Senin, 09 November 2009

BAB VIII - ISLAM, AGAMA ADAM

Menurut ajaran Islam, agama Islam bukan berawal dari Muhammad. Umat Muslim mengklaim bahwa agama Islam adalah agama Adam, Nuh , dan Ismael, dan semua nabi-nabi Tuhan (Allah), termasuk Yesus Kristus sebelum penyalibanNya. Alquran sendiri menyatakan demikian. Karena keterbatasan ruang dalam buku ini, kami hanya menelaah dua nama yaitu Adam dan Yesus Kristus untuk mengidentifikasikan Islam.

Satu hal yang kami ketahui tentang Adam adalah bahwa dia merupakan orang pertama. Tuhan (Elohim) tidak memberinya agama dan dia juga bukan seorang nabi. Elohim hanya minta Adam untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden serta mengizinkan dia makan semua buah di dalam taman tersebut kecuali satu pohon yang buahnya tidak boleh dimakannya yaitu pohon pengetahuan tentang apa yang baik dan yang jahat. Itu saja yang kami ketahui tentang Adam.
Tidak ada satupun pernyataan tentang agama Adam di sana. Adam hanya diberi satu perintah saja. Namun tidak lama setelah itu dia tidak mentaati perintah Elohim tersebut karena dia tergoda mendengar suara setan (yang pada saat itu mewujudkan dirinya dalam rupa ular) yang berjanji bahwa pada waktu dia dan istrinya makan buah itu, mereka akan menjadi ‘seperti Elohim’ – keinginan menjadi seperti Elohim inilah yang mengilhami setan (yang semula adalah malaikat) untuk memberontak melawan Elohim sehingga akhirnya setan (yang pada saat menggoda Adam dan hawa mewujudkan dirinya sebagai ular) telah kehilangan kedudukannya di surga (Yesaya 14:12-15). Adam, atas nasehat dari setan (dalam wujud ular), kemudian makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat tersebut dan akibatnya hubungan pribadinya dengan Elohim menjadi hancur/putus. Elohim kemudian mengusir dia keluar dari taman Eden, dan dia menghabiskan sebagian besar dari umur hidupnya di luar taman Eden.

Oleh karena itu, manusia pada hakikatnya adalah orang berdosa sekalipun dia dibudayakan dan ‘ditetaskan’ dalam tabung penelitian. Telurnya berdosa; makanan penyuburnya berdosa. Keduanya mempunyai gen atau potensi dari seorang yang keji/jahat (Mazmur 58:3; 51:5). Kondisi manusia akan makin diperburuk, terutama kalau dia menyembah suatu ‘Tuhan’ yang memperkenankan perbuatan keji/jahat yang diperbuatnya dan yang menjanjikan suatu surga kenikmatan sebagai suatu pahala baginya. Jadi, dua hal yang harus diperbuat manusia sebelum dia dibenarkan di hadapan Elohim. Pertama, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan jahatnya di masa lalu harus diampuni. Pengampunan dosa harus dilaksanakan melalui pembasuhan dosa oleh Darah Yesus. Kedua, dosa itu sendiri yang merupakan pembawaan yang menyebabkan orang berbuat dosa, maksudnya kromosom Adam, harus disalibkan. Hal ini dilakukan melalui sarana (perantaraan) pengorbanan Kristus di Kayu Salib (Efesus 2:14-16; Galatia 2:20). Dengan melaksanakan kedua hal tersebut di atas bukan saja manusia lama sudah berlalu melainkan juga manusia baru sudah datang (2 Korintus 5:17). Manusia yang tetap berada dalam esensi Adam yang lama tidak mungkin menyenangkan hati Elohim atau diperkenan oleh Elohim. Semua keturunan Adam tidak pernah tunduk/patuh pada Hukum Elohim. Itulah sebabnya setiap keturunan Adam harus menerima hidup baru sebelum Elohim berkenan kepadanya.

Sekarang, kalau umat Muslim mempertahankan bahwa Islam adalah agama Adam, kami akan meneliti mengenai pencetus agama tersebut (yang dimaksud adalah Adam itu sendiri). Islam berarti kepatuhan, dan Adam memang patuh, tetapi dia patuh bukan kepada Elohim. Kitab Suci menyatakan bahwa Adam patuh dan menurut pada iblis. Jadi, kalau yang dipatuhi Adam itu ternyata juga disebut Allah dari Muhammad, apa kira-kira pendapat umat Muslim menanggapi hal tersebut?

Doktrin lain yang akan diteliti sehubungan dengan masalah ini yaitu doktrin yang menyatakan bahwa Yesus Kristus juga mengamalkan Islam sebelum penyalibanNya dan bahwa setelah kematianNya orang-orang baru menyebutNya Kristen. Argumentasi tersebut tidak berdasar sama sekali. Semua klaim Alkitab tentang Yesus Kristus ketika Dia hidup di dunia – tentang Diri Yesus sendiri, tentang Elohim, dan tentang jalan keselamatan – bertentangan seluruhnya dengan ajaran-ajaran Islam yang paling mendasar/pokok. Dan hal tersebut menjelaskan mengapa umat Muslim yang sejati menolak Alkitab dan mereka lebih berpegang teguh pada suatu ‘Injil’ yang mereka sebut sebagai ‘Injil’ Barnabas.

Muhammad secara konsisten mengklaim bahwa dia tidak mengajarkan agama baru atau wahyu baru selain ajaran yang diajarkan Yesus, dan umat Muslim mengklaim bahwa mereka menghormati Yesus. Namun banyak di antara kita mengetahui dari pengalaman bahwa Islam adalah agama di dunia yang paling anti-Kristen. Agama Islam adalah agama yang lebih antagonistis terhadap keimanan Kristen bila disbanding dengan komunisme (Ateisme). Dalam hal ini kami tidak bermaksud ‘sok tahu’ tentang Islam. Dengan semua penganiayaan yang diderita oleh umat Kristen di negara yang dahulu disebut Uni Soviet, Gereja Kristus masih dapat berlangsung terus walaupun di bawah tanah (secara sembunyi-sembunyi). Di negara Cina Komunis saat ini, kekristenan tetap tumbuh dengan subur. Sementara itu orang yang mengakui Kristus di suatu negara Islam akan dipandang sebagai seorang pengkhianat yang sangat serius kesalahannya. Tidak ada satupun Gereja yang diizinkan beroperasi secara terbuka di negara Islam, bahkan Gereja resmipun tidak diizinkan, padahal di negara komunis saja Gereja resmi diizinkan.

Enam ratus tahun berlalu sejak saat Kristus telah menyelesaikan Karya Agung penebusan dosa manusia, tiba-tiba muncullah Muhammad dengan membawa suatu perangkat aturan hukum lain yang sesungguhnya lebih inferior dari Hukum Yahudi (Hukum Taurat) dan dia kemudian memaksa manusia untuk menerima aturan hukum lahiriah keagamaan yang dibawanya tersebut. Rasul Paulus menyatakan, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Elohim oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20).

Umat Muslim berhasil menempatkan diri mereka di bawah kutukan dosa dengan memilih melakukan suatu aturan hukum lahiriah keagamaan saja. Alkitab menyatakan bahwa semua orang yang menggantungkan diri pada pelaksanaan hukum-hukum agama saja adalah orang-orang yang berada di bawah kutukan dosa, “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk” (Galatia 3:10).

Namun bagi kami umat Kristen yang telah menerima keilahian Yesus di atas segala-galanya dalam kehidupan kami, Alkitab menyatakan, “Kristus telah menebus kita dari kutuk Hukum Taurat …” (Galatia 3:13). Itulah berita sukacita yang disebut ‘Injil’ yang tidak diterima (ditolak) oleh umat Muslim. Mereka tidak menyadari bahwa adalah suatu kesombongan di hadapan Elohim kalau manusia menolak anugerah keselamatan yang ditawarkan Elohim sebaliknya malahan menjalankan tata cara ibadah keagamaan secara lahiriah saja seperti membasuh hidung, mencuci mulut, mengorbankan domba/kambing, dan merasa memenuhi syarat untuk melihat kemuliaan Elohim. Kitab Suci menyatakan bahwa tata cara atau aturan ibadah keagamaan secara lahiriah saja hanya akan membawa kepada kebinasaan karena aturan-aturan tersebut didasarkan atas pengajaran-pengajaran dan perintah-perintah manusia. Alkitab menyatakan, “Semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi” (Kolose 2:22-23).

Itulah sebabnya mengapa sekalipun memiliki empat orang isteri, gundik-gundik dan mut’a, seorang Muslim masih belum mendapatkan kepuasan hidup. Kepuasan di bidang apapun yang diberikan oleh dunia ini tidak akan berlangsung lama, hanya kasih Elohim di dalam Kristus saja yang dapat memuaskan hati anda selama-lamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar