitimasi haruslah timbal balik: hal ini tidak logis-dan merupakan bunuh diri-bagi pemerintahan di Barat maupun di negara-negara non-Muslim lainnya, yang menganggap Islam sebagai sebuah “agama” yang sah ketika Islam sendiri tidak mau mengakui legitimasi dari pemerintahan-pemerintahan yang sama.

Barat dan bahkan seluruh dunia Non-Muslim lainnya harus bangkit dari kenyataan bahwa mereka sedang menghadapi sebuah mesin perang terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia; sebuah ideologi yang mengajarkan untuk membunuh orang lain, merampasi kekayaan mereka, menduduki tanah mereka, dan memperbudak penduduknya. Di samping itu, penghancuran institusi-institusi mereka bernilai sangat tinggi dan dianggap sebagai batu loncatan untuk mencapai keselamatan. Kebijakan yang tepat untuk menyingkirkan Islam adalah: jauhkan ia dari masyarakat kita sementara kita pun harus realistis mengenai kemampuan kita untuk mempengaruhi hubungan-hubungan dalam lingkungan yang sudah ia pengaruhi. Yang terutama adalah, kita harus membuang fantasi bahwa globalisasi akan menyembuhkan antipati Islam yang sudah berlangsung selama 1400 tahun. Mereka yang menolak untuk menerima kebenaran ini seharusnya bertanya kepada diri mereka sendiri: Apakah penolakan mereka sebagai hasil dari studi secara seksama terhadap sumber-sumber dan sejarah Islam, atau hal ini disebabkan oleh ketidakmauan mereka untuk menerima sebuah realitas yang mengharuskan mereka untuk berkorban dan bergumul? Kenyataannya bahkan para apologis Muslim kekurangan dasar pemahaman terhadap subyek yang seharusnya mereka kuasai dengan baik. Bagi mereka yang tahu lebih baik, kita tidak boleh ragu untuk mengajak orang-orang seperti itu supaya kita bisa mengekspos ketidaktahuan mereka, ketidakjujuran dan kemalasan intelektual mereka.

Ini adalah sebuah hal yang paradoks, tetapi tak ada masyarakat yang memiliki kelangsungan hidup sebagai goal tertinggi yang akan selamat. Ia harus memiliki tujuan akhir yang tidak terlihat dan yang lebih tinggi untuk memotivasi masyarakatnya mempertahankan tatanan sosial terhadap potensi serangan. Percaya kepada realitas yang lebih tinggi yang melebihi dunia ini meyakinkan para pejuang, apakah ia seorang sarjana atau seorang ahli dalam peperangan – bahwa pertempuran-dan jika diperlukan, kematian-adalah sesuatu yang pantas. Tumpulnya spiritualitas Barat merupakan kekuatan Islam. Hari ini, semua yang dibuat oleh Barat mengagumkan dan berbeda dengan yang dibuat oleh masyarakat lainnya-ekspansi keluar, kekristenan, pencapaian budaya yang superior- telah dirusak oleh serangan-serangan para relativis. Untuk memulihkan warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Barat, yang selama ini kurang diperhatikan oleh para penjaganya, merupakan hal yang harus segera dilakukan supaya Barat dan seluruh dunia Non-Muslim bisa tetap bertahan.

Bisa dibuktikan bahwa Islam memiliki orang-orang percaya sejati-bagaimana dengan kita?


Gregory M. Davis, Ph.D

Penulis dari “Religion of Peace” Perang Islam terhadap dunia

Produser dan Direktur dari Islam: Apa Yang Harus Diketahui oleh Barat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar