Sabtu, 28 November 2009

Bab 2 Kunci Memahami Islam

Perumpamaan yang disajikan dalam bab 1 kelihatannya seperti dibuat-buat agar masuk akal, namun dalam kenyataannya memang perumpamaan itu menegaskan inti model agama Islam yang sebenarnya.

Orang Barat mengalami kesulitan memahami Islam karena mereka tidak mengerti bahwa Islam merupakan suatu bentuk dari imperialisme budaya di mana agama dan budaya Arab abad ke-7 ditinggikan statusnya menjadi hukum ilahi.

Rohani ( Sacret ) vs Duniawi ( Sekuler )

Kesulitan dalam memahami Islam berakar pada konsep filosofi Barat tradisional mengenai dikotomi duniawi vs suci rohani ( sekuler vs sacret ).

Di Barat, organisasi keagamaan tidaklah diperlakukan sebagai penguasa yang mengatur semua sendi – sendi kehidupan duniawi. Bahkan sebaliknya, terdapat banyak segi – segi kehidupan sekuler di mana agama tidak mempunyai wewenang sama sekali. Jadi ada bentuk pemisah antara gereja dan negara. Misalnya; organisasi-organisasi keagamaan di Barat tidak dapat mengatur hukum – hukum yang bersifat politik. Di lain pihak, agama Islam tidak dapat diperlakukan sebagai keyakinan agama yang sifatnya pribadi atau perorangan. Agama Islam bukan hanya sekedar sesuatu yang kamu percaya dan selanjutnya kamu percaya dan selanjutnya kamu hidup seperti apa yang kamu suka. Di negara – negara Islam, wacana sekuler tidaklah exist.

Arab Abab Ke 7

Islam sesungguhnya merupakan “ pendewaan “ budaya arab abad ke 7. Dalam arti yang mendalam, Islam sesungguhnya lebih bernuansa budaya daripada agama. Itulah sebabnya semua buku teks dan ensiklopedia mengenai Islam selalu diawali dengan konteks sejarah nabi Muhammad dan pentingnya budaya Arab abad ke 7.



Islam Merupakan Budaya Arab

Beberapa tahun yang lalu saya diundang ke rumah seorang sahabat baik saya yang berkulit hitam dan beragama Islam yang tinggal di daerah Harlem yang terkenal di kota New York. Ketika saya masuk ke dalam apartemennya saya melihat bahwa meskipun anggota keluarganya lahir di Amerika Serikat, mereka tetap menggunakan busana Arab, mendengarkan musik – musik Arab, dan makan makanan Arab. Mereka bahkan mengucapkan doa syukur atas makanan tersebut dalam bahasa Arab, walaupun tidak satupun dari anggota keluarga ini mengerti bahasa Arab.

Mereka telah meninggalkan budaya Amerika dan mengadopsi budaya Arab. Inilah makna Islam bagi mereka. Saya tidak mengatakan bahwa budaya Arab itu jelek hanya semata – mata itu Arab, sebaliknya saya juga tidak mengatakan bahwa budaya Amerika itu baik hanya semata – mata karena itu Amerika. Semua budaya mempunyai sisi baik dan sisi buruknya.

Dalam kenyataannya, adalah merupakan hal yang keliru bagi orang – orang Barat masa lalu ketika beranggapan bahwa budaya mereka perlu disodorkan kepada bangsa – bangsa di seluruh dunia. Bila demikian halnya, maka imperialisme budaya barat akan sama ofensifnya dengan imperialisme budaya Arab.

Para ahli dan cendekiawan bidang kajian Timur Tengah sulit menerima mengapa orang Muslim Arab telah melangkah terlalu jauh dalam penyodoran agama Arab abad ke – 7 itu ke dalam semua budaya dunia!

Dr. Arthur Arberry

Menurut kami, terjemahan Al-quran dalam bahasa Inggris yang paling dapat dipercaya, adalah yang dikerjakan oleh Dr. Arthur J. Arberry, Ketua bidang kajian Timur Tengah di Universitas Cambridge, yang juga adalah seorang profesor di bidang kajian mengenai Arab dan Persia yang tersohor. Dalam dua jilid bukunya yang sangat terkenal, yang berjudul Religion in the Middle East, Prof. Arberry menyebutkan bahwa Islam merupakan “agama kaum Arab dengan corak keanehan”, karena Islam sebagai satu agama dan sekaligus budaya menyatu secara fundamental.

Bahkan seorang ahli dan cendekiawan Islam seperti Dr. Ali Dashti, Mantan Menteri Luar Negeri Iran, dalam bukunya yang berjudul “23 Years: A study of the Prophetic Carier of Mohammad”, dengan cermat mencatat betapa Islam harus dipahami dalam nuansa keberadaannya yang sangat erat menyatu dengan budaya Arab abad ketujuh.

Agama Di Barat

Kaitan ini membuat orang – orang Barat sulit memahaminya, karena di dunia Barat agama dipandang sebagai sesuatu hal yang bersifat amat pribadi dan perorangan bukan bersifat budaya. Misalnya, kekristenan tidak menuntut bahwa masyarakat masa kini untuk berbusana sesuai dengan aturan berbusana abad pertama. Mereka tidak perlu jenis – jenis hidangan yang dimakan Yesus. Jadi kekristenan merupakan “supra budaya” yang mengizinkan masyarakat untuk hidup, berpakaian, dan makan sesuai dengan budaya yang mereka hadapi dari zaman ke zaman.

Namun tidak demikian dengan Islam. Ketika Islam menjadi agama yang dominan di suatu negara, maka seluruh budaya asli dari negara tersebut akan diubah dan digantikan oleh budaya Arab abad ke -7.

Inilah yang menyebabkan begitu sulit bagi umat Muslim untuk mengubah dirinya menjadi penganut agama lain. Segenap aspek kehidupannya telah terdikte oleh Islam. Umat Muslim harus mengikuti apa yang telah didiktekan oleh Islam tanpa memperdulikan di mana dia tinggal atau apa yang dia pikirkan.

Tidak Ada Ruang Sekuler

Bagi umat Muslim tidak ada ruang “sekuler” yang memberi kebebasan padanya di luar ikatan agama Islam. Bagi umat Muslim yang taat, Islam adalah kehidupannya sebagaimana yang dinyatakan oleh Kerry lovering :

Islam adalah cara hidup secara menyeluruh bukan hanya sekedar agama. Dalam Islam tidak terdapat pemisahan antara mesjid dan negara seperti halnya pemisah antara gereja dan negara yang berlaku di Barat. Dalam Islam, agama dan politik adalah satu.

Seorang kelahiran Mesir yang bernama Victor Khalil menyatakan : Islam mengatur setiap aspek kehidupan sedemikian rupa sehingga budaya, agama dan politik di negara muslim menjadi tidak terpisahkan.

Muhammad mengadopsi budaya Arab yang dikenal di sekitarnya, beserta kebiasaan – kebiasaan sakral dan duniawinya, dan menjadikannya agama Islam.

Rasisme Arab

Sering kurang disadari, namun Islam sesungguhnya dijiwai oleh suatu bentuk rasial terselubung dari budaya Arab abad ke -7, di mana ekspresi politisnya, urusan keluarganya, hukum tata boganya, busananya, ritus agamanya, bahasanya, dan lain – lain harus diterapkan di atas semua budaya lain yang ada di dunia.

Mitos Ismael

Salah satu contoh dari rasisme Arab adalah mitos yang menyatakan bahwa orang – orang Arab adalah keturunan Abraham melalui puteranya yang bernama Ismael. Pernyataan ini diungkapkan sebagai jawaban kepada orang – orang Yahudi yang membanggakan Abraham sebagai Bapak bangsanya.

McClintock dan Strong dalam ensiklopedia mereka yang sangat terkenal mengenai agama memberi komentar sebagai berikut:

Pendapat umum mengatakan bahwa orang-orang Arab, baik yang berasal dari selatan maupun utara, adalah keturunan dari Ismael; Ayat dalam Kitab Kejadian 16:12…seringkali ditafsirkan sebagai nubuatan bagi kaum Ismael menjadi bangsa Arab dengan segala kelebihannya terhadap bangsa-bangsa lain. Tetapi perkiraan ini (sejauh yang menyangkut makna yang benar dari teks tersebut di atas) didasarkan pada pemahaman yang salah atas asal usul pembentukan kaum Ibrani asli.

Nubuatan ini justru digenapi dengan kenyataan yang dapat disaksikan di aman keturunan Ismael bermukim terpisah lebih ke arah timur dibandingkan dengan kantong pemukiman keturunan Abraham dengan pihak Sara maupun Keturah (istri Abraham yang terakhir).

Dengan demikian pandangan yang menyatakan bahwa keturunan Ismael itu adalah orang-orang Arab yang bermukim di bagian selatan adalah tidak berdasar sama sekali; dan kelihatannya pandangan tersebut datang dari tradisi yang sengaja diciptakan oleh kebanggaan Arab yang menganggap bahwa mereka, seperti halnya dengan Yahudi, adalah berasal dari benih Abraham. Kebanggaan kosong inilah yang menodai Islam dan memalsukan seluruh sejarah Abraham dan anaknya Ismael, di mana panggung peristiwa yang sebenarnya terjadi di Palestina telah ditrasfer ke Mekah….

Kebanyakan buku-buku referensi yang berotoritas mengenai Islam menolak klaim bahwa bangsa Arab merupakan keturunan Abraham. Encyclopedia of Islam yang sangat bergengsi mengidentifikasikan bahwa rumpun orang-orang Arab justru berasal dari bangsa yang bukan keturunan Abraham.

Bahkan Dictionary of Islam mempertanyakan pendapat yang menyatakan bahwa bangsa Arab adalah keturunan Ismael.

[ Bagaimana Ismael bisa menjadi bapak bangsa Arab? Abraham bukan orang Arab. Hagar – ibunya Ismael- bukan pula orang Arab, melainkan budak dari Mesir. Malahan Hagar mencarikan seorang perempuan Mesir bagi Ismael sebagai istrinya. Jadi Ismael bukanlah orang Arab yang dapat menurunkan bangsa Arab. Apalagi dari Hadis ( Terjemahan HSB 1475) ternyata Ismael justru belajar bahasa Arab dari orang-orang Arab yang telah exist sebagai suku bangsa sebelum ada Ismael]

Suatu Debat Radio

Dalam sebuah pembicaraan radio pada tahun 1991 saya memberi komentar bahwa bangsa Arab bukanlah keturunan Abraham. Seorang Muslim Amerika berkulit hitam, menanggapi dan menyatakan tidak setuju dengan pandangan saya tersebut.

Dia menyatakan dengan tegas bahwa bangsa Arab betul-betul keturunan Ismael. Ketika saya meminta bukti padanya, dia hanya mengatakan bahwa dia diberitahu demikian oleh teman-teman Arab. Tentu saja saya tidak terkesan dengan bukti itu. Saya bertanya lebih lanjut padanya: “Jika semua orang Arab di Timur Tengah adalah keturunan Abraham, bagaimana dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa Akadian, Sumeria, Assyria, Babilonia, Persia, Mesir dan Hitti, dan lain-lain yang telah ada dan hidup sebelum, selama dan sesudah Abraham? Bagaimana dengan berjuta-juta orang dari bangsa-bangsa tersebut yang sesungguhnya bukan keturunan Abraham? Ke mana perginya mereka?“ Atas pertanyaan tersebut dia tidak dapat memberikan jawabannya.

Suatu Alasan Religius

Alasan yang mendesak para Muslim menyatakan diri mereka sebagai keturunan abraham adalah sesuatu yang sifatnya religius. Alquran merubah setting kesejarahan moyang-moyang Alkitab dari Palestina ke Mekah. Alquran bahkan menyebutkan bahwa Abraham membangun kembali Kaabah. Jadi, bilamana dibuktikan bahwa Abraham tidak pernah tinggal di Mekah dan dengan demikian bangsa Arab bukan keturunannya, maka Alquran sendiri akan tersingkir. Bukti arkeologi menunjukkan dengan jelas bahwa Abraham memang tidak pernah tinggal di Mekah. Dia berasal dari kota Ur, yang ditemukan di Irak. Dari kota Ur dia kemudian menuju arah barat Palestina. Contoh-contoh berikut ini akan menunjukkan tanpa ragu-ragu betapa Islam itu kultural sifatnya.

Hukum Islam Arab

Pertama, Muhammad mengadopsi hukum-hukum politis yang mengatur suku-suku bangsa Arab abad ke-7 dan menjadikannya sebagai hukum-hukum Allah. Menurut hukum tersebut seorang Sheik atau pemimpin mempunyai kekuasaan mutlak atas para bawahannya. Tidak terdapat konsep-konsep mengenai hak-hak sipil atau hak-hak pribadi di dunia Arab abad ke 7. Pimpinan suku memutuskan apakah anda perlu hidup atau harus mati. Itulah sebabnya mengapa negara-negara Islam tidak dapat terhindar dan selalu diperintah oleh para diktator atau “orang kuat” yang memerintah secara tirani. Ada 21 negara-negara Arab dan tidak ada satupun yang demokratis.

Mengapa Tidak Ada Demokrasi?

Demokrasi tidak pernah berkembang baik di negara-negara Arab karena sandungan agama Islam. Semakin sekuler sebuah negara Arab, semakin “demokratislah” bangsa itu. Negara Mesir yang cukup tinggi kesekulerannya adalah salah satu contoh dari keadaan tersebut di atas. Tetapi dari waktu ke waktu fundamentalis Islam kembali menjadi dominan dalam suatu negara. Ketika itu bangsa tersebut akan terseret kembali ke zaman “kegelapan” dunia Arab abad ke- 7.

Iran adalah contoh aktuil di mana pemimpin agama mengambil alih pemerintah. Pemerintah yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas dari kekaisaran Ottoman serta para diktator masa kini dari negara-negara seperti Lybia, Jordan, Iran, Irak, Syria, Sudan, Yaman, dan lain-lain adalah contoh-contoh dari tirani Arab abad ke 7 yang dicangkokkan pada abad modern sekarang.

Hak Hak Warga Negara (Sipil )

Karena tidak mengenal konsep kebebasan individu atau hak – hak warga negara dalam kehidupan suku-suku bangsa Arab abad ke 7, hukum Islam juga tidak mengenal kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan berkumpul, atau kebebasan pers. Itulah sebabnya mengapa umat non-Muslim, seperti umay Kristen atau umat Bahais ( suatu aliran agama yang didirikan oleh Husayn Ali baha’u’llah di Iran pad atahun 1963) secara rutin ditiadakan hak-haknya bahkan hak-hak asasinya yang paling mendasar sekalipun.

Untuk membuktikan bagaimana perlakuan kaum Muslim terhadap orang-orang Yahudi dan Kristen selama 1400 tahun, lihat dan baca dokumentasi secara terperinci yang ditulis oleh Bat Ye’or’s dalam bukunya The Dhimmi: Jews and Christians Under Islam (Fairleigh Dickinson University Press, 1985.)

Di Negara Barat, masyarakat bebas memprotes apapun yang dilakukan oleh pemerintahnya. Itulah sebabnya beribu-ribu orang diperbolehkan memprotes perang sekutu melawan Irak. Mereka bebas berbicara dan berkumpul untuk melakukan protes tersebut.

Tetapi apa yang terjadi ketika mereka tinggal di negara Islam sendiri, lalu ingin memprotes Perang Teluk? Misalnya mereka yang ada di Saudi Arabia? Tidak ada kebebasan untuk memprotes!

Dan ini dilaporkan dalam Associate Press pada tanggal 2 Feburari 1991:

Pangeran Nasef telah memberi peringatan bahwa setiap orang yang merendahkan Sekurit Kerajaan akan dihukum mati atau dipotog kaki atau tangan-Nya. Sebaliknya, mereka yang melakukan protes di negara Barat mengenai perang tersebut bahkan tidak akan mendapatkan tiket denda, apalagi dikenakan hukuman potong tangan dan kakinya mereka.

Sembahyang Menghadap Mekah

Seorang Muslim diwajibkan sembahyang lima kali sehari. Hal ini tentunya tidak mengganggu karena sembahyang merupakan hal yang baik untuk dikerjakan. Namun, seorang Muslim juga diperintahkan untuk sembahyang menghadap ke Mekah, yang terletak di Saudi Arabia, sehari lima kali. Dengan demikian dia diingatkan bahwa setiap hari dia harus tunduk dalam ketaatannya pada Arabia sebanyak lima kali.

Bagaimana kalau seandainya ada agama Rusia yang mewajibkan kita sujud menyembah menghadap Moskow lima kali sehari? Bagaimana dengan aliran agama Washington yang menyatakan kita harus sujud menyembah lima kali sehari menghadap arah Washington D.C., atau agama Jepang yang akan mewajibkan kita tunduk dan menyembah sekian kali menghadap arah Tokyo? Lalu bagaimana jadinya dunia ini?

[Sembahyangnya Muhammad dan pengikut-pengikutnya semula berkiblat ke Yerusalem. Namun atas perintah Allah yang tiba-tiba, Muhammad merubahnya ke arah Baitullah, Mekah dengan alasan kewenangan ilahi bahwa semua arah adalah haknya Allah semata].

Tindakan sujud menyembah dalam sembahyang sehari lima kali menghadap arah Mekah Arabia hanyalah suatu tanda wujud pemaksaan kultural, yang sekaligus merupakan Keberadaan imperialisme budaya yang menjiwai Islam.

Menunaikan Ibadah Haji Ke Mekah

Walaupun sangat berat dan membutuhkan biaya besar, seorang Muslim diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, Arab Saudi, paling sedikit sekali selama hidupnya.

[Sekalipun yang tidak mampu keuangannya bisa mengecualikan diri dari tuntutan ini; namun setiap muslim tentu merasakan diri tertekan secara sosial psikologis untuk berusaha memenuhi rukun tiang Islam ini].

Bayangkan seandainya ada agama Rusia yang memerintahkan pengikutnya di seluruh dunia untuk menunaikan ibadah penyembahan di Lapangan Merah, Moskow, paling sedikit sekali selama hidupnya, atau agama Amerika yang memerintahkan pengikutnya untuk menunaikan perjalanan ibadah ke Tugu Peringatan Washington, Amerika Serikat.

Bukti sejarah dengan jelas menunjukkan bahwa Muhammad mengadopsi upacara keagamaan para penyembah berhala yang telah ada pada zaman pra-Islam yang dilakukan di Kaabah Mekah dalam rangka memenuhi tuntutan para pedagang Mekah yang akan memperoleh keuntungan dan uang dalam jumlah besar dari hasil upacara keagamaan tersebut. Jadi karena alasan keuangan dan budayalah Islam mengadopsi praktek upacara naik Haji yang berasal dari paganisme berhala pada zaman pra-Islam di Kaabah Mekah.

Perintah menunaikan ibadah haji tersebut merupakan sesuatu yang kejam dan tidak perlu serta menjadi beban berat bagi orang-orang Muslim yang miskin di dunia ketiga yang harus berhemat dan menabung seumur hidupnya untuk memenuhi “syariat” Islam ini. Perintah tersebut sama-sama tidak masuk akalnya dengan seandainya ada perintah untuk menunaikan suatu ibadah keagamaan ke Washington D.C. atau ke Moskow.

Aturan – Aturan Hukum Mengenai Makanan

Makanan-makanan apa yang bisa diterima, dan apa-apa yang tidak bisa diterima dari zaman Arabia abad ke 7, kini dimandatkan Islam untuk seluruh manusia.

Apa-apa yang dimakan dan yang dipantangkan oleh Muhammad sekarang diamanatkan menjadi hukum surgawi untuk semua orang.

Kerudung Wanita

Alangkah mundurnya zaman, bahwa apa yang dikenakan oleh wanita pengembara yang berpindah-pindah (nomad) di gurun pasir Arabia pada abad ke 7 sekarang diamanatkan oleh Islam sebagai peraturan hukum berbusana bagi wanita Muslim di negara manapun mereka tinggal.

Memang beralasan dan bisa dimengerti kalau anda tinggal di padang pasir, anda perlu mengenakan pakaian yang dapat menutupi tubuh anda dari kepala sampai kaki dengan maksud untuk melindungi diri anda dari sengatan matahari (dan tiupan debu) di gurun pasir tersebut. Wanita Arab memang sudah berpakaian demikian jauh sebelum Muhammad lahir. Namun memaksakan busana gurun seperti itu kepada para wanita di manapun mereka berada, hanyalah merupakan suatu bentuk Imperialisme budaya.

Hak – Hak Wanita

Hakikat penindasan Islam terhadap wanita terlihat dengan jelas dari penolakan Islam terhadap hak-hak azasi wanita bahkan yang mendasar sekalipun.

Ali Dashti, seorang ahli mengenai Islam yang sangat terkenal, menyatakan: Dalam masyarakat Arab sebelum Islam, para wanita tidak mempunyai status sebagai orang merdeka, mereka dianggap menjadi milik kaum laki-laki. Segala macam perlakuan tidak manusiawi terhadap wanita masa itu sudah menjadi pemandangan yang biasa dan memang diijinkan.

Alquran menyatakan dalam Surat 4 : 34 : “Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan…. Dan perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka maka nasihatilah mereka, pisahkanlah (dirimu) dari tempat tidur mereka dan pukul mereka…”

[Kedurhakaam di sini diartikan meninggalkan kewajiban istri, seperti meninggalkan rumah tnpa izin suaminya. Sebaliknya “kedurhakaan” suami terhadap sang istri tidak di apa-apakan].

Bahasa Arab-nya sendiri menggunakan kata yang lebih keras maknanya daripada kata “pukullah mereka”. Kata yang digunakan sesungguhnya bermakna “cambuklah mereka”. Mohammad Pickthal, telah menterjemahkannya secara tepat dalam terjemahan Alquran yang ditulisnya.

Pembelaan Ranting

Dalam suatu program radio yang bisa dihubungi oleh para pendengarnya via telepon di Los Angeles, seorang Muslim membela bahwa kata Arab yang diterjemahkan “pukullah mereka” itu sebetulnya hanya berarti “suatu sabetan ranting secara amat ringan” kepada pergelangan tangan. Tetapi saya menunjukkan bahwa kata Arab yang sama itu telah digunakan untuk menyatakan bagaimana unta-unta dan penjahat-penjahat dipukuli! Siapa yang sedemikian bodohnya untuk percaya bahwa menyabet pergelangan tangan dengan sebuah ranting secara amat pelan akan mampu mengendalikan unta-unta liar atau cukup menghukum para penjahat.

Wanita Dan Islam

Dashti memberikan komentarnya: “Pernyataan bahwa laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan dalam Surat 4 : 34 membuktikan adanya ketidaksamaan hak-hak sipil bagi laki-laki dan wanita. Kalimat tersebut dilanjutkan dengan dua penjelasan mengenai keunggulan laki-laki atas wanita.

Dalam hukum Islam, ahli waris laki-laki memperoleh lebih banyak bagian daripada ahli waris wanita. Juga bobot kesaksian yang diberikan oleh laki-laki (yang jadi saksi) lebih dapat dipercaya daripada kesaksian yang diberikan wanita. Untuk persisnya warisan kepada laki-laki adalah dua kali lebih banyak daripada warisan kepada wanita.

Dan kesaksian laki-laki dalam pengadilan adalah berbobot dua kali lipat ketimbang kesaksian wanita. Hak menceraikan ada pada para suami, para istri tidak berhak sama sekali”.

Dari waktu ke waktu kami akan merujuk kepada pernyataan dari para ahli / sarjana Muslim seperti halnya Ali Dashti, agar para sarjana Barat tidak dianggap membuat pernyataan tersembunyi yang kurang jujur demi menjelekkan Islam. Penemuan-penemuan mereka didukung oleh para ahli dalam bidang studi mengenai Timur Tengah yang sangat terkenal baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim.

Penyangkalan atas hak-hak sipil kaum wanita Muslim yang tercantum dengan jelas di Alquran sendiri sesungguhnya merupakan pencerminan dari budaya Arab abad ke 7, serta merupakan sikap yang merendahkan perempuan.

Bahkan hingga kinipun, wanita Muslim dapat diperlakukan sebagai orang tahanan di rumah mereka sendiri. Hak-hak mereka untuk keluar rumahpun dapat ditiadakan atau dicabut kalau suami mereka menghendaki demikian.

Di negara Islam seperti Kuwait wanita tidak punya hak untuk memberikan suara dalam pemilihan umum. Di negara Islam seperti Iran, para wanita harus membawa izin tertulis dari suami mereka untuk keluar rumah. Di Saudi Arabia wanita bahkan tidak punya hak untuk mengemudikan mobil sendiri.

Sebuah Kasus Yang Mendapat Sorotan

Pada tanggal 10 Maret 1991, Majalah New York Time (hal 24-46) melaporkan berita mengenai hak-hak wanita di Arab Saudi sebagai berikut: Krisis teluk pada musim gugur tahun lalu menimbulkan gelombang demonstrasi umum yang dilakukan oleh para wanita. Mereka menyuruh sopir mereka keluar dari mobil kemudian mengemudikan mobilnya sendiri membentuk suatu konvoi menentang larangan mengemudi bagi wanita. Kejadian itu dengan cepat mengundang reaksi keras dari para penganut agama yang fanatik. Dengan mendapat persetujuan pemerintah serta merta mengadakan kampanye tantangan melawan tindakan para wanita tersebut.

Isu mendasar dari ketegangan-ketegangan tersebut adalah harapan besarnya kekuasaan yang bisa dimiliki oleh sebuah institusi keagamaan, khususnya polisi keagamaan, “mutawwa”. Mereka berpatroli di jalan-jalan dan mal-mal perbelanjaan, memperingatkan para wanita untuk menutup wajah mereka dan para pemuda untuk bersembahyang. Hanya ada 47 wanita yang ngotot mengemudikan mobilnya sendiri. Dan terhadap hal ini seorang intelektual Arab Saudi menyeletuk: “Mari kita saksikan apa yang terjadi dengan mereka. Mereka dilemparkan pada serigala-serigala.” Pemerintah menghukum mereka sekejam mungkin sebagai peringatan bagi para pembangkang lain.

Tak pelak lagi, sebagian dari wanita pembangkang tersebut yang punya profesi sebagai dosen di salah satu Universitas di sana langsung dipecat atas perintah raja. Mereka, Beserta beberapa anggota keluarga mereka, dilarang meninggalkan kerajaan.

Mereka diperintahkan untuk tidak menjumpai para reporter Barat atau mendiskusikan keadaan mereka dengan orang luar manapun, dan mereka diperingatkan bahwa mereka akan diberi hukuman pembalasan berikutnya kalau mereka mencoba mengemudikan mobil lagi atau menggelar demonstrasi lain.

Biar bagaimanapun, perlakuan pemerintah atas para wanita tersebut masih jauh lebih baik daripada perlakuan institusi keagamaan terhadap mereka …. Lihat, dari atas podium politik kerajaan yang paling berpengaruh yaitu mimbar-mimbar mesjid, para fundamentalis Sheik mencela dengan keras para wanita tersebut. Dalam khotbah-khotbah Jum’at setelah peristiwa demonstrasi itu, para wanita yang terlibat dicap sebagai “anggota komunis merah”, “sekularis Amerika yang najis”, “pelacur dan wanita jalang”, “wanita rendah/nista”, dan “penganjur kebejatan moral”.

Nama, pekerjaan, alamat, dan nomor telepon mereka didistribusikan terbuka di sekitar mesjid atau di tempat-tempat umum lain dalam bentuk selebaran/pamflet.

Salah satu selebaran menuduh mereka sebagai orang yang murtad dari Islam, suatu perbuatan pelecehan agama yang pantas mendapat hukuman mati di Arab Saudi.

Sebagian daripada para wanita tersebut tetap tidak mau bertobat, karena meyakini bahwa persoalan mengenai status mereka akan disidangkan. “Persoalannya bukanlah mengendarai mobil”, kata salah satu dari mereka.

“Persoalannya adalah bahwa di Arab Saudi, saya hidup sebagai manusia dari puser sampai lutut”, (hidup hanya untuk melayani sex, hamil dan melahirkan anak saja).

Hukuman Yang Tidak Wajar Dan Kejam

Pemenjaraan tanpa proses yang selayaknya; penyiksaan; pembunuhan politik; pemotongan tangan, kaki; telinga, lidah dan kepala; mencungkil mata. Semua hal tersebut masih merupakan bagian dari hukum Islam sampai masa kini karena mereka merupakan bagian dari budaya Arab abad ke-7.

Dunia Barat memandang hal-hal seperti itu sebagai tindakan barbar dan tidak selayaknya mendapatkan tempat di dunia modern ini.

Kesimpulan

Islam jelas merupakan agama berdasarkan budaya Arab abad ke-7. Kalau hal ini tidak dimengerti dengan baik, tidak mungkin Islam dipahami secara benar.

Kalau pokok masalah yang mendasar ini tidak dipahami, orang-orang akan sulit mengerti mengapa orang-orang Muslim berpikir dan bertindak demikian. –

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar