Sabtu, 28 November 2009

Bab 3 LATAR BELAKANG BUDAYA ISLAM

Arabia Zaman Pra – Islam

Imam Islam menganggapnya sebagai penghujatan apabila ajaran Alquran maupun Muhammad dikatakan bersumber pada adat-istiadat, budaya, dan kepercayaan zaman pra Islam. Itu sebabnya orang-orang Muslim tidak pernah melakukan penelitian secara mendalam untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan Arabia zaman pra Islam.

Ahli-ahli Barat sajalah yang mengungkap sejarah masa lalu untuk menemukan sumber-sumber budaya dan kesusateraan yang dimanfaatkan Muhammad dalam membangun agamanya dan juga Alquran itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa setiap referensi dari Barat mengenai Islam selalu dimulai dengan suatu pendahuluan yang menceritakan Arab di masa pra Islam dan pengaruhnya terhadap pengajaran dan ritus-ritus keagamaan yang dianut Muhammad.

Latar belakang sejarah Islam tidak dapat diabaikan. Jikalau sumber dan asal usul Islam dapat ditelusuri dan ditemukan dalam kepercayaan, adat-istiadat, dan budaya Arab zaman pra Islam, berarti doktrin-doktrin yang menyatakan bahwa keimanan Muhammad dan alquran yang diturunkan langsung (dari surga dan tidak berasal dari dunia dan tangan-tangan manusia) adalah menjadi doktrin yang bermasalah.

Alasan Yang Berputar-putar ( Circular Reasoning )

Umat Islam seringkali beragumentasi dengan menggunakan jalan berpikir berputar-putar. Mereka berdalih bahwa Islam dan Alquran diturunkan langsung dari surga, sehingga tidak mungkin ada sumber-sumber atau bahan-bahan duniawi yang dapat digunakan untuk mengkonstruksinya. Mereka selalu berasumsi demikian.



Namun para cendekiawan Barat tidak dapat menerima asumsi yang dilakukan sekenanya saja. Karena sebagaimana yang kita lihat, iman Islam dan Alquran sendiri dapat dilihat secara lengkap dan sempurna dalam lingkup kepercayaan, adat istiadat, dan budaya Arab di zaman pra-Islam.

Perhatian khusus akan diberikan pada hasil karya awal yang ditulis oleh Julius Wellhausen, Theodor Noldeke, Joseph halevy, Edward Glaser, William F. Albright, Frank P. Albright, Richard Bell, J. Arberry, Wendell Phillips, W. Montgomery Watt, Alfred Guillaume, dan Arthur Jeffry, Penelitian linguistik dan arkeologi yang dilakukan sejak pertengahan ke dua abad 19 telah mengungkapkan banyak bukti bahwa Muhammad mengkonstruksi agamanya dan Alquran dengan mengambil bahan-bahan yang berasal dari budaya Arab.

Makna Islam

Sebagai contoh awal, kata “islam” tidaklah diwahyukan dari surga atau diciptakan oleh Muhammad. Kata itu adalah kata Arab yang aslinya merujuk kepada sifat kejantanan dan mendiskripsikan seseorang yang gagah berani dan jantan dalam pertempuran. Dr. M. Bravmann, seorang sarjana dan ahli mengenai Timur Tengah, mendokumentasikan hasil kerjanya yang sangat mengagumkan, dalam bukunya yantg berjudul “The Spiritual Background of Early Islam”.

Islam asalnya merupakan konsep sekuler yang menunjukkan suatu budi luhur dalam pandangan orang Arab primitif; berani menantang maut, kepahlawanan; siap mati dalam pertempuran.

Kata “islam” semula sebetulnya, bukan berarti “kepatuhan” atau “berserah diri” sebagaimana yang dikira banyak orang. Sebaliknya, kata itu berarti kekuatan yang menjadi ciri pejuang padang pasir yang akan bertempur sampai mati buat suku bangsanya kalau mereka menghadapi rintangan yang tidak mungkin diterobos sekalipun. Kata islam baru kemudian secara perlahan-lahan mengalami perubahan arti yaitu menjadi kepatuhan, tunduk, seperti yang didemonstrasikan oleh Dr. Jane Smith di Universitas Harvard.

Kehidupan Kesukuan Zaman Pra – Islam

Aspek masyarakat kesukuan pada zaman Arab pra-Islam menjadi acuan dari banyak hal yang dapat ditemukan dalam Islam masa kini. Misalnya, adalah sesuai dengan moral Arab pada waktu itu membenarkan suku yang satu melakukan penyerangan kepada suku-suku lain dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, istri-istri, dan budak-budak, sehingga mengakibatkan suku-suku di sana secara terus-menerus berperang antar mereka sendiri.

Suku-suku padang pasir hidup dengan menganut aturan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Pembalasan selalu dicanangkan bilamana ada perbuatan yang menyakiti salah satu anggota dari suatu suku.

Sistem hukum yang kejam tersebut diikuti oleh suku-suku Arab pengembara. Bagi mereka memotong tangan kanan, kaki atau kepala seseorang merupakan hal yang wajar-wajar saja, tidak ada masalah. Lidah dapat dipotong, telinga dipotong, bahkan mata dicungkil sebagai hukuman atas berbagai kejahatan.

Tindakan membokong seseorang dan menggorok leher dan mengirisnya dari telinga satu ke telinga yang lain dipandang sebagai perbuatan yang benar dalam situasi tertentu. Dan algojo yang melakukannya dipandang sebagai pahlawan!

Memaksa orang menjadi budak atau menculik para wanita dan membawa mereka ke dalam harem (selir), serta memperkosa mereka, semuanya dianggap patut-patut saja. Keadaan dan kondisi Arab yang keras menciptakan masyarakat kesukuan yang keras pula di mana tindakan kekerasan menjadi normanya. Dan kekerasan masih merupakan attribut dalam masyarakat Islam.

Sebuah Contoh Di Alam Modern Ini

Pengenaan fatwa mati yang mengenaskan bagi Salman Rushdie adalah contoh dari tindakan kekerasan Arab yang dilakukan di alam modern ini.

Dihukum mati karena menulis sebuah buku yang mengungkapkan hal-hal yang tidak menguntungkan Muhammad, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipahami atau ditoleransi masyarakat Barat. Namun bagi orang Muslim Arab, hal itu sangat masuk akal.

Doktor Montgomery Watt dari Universitas Edinburgh menyatakan: Perlu ditekankan bahwa orang-orang Arab tidak beranggapan bahwa membunuh seseorang adalah merupakan sesuatu yang salah pada hakekatnya. Perbuatan itu baru disebut salah kalau orang tersebut adalah anggota dari keluarga besar atau kelompok persekutuannya, karena dalam Islam ini berarti pembunuhan terhadap sesama orang beriman.

Rasa takut kepada pembalasan dendam juga akan membuat orang tidak membunuh salah satu anggota dari suku yang kuat. Namun dalam kasus lain tidak ada alasan untuk melarang membunuh.

Di Amerika Serikat, pergerakan masyarakat Muslim berkulit hitam mencatat suatu riwayat tindak kekerasan yang tidak terpuji. Tindak kekerasan tersebut termasuk membunuh para pemimpin mereka sendiri!

Pembunuhan

Sungguh menarik untuk menyimak bahwa kata dalam bahasa Inggris “assassin”, sesungguhnya terambil dari bahasa Arab. Bahasa Inggris mengambil kata itu dari bahasa Latin “Assassinus”. Bahasa Latin mengambilnya dari bahasa Arab “hashshashin”. Dalam bahasa Arab kata hashashashin secara literal berarti “orang yang mengisap ganja” dan digunakan untuk mendiskripsikan orang-orang Muslim yang menghisap ganja yang merangsang mereka hingga “mabuk religius” sebelum mereka melakukan pembunuhan atas musuh-musuh mereka.

Kata tersebut masuk ke dalam khasanah perbendaharaan kata-kata Eropa melalui suatu Sekte Muslim yang menamakan diri mereka “Kelompok Assassins” yaitu kelompok yang meyakini bahwa Allah memanggil mereka untuk membunuh orang-orang sebagai suatu tugas suci.

“Kelompok Assassins” menteror Timur Tengah dari abad ke-11 sampai abad ke-13 sesudah Masehi dan bahkan membuat Marcopolo, seorang penjelajah Barat, sampai merasa takut akan hidupnya.

[Pada permulaan abad ke-20 sekitar satu juta orang Kristen bangsa Armenia telah dibantai oleh Muslim Turki]

Alquran Dan Tindak Kekerasan

Jangan ada yang heran mendapati Islam bukan saja mewajar-wajarkan tindak kekerasan tetapi juga dalam situasi tertentu Islam memerintahkan tindak kekerasan. Dalam alquran, Surat 9 : 5 orang-orang Muslim diperintahkan sebagai berikut:

Perangilah orang-orang musyirik itu dimana saja kamu jumpai, dan tangkaplah mereka, kepunglah dan dudukilah setiap tempat pengintaian mereka.

Dan apa yang harus dilakukan orang Muslim terhadap orang-orang yang menolak Islam? Surat 5 : 33 menyatakan: Pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi allah dan RasulNya adalah….Mereka dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berselang seling, atau dibuang dari bumi itu.

Bagi masyarakat Barat, hal-hal seperti memotong tangan dan kaki seseorang hanya karena tidak mau menerima agama Islam merupakan sesuatu yang tidak dapat dipahami sama sekali.

Kota Mekah

Perlu dijelaskan bahwa Mekah ada di bawah penguasaan suku Quraisy dalam lingkungan mana Muhammad dilahirkan. Mekah juga menjadi pusat yang paling dominan bagi para penyembah berhala di segenap wilayah Arab.

Chamber’s Encyclopedia menyatakan: Masyarakat di mana Muhammad dibesarkan merupakan lingkungan penyembah berhala. Di setiap lokasi yang berbeda terdapat dewa mereka yang berbeda-beda pula. Para dewa tersebut sering direpresentasikan dengan batu-batuan. Di berbagai tempat terdapat tempat suci pemujaan di aman ziarah dilakukan. Di Mekah terdapat tempat pemujaan yang paling penting yaitu Kaabah yang di dalamnya terdapat sebuah batu hitam, yang telah lama menjadi obyek penyembahan.

Para arkeolog telah menemukan banyak contoh karya seni zaman pra-Islam, termasuk patung-patung berhala dan simbol-simbol yang digunakan dalam upacara penyembahan.

Encyclopedia Britannica menyatakan bahwa pusat, sumber keuangan suku Quraisy terletak pada para kafilah dan jalur perdagangan yang khusus dilewati oleh para penyembah berhala ini menuju Mekah dengan maksud untuk melakukan Upacara penyembahan berhala mereka di Kaabah.

Kaabah

Kaum Quraisy melihat bahwa di dalam Kaabah (yang memuat 360 berhala) terdapat sebuah berhala untuk setiap agama. Kata Kaabah dalam bahasa Arab berarti kubus dan merujuk pada kuil batu berbentuk empat persegi di Mekah di mana baal (berhala) disembah. Tempat pemujaan tersebut memuat sebuah meja sajian untuk para dewa, berisi berbagai sesajian sehingga masing-masing dewa mendapat sesuatu bagian.

Paling sedikit ada 360 dewa di Kaabah, dan jika ada orang asing datang ke kota dan ingin melakukan pemujaan kepada dewa lain selain ke 360 dewa-dewa yang sudah ada di Kaabah, maka dia boleh menambahkan dewa yang khusus itu di Kaabah.

Jalur perdagangan yang menguntungkan dan para kafilah yang kaya raya telah membentuk hubungan budaya antara Afrika, Timur Tengah, Negeri Timur, dan Negeri Barat. Itulah sebabnya tidak mengherankan jikalau kisah-kisah dalam Alquran dapat ditelusuri asal usulnya kembali dari Mesir, Babilonia, Persia, India, dan bahkan dari Yunani.

Jimat Dan Jin

Dalam kehidupan religius di zaman pra-Islam, orientasi utama masyarakatnya adalah segala hal yang bersifat tahyul. Orang-orang Arab percaya pada “mata jahat” (kekuatan magis yang dimiliki seseorang sehingga dengan melihat saja dia bisa menyebabkan orang lain celaka atau sial), mantera kutukan, guna-guna, batu berjimat, fatalisme (serba kodrat tak terelakkan), kuasa gaib, dan cerita-cerita menakjubkan tentang para jin, atau peri.

Sebagian besar dari masa kanak-kanak mereka telah pernah membaca cerita-cerita fabel yang fantastis seperti “The Abraham Nights”, cerita Aladin dengan lampu wasiatnya, cerita mengenai karpet terbang, dan sebagainya.

Itulah sebabnya tidak mengherankan kalau dalam Alquran juga dijumpai referensi-referensi yang mirip dengan “mata jahat”, kutukan, fatalisme, sihir dan jin-jin yang mentakhjubkan (Surat 55 : 72 : 113 : 114).

[Dalam Hadis Shahi Bukhari vol I / 740 dan vol 5 / 199, dikatakan bahwa Muhammad adalah “orang kuat” yang mengontrol jin-jin yang hidup di batu-batu, air dan pohon-pohon.

Tetapi Surat 113 mengungkapkan kekhawatiran Muhammad terhadap malam gelap dan tukang-tukang sihir].

Di banyak negara Islam, orang-orang Muslim masih mengenakan jimat di sekeliling lehernya di mana sebagian ayat-ayat Alquran dituliskan dengan maksud untuk menolak atau membalikkan si “mata jahat”.

Kepercayaan Animisme

Orientasi dasar penduduk Arab adalah animisme. Jin laki-laki dan perempuan, atau roh-roh yang ada di pohon, di batu, di sungai, dan di gunung-gunung merupakan sesembahan mereka dan membuat mereka takut.

Batu-batu magis yang suci dipercaya mereka dapat melindungi kaumnya. Suku Quraisy telah mengadopsi sebuah batu hitam sebagai batu magis bagi sukunya, dan telah Menempatkannya di Kaabah.

Batu magis yang berwarna hitam ini dicium ketika orang-orang datang berziarah ke Kaabah. Tidak diragukan lagi bahwa batu hitam tersebut hanyalah satu asteroida yang jatuh dari angkasa luar, namun dipercayai ramai-ramai sebagai “barang langit”.

Kaum Sabian

Agama dominan yang telah tumbuh sangat kuat sebelum masa Muhammad adalah kepercayaan yang dianut oleh kaum Sabian. Masyarakat ini menganut kepercayaan kepada benda-benda angkasa (bintang-bintang) yang menjadi sesembahan mereka.

Bulan dipandang sebagai dewa laki-laki dan matahari sebagai dewa perempuan. Mereka berdua melahirkan dewa-dewa lain seperti bintang-bintang. Mereka menggunakan kalender bulan dalam mengatur ritus-ritus keagamaan / kepercayaan mereka. Contohnya, satu bulan berpuasa diatur oleh masa peredaran bulan.

Ritus berpuasa dari Sabian kafir ini dimulai pada waktu munculnya bulan Sabit dan berlangsung terus sampai bulan Sabit berikutnya muncul kembali.

Hal ini nantinya diadopsi oleh Islam sebagai salah satu dari lima rukun Islam.

Ritus Penyembahan Berhala

Upacara penyembahan berhala juga memberikan kontribusinya pada lingkungan keagamaan yang dari dalamnya Lahirlah Muhammad. Agama penyembah berhala pada zaman Arab pra-Islam mengajarkan bahwa setiap orang harus sujud menyembah dan bersembahyang menghadap ke arah Mekah pada saat-saat yang telah ditentukan dalam sehari. Setiap orang juga harus melakukan ziarah ke Mekah untuk melakukan penyembahan di Kaabah paling tidak sekali seumur hidup.

Sesampainya mereka di Mekah, para penyembah berhala tersebut lari mengelilingi Kaabah 7 kali, mencium batu hitam, dan lari lagi sejauh satu mil menuju ke Wadi Mina untuk melempari Iblis dengan batu-batu.

[Sebelum Islam, orang Arab menyembah berhala-berhala di dalam dan di sekitar Kaabah. Mereka mengelilingi Kaabah dalam keadaan telanjang bulat dan bertepuk tangan. Kini orang-orang Islam mengelilingi Kaabah dengan berpakaian Ihrom yaitu kain putih yang tidak boleh dijahit dan hanya dililitkan pada tubuh dan tetap tidak boleh pakai celana].

Mereka juga percaya dalam menjalankan kewajiban memberi sedekah dan mengutuk riba. Mereka bahkan menentukan bulan tertentu di mana mereka harus berpuasa sesuai dengan kalender bulan. (Dapat dibaca pada referensi-referensi standar seperti Encyclopedia Britannica, dan standar-standar lain baik Encyclopedia maupun Dictionaries tentang Islam).

Semua mengakui bahwa upacara penyembahan berhala ini menjadi bagian dari kepercayaan yang diajarkan kepada Muhammad oleh keluarganya.

Jadi, tidaklah mengherankan ketika Nazar-Ali, seorang ilmuwan dan ahli Islam bangsa Arab mencatat dalam bukunya sebagai berikut: “Islam mempertahankan banyak aspek dari agama berhala” (Islam : A Christian Perspective, p.21) Alfred Guillaume, seorang Profesor kajian Arab di Universitas London dan nantinya mengajar di Universitas Princeton, yang juga adalah Ketua Sekolah Kajian Timur Tengah dan Timur Dekat berkomentar:

Kebiasaan-kebiasaan penyembahan berhala / kekafiran telah meninggalkan bekas yang tidak terhapuskan dalam Islam, misalnya dalam upacara penunaian ibadah haji. Profesor Augustus H. Strong menyatakan bahwa Islam adalah “kekafiran dalam bentuk monotheistic”.

Agama Asing

Akhirnya pengaruh dari agama asing juga melanda dunia Arab pada masa pra-Islam.

Orang-orang Yahudi

Orang-orang Yahudi dalam jumlah besar pindah ke Arabiah dan telah berkembang menjadi kelompok yang makmur tidak hanya karena usaha perdagangan tetapi juga usaha jual-beli emas dan perak yang mereka lakukan.

Cerita-cerita dari Kitab Perjanjian Lama, dari Mishnah, dari Talmud, dan dari karya apocryphal Yahudi seperti Perjanjian Abraham semuanya sudah dikenal dengan baik di negeri Arab zaman pra-Islam.

Kaum Zoroastria

Terdapat pula pengaruh dari agama / ajaran Zoroastrian. Pedagang-pedagang dari Persia seringkali melintasi Mekkah sambil menceritakan dongeng-dongeng fabel mereka yang terkenal. Karena jalur perdagangan utama melintasi Mekkah, orang-orang dari negeri Timur seperti India dan Cina juga menyebarkan pandangan-pandangan dan kisah-kisah agama mereka kepada penduduk Arab.

Tidaklah mengherankan kalau di Alquran terdapat bekas cerita-cerita keagamaan yang bila ditelusuri ujungnya pada agama Hindu, agama Buddha, ajaran Mythraisme, kepercayaan misteri Yunani, dan agama bangsa Mesir.

Orang-orang Kristen

Kekristenan telah diperkenalkan pada masyarakat Arabia bagian Selatan dan telah berkembang dengan pesat di sana pada waktu Muhammad lahir.

Namun kekristenan yang diperkenalkan di Arab pada waktu itu masih dalam bentuk yang kacau dan kurang benar, dan lebih parah lagi masih bersifat bidah-bidah.

Sebagian dari pengajaran Gnostic yang kurang benar terdapat di Arabia zaman pra-Islam. Injil-Injil Gnostic ini muncul pada pertengahan akhir abad ke-3 dan mencapai puncak pengaruhnya selama abad ke-4 sampai abad ke-7 sesudah Masehi. Kehadiran pengajaran ini di Arabia pra-Islam dikenal cukup luas.

Pertanyaan Penting

Pandangan-pandangan dan ritus-ritus keagamaan yang ditemukan dalam Islam dan Alquran, dapat ditelusuri kembali kepada pengaruh dari kehidupan keagamaan, adat istiadat, dan budaya zaman pra-Islam.

Para ilmuwan barat sampai pada kesimpulan ini ketika mereka mengajukan pertanyaan sebagai berikut, “Mengapa Alquran tidak pernah menjelaskan mengenai pandangan-pandangan atau ritus-ritus asli Islam? Mengapa Alquran tidak pernah menguraikan makna atas kata-kata seperti ‘Allah’, ‘Islam’, ‘Mekah’, ‘Jin’, ‘Ibadah Haji’, ‘Kaabah’, dan lain-lain?”.

[Misalnya, kenapa Quran tidak menjelaskan darimana datangnya perubahan nama TUHAN semesta alam yang sejak ribuan tahun sebelumnya selalu bernama YAHWEH di Alkitab, namun oleh Quran, oknum ini awal-awalnya disebut dengan “Rabb”, yang kemudian namaNya menjadi ALLAH? Kapan dan bagaimana namaNYa tiba-tiba ditemukan? Bagaimana Ia memperkenalkan nama baruNya? Apa MAKNA sesungguhnya nama tersebut menurut Allah SWT sendiri? Di mana ayatnya di dalam Alquran?]

Satu-satunya kesimpulan rasional yang dapat diambil yaitu: Alquran tidak menjelaskan mengenai istilah-istilah tersebut di atas karena Muhammad memang menganggap bahwa siapapun yang membaca Alquran pasti telah mengenal budaya, kebiasaan, dan kehidupan keagamaan zaman pra-Islam. Itulah sebabnya Alquran tidak pernah pula menjelaskan identitas dari tokoh-tokoh yang tersebut dalam berbagai hikayat yang terdapat dalam Alquran. Pembaca dianggap telah mengenal dengan baik Cerita-cerita yang bersumber dari zaman pra-Islam.

Suatu Ancaman Serius

Kita menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas serta hasil-hasil yang diperoleh para peneliti sejarah mengenai agama Islam merupakan suatu ancaman serius bagi agama Islam yang dalam ajarannya menyatakan bahwa Alquran secara literal diturunkan dan bersumber dari surga jadi tidak melibatkan manusia maupun sumber-sumber dari dunia.

Kita memahami perjuangan berat bagi umat Muslim mengatasi persoalan ini. Mereka berada dalam keadaan terjepit. Untuk menyelamatkan Alquran, mereka harus mengakui bahwa Muhammad-lah yang menjadi pengarangnya dan bukan Allah.

Dan mereka juga harus mengakui bahwa Alquran ditulis di dunia dan bukan di surga seperti yang dinyatakan sebelumnya. Hal tersebut di atas akan menggiring pada suatu penjelasan yang sudah ada sejak zaman pra-Islam. [Bagaimanapun Alquran memakai bahasa dunia yang terbatas. Bahasa Arab itu ‘made in Arabia”, tidak mungkin bahasa surga, sama halnya bahasa Ibrani atau Yunani sama-sama dalam “Induk Alkitab” yang juga bukan bahasa langit. Bukankah teks Arab untuk Quran awal, karena keterbatasannya akhirnya (setelah kepergian Muhammad) mendatangkan kesimpang-siuran dalam tulisan dan pembacaan sehingga terpaksa harus didandani lagi?].

Namun usaha menyelamatkan Alquran tersebut justru akan merusak citra Alquran itu sendiri. Akhirnya, orang-orang Muslim harus menolak mempercayai bahwa Alquran mutlak bersumber dari surga. Jika kepercayaannya terhadap sifat kesurgaan Alquran dilepas berarti Islam tidak bisa dipertahankan lagi keberadaannya. (kecuali sebagai tradisi Islami saja). –

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar